Forum dan Feature

Potensi Rotan Konawe yang Hampir Dilupakan

 

Bahan Baku Melimpah, Namun Daerah Lain Punya Nama

Siapa sangka Kabupaten Konawe punya potensi lain yang tak kalah dari potensi beras. Potensi itu adalah rotan. Namun, seperti halnya padi. Konawe punya potensi, namun daerah lain yang punya nama.

Laporan : Sitti Marlina, Konawe

Daerah Jawa, terutama Cirebon memanen nama atas produk rotan yang dikirim secara gelondongan dari hutan-hutan di Sulawesi. Diantaranya adalah Kabupaten Konawe.

Jika saja pemerintah daerah tergerak membuka jalan bagi home industri anyaman rotan, hal ini tidak hanya akan mendongkrak nama Konawe. Namun turut mendorong kehidupan ekonomi masyarakat lokal dengan brand anyaman rotan asli Konawe.

Puluhan ton rotan lokal Konawe dieskpor setiap bulan untuk memasok kebutuhan pengrajin rotan di Jawa. Permintaan terbanyak adalah Cirebon.

Seperti dituturkan pengusaha Rotan Asal Konawe, Irawati Umar. Sudah puluhan tahun menggeluti bisnis rotan. Beberapa daerah yang menjadi tujuan pengiriman rotan adalah Cirebon dan Solo.

Sudah tiga generasi bergelut menjalankan bisnis jual beli rotan itu. Memang, satu hal yang membuat rotan Konawe begitu diburu oleh para pembeli karena kualitasnya. “Rotan dari Konawe dikenal kuat,” ungkap DPRD Konawe itu.

Ditangan pengrajin tanah Jawa, rotan asal Konawe disulap menjadi produk kerajinan mentereng. Nlai jualnya tentu menjadi berlipat ganda. Padahal, rotan dibeli di Konawe dengan harga yang biasa saja.

“Bisa sampai berlipat-lipat harganya. Sayangnya pemerintah dan masyarakat sini belum melihat ini sebagai potensi ekonomi menjanjikan,” ujar Irawati mengungkap keprihatinannya.

Di Cirebon, pemerintah setempat memberi akses dan ruang bagi warganya. Baik dalam hal peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) hingga pemasaran produk anyaman rotan.

Rotan diolah menjadi aneka produk furniture berkualitas seperti sofa, kursi dan meja hingga hiasan berupa vas bunga. Nilai jualnya meroket.

Nama Cirebon pun menjadi lebih terkenal dengan produk furniture berbahan rotan yang sejatinya banyak berasal dari Konawe.

Hal ini turut diakui pengrajin anyaman Rotan Cirebon yang kini dipercaya memegang UPTD Rotan Konawe, Akyani. Pak Yani biasa ia disapa, sejak tahun 2012 hijrah ke Konawe melatih pengrajin lokal di UPTD Rotan Konawe.

“Di Cerebon paling terkenal dengan produk anyaman rotan. Masyarakat hidup dari situ. Semacam home industri. Setiap rumah pasti bikin usaha anyaman. Tidak ada bahan rotan yang jadi sampah. Sampai yang sisa dijadikan bahan jualan seperti hiasan atau souvenir,” cerita Pak Yani.

Ia sendiri diajak ke Konawe menularkan ilmu anyaman rotan pada pengrajin lokal di UPTD Rotan Konawe. Tahun 2013, ia aktif mengajarkan teknis cara mengolah rotan menjadi produk furniture bernilai seni tinggi. Namun begitu, hanya sebagian kecil tergerak konsisten menjalankan usaha anyaman rotan.

“Di Cirebon itu banyak dari Rotan sini. Disini ada bahan baku tapi tidak ada tenaga ahli. Nah di Konawe diminta ajarkan bagaimana teknik mengolah rotan jadi kursi, meja. Bagaimana memoles biar hasil furniturenya bagus dan berkualitas,” terangnya.

Seandainya pemerintah tertarik melirik kerajinan anyaman rotan, kata Pak Yani, bukan tak mungkin produk anyaman rotan Konawe bisa turut bersaing dengan produksi kerajinan asal Cirebon.

“Untuk dalam negeri sudah bisa bersaing. Kalau ekspor luar negeri tinggal diperhalus lagi,” tambahnya.

Butuh komitmen dan kemauan dari pemerintah untuk bisa mengangkat produk anyaman rotan Konawe. Kata Yani, di UPTD Rotan peralatan mesin sudah sangat memadai mendukung produksi anyaman rotan.   Kendalanya terletak pada sisi pemasaran dan promosi.

“Produk anyamannya bisa kombinasi dengan daun pandan biar ada ciri khas Konawe. Tinggal dorong bagaimana promosi dan pemasarannya,” cetusnya.

Selain promosi dan pemasaran, anggota DPRD Konawe yang juga pengusaha rotan ini menimpali pemerintah perlu membuka akses pelatihan bagi pengrajin dan masyarakat lokal jika ingin mendorong industry di Konawe.

“Bahan baku kita siap. Hanya butuh skill. Perlu ada BLK (Balai Latihan Kerja) melatih masyarakat. Mereka bisa meningkatkan perekonomian dari sini kalau pemerintah membuka jalan. Dengan sendirinya Konawe bisa dikenal dengan brand anyaman rotan,” urai Irawati.

Ditengah keterlambatan pemerintah melirik potensi rotan lokal, komoditas kehutanan ini kini didera problema lain memprihatinkan. Keberadaan tanaman rotan saat ini tergerus bisnis kelapa sawit.

Areal hutan yang dulu menjadi lokasi perburuan rotan secara tradisional banyak beralih fungsi menjadi kawasan hutan sawit. Hal ini turut diakui Irawati Umar. Meski permintaan tinggi, PT Unaaha Indah dipegangnya tak mampu memenuhi keseluruhan order karena produksi rotan yang kian menurun.

“Dulu banyak dari hutan Konawe. Sekarang tinggal dari Asinua, Latoma dan Andabia. Kita dapatnya dari pengumpul disana. Kualitas rotan sini katanya jauh beda, lebih kuat,” terangnya.

Dulu, perusahaannya mampu menyuplai rotan ke tanah Jawa hingga 100 ton perbulan. Melimpahnya hasil bahkan membuat pihaknya kewalahan menampung hasil perburuan masyarakat. Sekarang ekspor rotan hanya berkisar antara 30 sampai 50 ton perbulan.

“Itu pun yang mentah. Belum digoreng,” ujarnya.

Keluhan serupa diutarakan pelatih anyaman rotan, Pak Yani.

“Bahan baku sekarang mulai kurang. Kadang ada orderan di UPTD tapi karena bahan baku belum siap, terpaksa harus menunggu,” akunya. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
To Top