Forum dan Feature

Wanita Perkasa dari Timur Konsel

Tangguh, Ibu Rumah Tangga Pilih Berprofesi Jadi Pemecah Batu
Bekerja sebagai pemecah batu memang tidaklah mudah. Apalagi kalau yang melakukannya adalah para ibu. Ibu yang mestinya mengurus keluarga di rumah, justru merelakan sebagian waktunya untuk bekerja di luar rumah. Hal ini dilakukannya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Laporan : Ajmain Yusdin, KENDARI

Siti (32), benar-benar perkasa, bagaimana tidak, siti yang umurnya masih terlihat muda ini, kini memilih bekerja sebagai pemecah batu di Desa Sanggula Kecamatan Moramo Utara.

Pekerjaan memecah batu bisanya dilakukan kaum pria, namun justru dilakoninya, batu gunung yang dipecahkanya selanjutnya akan dijual. Bongkahan batu besar dipecahkannya menjadi suplit, dengan cara manual (dipalu).
Untuk memecahkan batu gunung, hingga bernilai jual dibutuhkan perjuangan, dimana bongkahan batu yang besar harus di pecah-pecahkan terlebih dahulu, bahkan tak jarang terdapat bongkahan batu yang besar dan sulit dipecahkan.
Untuk batu yang sulit dipecahkan, maka dilakukan proses pembakaran terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam memecahkan batu.

Batu yang telah dipecah tersebut, kemudian dibawa kepada semua pekerja pemukul batu. Untuk pertruck batu dikerjakan dengan jumlah pekerja yang bervariasi, ada yang mengerjakan cuma satu orang ada juga dikerjakan dua orang atau lebih. Dirinya mengaku, tak jarang ia menghabiskan batu satu truck.

Ia juga mengaku tidak punya pilihan lain. Bekerja sebagai pemecah batu ini terpaksa dilakukan, untuk menghidupi dirinya dan dua orang anak.
“Memecahkan batu juga boleh dibilang sulit. Bahkan pertama kali saya mencoba, selalu tanganku jadi sasaran palu-palu,” ujarnya.

Dalam satu truck batu, jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi setelah dilakukan pemecahan batu-batu tersebut, barulah dirasakan betapa sulitnya memecahkan batu itu.

Untuk satu truck batu, dapat diselesaikan pemecahannya selama dua minggu lebih, bahkan terkadang sampai tiga minggu kalau dikerjakannya sendiri. Namun, jika dikerjakan secara beramai-ramai, maka dalam satu truck dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu lebih sampai dua minggu.
“Cepat tidaknya selesai tergantung jumlah pekerja yang memecahkan,” imbuhnya.

Untuk satu truck batu yang masih utuh dan belum diolah menjadi suplit seharga Rp. 350 ribu pertruck, dan setelah dibuat suplit maka, untuk satu truck seharga Rp. 600-650 ribu.

Batu gunung yang dipecah-pecahkan dalam ukuran kecil ini di sebut suplit. Batu suplit biasanya digunakan untuk pengaspalan jalan, dan membuat bangunan. Bangunan rumah, perkantoran, hotel, rumah toko (ruko), dan jalan yang hendak diaspal diberbagai daerah di Sultra termasuk di Kota Kendari tidak luput dari batu suplit asal moramo ini.

Meski dirasa sulit, dirinya juga mengaku tidak mau meninggalkan pekerjaan tersebut walaupun ada pekerjaan sampingan yang digelutinya yaitu bertani. Hal ini dinilainnya karena masyarakat pada umumnya di Desa tersebut didominasi oleh mereka yang tidak memiliki skill. **

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
To Top