Forum dan Feature

Cara Warga Suku Moronene di Desa Hukaea Laea Melestarikan Adat

 

Wanita Dilarang Menikah dengan Pria Luar, Jika Terjadi Harus Keluar Kampung

Zaman sekarang, pada umumnya diberikan kebebasan kepada pria dan wanita yang menjalin pernikahan untuk memilih tempat tinggal dalam membangun bahtera keluarga. Namun, tidak berlaku bagi suku Moronene yang mendiami Desa Adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana. Setiap masyarakat harus patuh dibawah hukum adat.

Laporan : AJMAIN YUSDIN, Bombana

Setiap berkunjung ke Bombana, ada beberapa tempat menarik yang perlu dikunjungi. Salah satunya desa adat Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya. Di desa ini, warganya masih memegang teguh adat istiadat.

Pada Kamis (25/8) lalu, terlihat jelas bumbungan rumah warga yang menyerupai rumah adat. Beberapa pengunjung selalu mengabadikan momen tersebut dengan berpose. Kental bernuansa adat, membuat orang banyak tertarik.

“Kami selalu menjaga adat di Hukaea ini agar tidak hilang,” ungkap Kepala Kampung Hukaea Laea, Mansur Lababa.

Dari jalan poros, perjalanan menuju ke Desa Hukaea Laea sekira 10 kilometer dan membutuhkan waktu selama 1-1,5 jam bila menggunakan mobil. Di desa tersebut, juga belum disentuh listrik sehingga masyarakat menggunakan genset atau lampu pelita untuk menerangi ruang rumah mereka.

Sesuatu yang unik di desa itu adalah sistem kekerabatan. Para wanita di Desa Hukaea ini diperbolehkan hanya bisa menikah dengan pria yang tinggal di lingkungan desa mereka. Jika diketahui ada wanita yang menikah dengan pria dari luar Desa Adat Hukaea Laea, maka tidak diizinkan tinggal di kampung adat tersebut sehingga harus keluar kampung.

Namun anehnya, itu cuma berlaku bagi wanita. Sedangkan pria diberikan kebebasan untuk mencari wanita, baik yang berasal dari Desa Adat Hukaea Laea maupun yang berasal dari luar.

“Pria dari Kampung Adat Hukaea yang menikah dengan wanita dari luar boleh tinggal di kampung ini. Peraturan ini adalah peraturan adat kampung Hukaea Laea yang harus di patuhi,” ujarnya.

Selain sistem kekerabatan yang aneh, jumlah penduduk juga dibatasi cukup 150 kepala keluarga dan tidak boleh lebih. “Itu sudah menjadi ketentuan hukum adat, dan sudah disepakati oleh semua warga masyarakat Hukaea Laea bahwa warga Hukaea cukup 150 kepala keluarga,” katanya.

Selain itu, tanah yang dikelola masyarakat bukan bersifat individu melainkan komunal (kelompok). Hal ini dilakukan untuk menjaga agar masyarakat tidak menjual tanah mereka. “Jika tanah yang dikelola bersifat individu maka bisa dipastikan akan terjadi penjualan tanah. Olehnya itu, tanah yang dikelola masyarakat bersifat komunal dan dibawah naungan hukum adat,” pungkasnya. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
To Top