Headline

Menperin Dicecar soal Harga Gas yang Tidak Turun-turun

Direktur Kemahasiswaan, Dirjen Belmawa Menristekdikti Didin Wahidin saat membuka Peksiminas XIII di Universitas Halu Oleo Kendari, Rabu (12/10).

Kenaikan harga gas yang beragam di masyarakat kini masih dalam pembahasan pemerintah. (Foto:Jufrianto/Rakyat Sultra)

JAKARTA, RSONLINE – Menteri Perindustrian (Men­perin) Airlangga Hartarto, ke­marin, menghadiri undangan rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk membahas soal masih mahalnya harga gas di daerah yang membuat banyak perusahaan di daerah menjerit.

Rapat kerja dengan Komite II yang membidangi masalah energi dan sumber daya min­eral dimulai sejak pukul 10.00 WIB di Gedung B DPD Lantai 3. Rapat dipimpin oleh Ketua Komite II DPD Parlindungan Purba.

Dalam rapat tersebut, Menper­in tidak datang sendiri. Politisi Golkar ini membawa anak buah­nya. Antara lain, Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elek­tronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Ketah­anan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Harjanto, Dirjen Pengemban­gan Perwilayahan Industri (PII) Imam Haryono, dan Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih.

Saat membuka rapat, Par­lindungan mengatakan, rapat dengan Menperin kali ini untuk membahas mengenai harga gas industri yang tidak turun-turun. Padahal, penurunan harga gas tersebut sudah masuk dalam paket kebijakan ekonomi yang di keluarkan oleh pemerintah.

“Namun, sayangnya harga gas masih tinggi sekitar 8-10 dolar AS per Million Metric British Ther­mal Units (MMBTU),” ujarnya.

Menurut Parlindungan, ma­halnya harga gas berdampak pada daya saing industri. Se­mentara, negara lain harganya lebih murah. Bahkan, kata dia, akibat mahalnya harga gas ini berdampak pada masuknya in­vestasi ke Tanah Air.

Padahal, untuk meningkatkan jumlah investasi yang masuk perlu diberikan kemudahan kepada investor. Salah satunya dengan memberikan harga gas yang murah.

Dia menambahkan, selama ini banyak pengusaha daerah yang menyampaikan keluhannya ke­pada DPD mengenai harga gas industri. Tingginya harga gas industri pun sangat membebani pengusaha pada berbagai daerah. “Sudah sangat banyak pengusaha yang melapor kepada kami. Itu jadi beban, apalagi bagi pengu­saha daerah,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta, Menperin selaku pihak yang me­naungi industri untuk membantu mempercepat penurunan harga gas industri. Apalagi Presiden Jokowi sudah memerintah su­paya harga gas 6 dolar AS per MMBTU.

Menperin mengatakan, terus berusaha agar harga gas in­dustri bisa turun secepatnya. Dengan turunnya harga gas akan membuat industri nasional lebih bersaing di pasar global. “Memang harus didorong (penu­runan harga) agar industri kita bisa bersaing. Salah satu yang dilakukan adalah harga di hulu harus mampu bersaing dengan negara lain,” kata dia

Dia mengakui, saat ini harga gas mencapai 9,5 dolar AS per MMBTU. Padahal, harga gas di Vietnam hanya 7 dolar AS per MMBTU, di Malaysia 4 dolar AS per MMBTU dan di Singapura 4 dolar AS per MMBTU.

Menperin menambahkan, Presiden Jokowi sudah member­ikan target kepada para menteri sektor ekonomi untuk menetap­kan harga gas industri di bawah 6 dolar AS per MMBTU. Salah satu caranya adalah dengan menurunkan harga gas di hulu 4 dolar AS per MMBTU. (rmol)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
To Top