Rakyat Sultra Online

Buton Raya

Warga Keluhkan Bantuan Bedah Rumah

Warga penerima bantuan bedah rumah melalui program BSPS

WAKATOBI – Sebanyak lebih 200 unit warga di dua Kecamatan, Wangiwangi dan Wangiwangi Selatan mendapatkan bantuan bedah rumah, melalui program Bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) tahun 2017 dari pemerintah pusat, sebesar Rp 15 juta per kepala keluarga yang diberikan dalam bentuk material bangunan.

Bantuan ini berlangsung dua tahap dan seharusnya telah tuntas pekerjaannya pada Desember 2017 lalu.

Namun hingga menjelang peetengahan Januari 2018 ini, masih banyak warga yang rumahnya belum kelar dikerjakan, sebab keterlambatan penyaluran material dari pihak penyedia yang ditunjuk.

Seperti dikeluhkan salah seorang warga Desa Liya Togo, Kecamatan Wangiwangi Selatan Wa Ode Mbei (Lansia) Bantuan bedah rumah yang diberikan kepadanya dinilai bukannya meringankan, namun malam membuat masyarakat kecil semakin menderita.

“Rumah terhenti pekerjaannya karena karena penyaluran bahan berhenti begitu saja, tanpa ada alasan,” ungkapnya, Selasa (16/1).

Keluhan yang sama diutarakan sejumlah warga Langgaha Baru, Desa Wungka, Kecamatan Wangiwangi Selatan. La Yai misalnya, ia mengaku sudah capek menunggu kepastian didatangkannya material.

Material bangunan yang dibutuhkan baru sebagian kecil disalurkan diantaranya, 1/2 kubik kayu balok, pasir, dan paku, 26 sak semen,1.272 batu bata.

Sementara yang belum tersalur sesuai kebutuhan diantaranya 20 lembar atap seng 10 kaki, 15 meter seng plat, dua kubik batu gunung dan 1/2 kubik lagi kayu balok.

“Sekitar Rp 9 juta lebih yang baru tersalur. Itupun dengan harga yang sangat tinggi. Tidak sesuai dengan harga biasa kami beli,” keluh La Yai.

Ditambahkan Wa Siti, warga desa yang sama, ia bersama keluarganya terpaksa tidur hanya beratapkan langit. Rumah miliknya terlanjur dibongkar atas desakan pihak penyalur material.

“Kami disuruh cepat bongkar supaya dibawakan bahan. Setelah selesai terbongkar sampai sekarang bahan belum juga datang. Kami tidur dirumah tidak beratap, kalau hujan saya bersama suami dan anak-anak terpaksa basah-basahan saja,”

“Kami belum dibawakan atap seng 35 lembar, seng plat 20 meter dan paku seng 3 kilo,” ungkapnya.

Hal serupa dialami La manggasa dan La Salihi. “Atap seng 61 lembar ukuran 10 kaki, kayu balok 1,5 kubik, seng plat 25 meter tambah paku seng,” papar La Manggasa.

“Yang baru tersalur pasir 12 ret, semen 45 sak, batako 550 buah, paku campur 3 kilo. Yang belum, kayu balok 1 kubik, 30 seng ukuran 10kaki, seng plat 25 meter, paku seng dan paku beton,” tambah La Salihi.

Dikonfirmasi, pengawas lapangan BSPS yang bertugas sebagai pihak yang mengawasi penyaluran material bantuan dari toko penyedia ke warga penerima, La Ota mengaku keluhan warga sudah beberapa kali disampaikan namun hingga sekarang belum juga tersedia.

“Tugas saya sebagai perpanjangan tangan antara warga dan toko penyedia bernama UD Mata Hora, hal ini sudah saya sampaikan tapi katanya nanti-nanti terus,” cetus La Ota.

Hingga kini, warga masih menunggu kepastian tersalurnya bahan yang dibutuhkan. Apalagi, pekerjaan tersebut sudah lewat dari batas waktu yang ditentukan, seharusnya semua pekerjaan telah rampung akhir Desember 2017 lalu.(p14/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Rakyat Sultra dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.
rakyatsultra apk




©2016 Rakyat Sultra by Fajar.co.id

To Top