Probiz

BI : Bahan Makanan Masih Picu Inflasi

Minot Purwahono

KENDARI – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Minot Purwahono menyebut, bahan makanan kembali memicu inflasi di Sultra. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,62 persen (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi sebesar 0,70 persen (mtm). Secara tahunan, Sultra mengalami inflasi sebesar 2,83 persen (yoy) atau berada dalam kisaran sasaran inflasi 2018 yaitu 3,5 persen ±1 persen (yoy).

Dia mengatakan, secara spasial, Kota Kendari maupun Kota Baubau kembali mencatatkan inflasi masing-masing sebesar 0,59 persen (mtm) dan 0,70 persen (mtm). Kelompok volatile food (VF) kembali memberikan andil bulanan terbesar kepada inflasi Sultra yakni sebesar (0,59 persen, mtm) sehingga secara tahunan tercatat sebesar 6,74 persen (yoy).

“Secara umum inflasi dari kelompok volatile food masih didorong oleh bahan makanan terutama komoditas jenis ikan, beras dan sayur-sayuran baik yang terjadi di Kota Kendari maupun Kota Baubau,” ungkap Minot dalam rilisnya, Minggu (4/2).

Dijelaskan, inflasi yang terjadi pada komoditas beras lebih disebabkan karena dampak dari peningkatan permintaan yang berasal dari pulau Jawa meskipun pasokan beras Sultra relatif stabil. Secara spasial, komoditas volatile food yang mempengaruhi inflasi Kota Kendari adalah bandeng/bolu, tomat buat, telur ayam ras, daging ayam ras, pepaya dan kembung/gembung walaupun di Kota Baubau ikan kembung/gembung justru menjadi salah satu penyumbang deflasi. Sedangkan di Kota Baubau, inflasi didorong oleh selar/tude, katamba, baronang, cumi, kangkung dan bayam.

“Peningkatan inflasi pada kelompok volatile food sedikit tertahan oleh deflasi pada sawi hijau di kedua kota tersebut, selain ikan ekor kuning, kacang panjang, kol putih/kubis, cabai rawit, bawah merah dan apel. Inflasi inti relatif terjaga yaitu sebesar 0,08 persen (mtm), menurun dibandingkan bulan lalu sebesar 0,20 persen (mtm). Beberapa komponen yang mempengaruhi inflasi inti Kota Kendari ialah jantung pisang, celana panjang jeans, sabun detergen bubuk/cair, dan celana panjang,” ucapnya.

Lanjutnya, untuk deflasi tersebut antara lain disumbang oleh deflasi yang terjadi pada harga angkutan udara di Kota Kendari maupun Kota Baubau masing-masing sebesar 1,28 persen (mtm) dan 7,59 persen (mtm) seiring dengan turunnya permintaan pasca musim liburan akhir tahun.

Dia menuturkan, dalam menyikapi perkembangan terkini dan memperhatikan risiko ke depan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra terus mencermati perkembangan harga yang terjadi dan mengevaluasi program yang telah dilaksanakan sebagaimana dibahas dalam High Level Meeting tanggal 17 Januari 2018.

“TPID juga tetap melakukan koordinasi untuk memastikan ketersediaan stok bahan makanan Sultra antara lain dengan mendorong kerjasama antar daerah dan pelaksanaan operasi pasar,” tutupnya. (p9/b/aji)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
To Top