Buton Raya

Pesona Air Terjun Kandawudawuna

Laporan: Syahrin, Buton

*Eksotisme Perawan di Tengah Hutan Lambusango

Festival budaya tua Buton bakal digelar dalam waktu dekat ini. Memanjakan pengunjung, Pemkab Buton banyak menyiapkan tempat wisata untuk dikunjungi. Satu rekomendasi yang cocok adalah Air terjun Kandawudawuna.

Siapa yang tak mengenal Pulau Buton, daerah penghasil aspal cukup besar di Indonesia. Nama ini masuk dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam saat kita masih pendidikan dasar. Tidak hanya itu, Buton mendunia juga karena keberadaan Hutan Lambusango. Hutan ini adalah benteng terakhir keragaman hayati Bioregion Wallacea. Sebuah wilayah unik di dunia, tempat bercampurnya tumbuhan dan binatang dari Asia dan Australia.

Di hutan Lambusango itu, terdapat pula pesona wisata alam air terjun, warga setempat menyebutnya “Air Terjun Kandawudawuna”. Tak kalah eksotis dari air terjun Niagara di Amerika Serikat. Terletak antara Desa Bukit Asri dan Desa Wondowolio Kecamatan Kapontori.

Lia Kamoi

Untuk mencapai tempat ini, butuh waktu satu setengah jam dari pusat Kota Baubau (dulunya ibu kota Kabupaten Buton) dengan menggunakan kendaraan roda empat. Sampai di perkampungan Wondo Wolio melalui jalan usaha tani. Untuk sampai lokasi air terjun kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kurang lebih dua kilometer atau satu jam menyusuri jalan setapak para pencari kayu menuju tengah hutan.

 

Sepanjang perjalanan menuju air terjun, kita bisa melihat monyet Asia seperti Andoke (macaca ochreata brunescens). Juga mendengar suaranya menyahuti suara-suara pengunjung yang diteriakan ala pemeran filem Tarzan. Di Lambusango masih dapat melihat Andoke berbagi hunian hutan dengan kuskus (ailurops ursinus), mamalia berkantong yang biasa ditemukan di Australia. Hutan Lambusango memiliki 21 satwa bertulang belakang seperti ikan, katak, mamalia kecil, kelelawar, bahkan primata yang hanya ada di Pulau Buton.

 

Bahkan, pengamatan burung rangkong, monyet, tarsius, juga anoa lebih mudah ditemukan daripada wilayah lain di Bioregion Wallacea. Tercatat ada sekitar 120 spesies burung ditemukan di hutan ini, 36 jenis di antaranya adalah endemik Sulawesi.

Hutan yang masih utuh ini terletak di jantung Pulau Buton, di mana seluruh daerah tangkapan air dari sungai-sungai yang mengalir ke Selatan berada di hutan ini. Data Dinas Kehutanan Kabupaten Buton tahun 2013 menunjukkan, Hutan Lambusango + 65.000 hektare berdasarkan status kawasannya, terdiri dari kawasan konservasi seluas 28.510 ha yang dibagi menjadi dua, yaitu Cagar Alam Kakenauwe + 810 ha dan Suaka Marga Satwa + 27.700 ha, sedangkan + 35.000 ha lagi merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi.

Rasa lelah menempuh perjalanan, terhibur suara-suara monyet, burung, dan pemandangan hutan yang masih alami dengan pohon-pohon besar dan tumbuhan liar lainnya. Belum lagi, canda dan tawa rekan dan sesama pengunjung yang tak berhenti sepanjang perjalanan.

Segala rasa pun terbayar setibanya di Air Terjun Kandawudawuna. Kesejukan air melupakan segalanya. Air terjun setinggi 30 meter dan bertingkat itu dialiri air sungai yang cukup deras mengobatinya.

Setiap mata akan takjub melihat indahnya ciptaan Tuhan ini. “Keren-keren,” decak kagum Yuni, seorang pengunjung. “Terbayar semua rasa lelah,” sahut pengunjung lainnya.

Hanya saja jika ingin ke permandian ini, jangan pada saat musim hujan karena jalan licin dan air sungai deras dan dikhawatirkan terjadi banjir. Di lokasi air terjun ini juga belum terlalu banyak mendapat sentuhan dari pemerintah setempat. Belum menjadi destinasi untuk tujuan wisata di Buton. Bagi anda yang ingin ke permandian masyarakat setempat siap untuk menjadi penunjuk jalan.

Hutan Lambusango, tidak hanya memiliki Air Terjun Kandawudawuna. Anda bisa singgah di Lia Kamoi atau Gua Kamoi sebelum menuju air terjun itu. Gua ini tepat berada di Kelurahan Wakangka, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton.

Tidak sulit mecapai lokasi gua, karena berada tepat di tepi jalan poros Kabupaten Buton. Konon, ditemukan ketika ada proyek pembuatan atau pelebaran jalan. Pengunjung yang datang, kebanyakan sebatas singgah karena rasa penasaran.

Begitu masuk ke dalam, pengunjung bakal berdecak kagum. Melihat batu gantung berwarna putih yang berbentuk kerucut atau disebut stalaktit. Itu batu kapur. “Wah keren. Coba foto saya di sini, di sebelah sana juga,” seru Ros, seorang pengunjung kepada rekannya.

Gua ini tak memanjang seperti terowongan. Tapi, berupa terowongan dan lubang di atas cukup besar. Bahkan di dalam gua terdapat tanaman atau pohon hutan liar. Keberadaan gua ini selalu ramai. Hampir setiap pengguna jalan yang melintas, ingin singgah dan menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Lia Kamoi (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Rumah Makan Union Kendari
To Top