-IKLAN-

Komisioner KPU Koltim Disidang

58
ilustrasi
ilustrasi

KENDARI – Komisioner dan staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kolaka Timur (Koltim) menjalani sidang kode etik di kantor Bawaslu Sultra, Senin (25/1). Sidang perdana itu digelar setelah Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) melaporkan mereka ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Ketua Panwaslu Koltim La Golonga mengatakan, aduan yang mereka sampaikan ke DKPP berawal saat dua tempat pemungutan suara (TPS) di daerah itu kekurangan surat suara. Kedua TPS itu adalah TPS 1 Peatoa Kecamatan Loea yang kekurangan sekira 100 lembar dan TPS 4 Putemata Kecamatan Ladongi yang kekurangan sekira 102 surat suara.

Saat terjadi kekurangan, staf KPU justru membawa surat suara yang berasal dari gudang KPU Koltim sekira 100 lembar ke TPS 1 Peatoa. Hanya saja, surat suara itu tidak bisa digunakan karena dianggap sudah melanggar.

Akibat ada kekurangan, Panwaslu Koltim akhirnya merekomendasikan pemungutan suara lanjutan (PSL) di dua TPS . Meski rekomendasi sudah dilaksanakan, Panwaslu Koltim tetap melaporkan masalah tersebut ke DKPP karena KPU Koltim dianggap lalai.

Koordinator Tim Pemeriksa Daerah Dr Ramli MPd mengungkapkan, dalam persidangan tersebut, alasan staf KPU membawa surat suara 100 lembar ke TPS 1 Peatoa tidak punya dasar yang jelas. Pihaknya juga sudah memeriksa komisioner KPU Koltim soal surat suara 100 lembar yang dibawa staf.

“Dari klarifikasi, ketua KPU dan komisioner tidak tahu mengenai urusan logistik. Sementara Sekretaris KPU Koltim mengatakan bahwa itu kewenangan pihak ketiga,” katanya.

Berita terkait

Dari persidangan, surat suara 100 lembar yang dibawa staf ternyata dikeluarkan oleh bidang teknis KPU Koltim. Anehnya, surat suara yang keluar itu tidak melalui pleno dan tidak melibatkan Panwaslu serta pihak kepolisian.

Keluarnya surat suara 100 lembar itu, katanya, merupakan inisiatif staf KPU bidang tekniss. Saat itu, mereka langsung mencari surat suara ke gedung KPU dan menemukan 100 lembar surat suara.

Setelah ditemukan, ada seorang staf yang membawa surat suara itu ke TPS 1 Peatoa.

Di TPS 1 Peatoa memang sempat kehabisan surat suara. Akibatnya, pemungutan suara di sana langsung berhenti.

“Tak lama kemudian, datang staf sekretariat, anggota panwaslu dan koordinator daerah ke lokasi. Tapi sejak start dari KPU, staf ini tidak menyatakan membawa surat suara 100 lembar. Nanti ketika ada di (TPS 1 Peatoa) baru dia sampaikan bahwa di tasnya ada 100 lembar surat suara,” ungkapnya.

Ramli menjelaskan, ratusan surat suara yang dibawa staf ke dalam tas dimasukkan Kepala Bidang Teknis KPU Koltim Nani Wijaya. Nani sendiri sudah dimintai keterangannya dalam sidang kode etik. Kepala Bidang Teknis KPU Koltim ini mengaku, ketika terjadi kekurangan surat suara, dirinya panik dan langsung mencari surat suara ke gudang.

“Di gudang dia menemukan surat suara 100 lembar,” jelas Ramli. (r6)

Komentar Pembaca
.