Penjual Es Pirsa Sepi karena Covid-19

144
Kondisi kompleks penjual es Pirsa sepi pengunjung sejak mewabahnya Covid-19.

 

TIRAWUTA – Penjual es pinggir sawah (Pirsa), demikian warga Kolaka Timur (Koltim) menyebutnya. Terletak di jalan poros Kecamatan Loea, tak jauh dari kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Koltim. Kini kompleks itu sepi sejak mewabahnya Covid-19.

Sebagian besar masyarakat, baik pedagang maupun konsumen kompak berhenti melakukan aktivitas jual beli. Padahal sebelumnya begitu ramai, puluhan penjual sibuk melayani pengunjung yang didominasi anak muda dan pengguna jalan raya.

Pantauan Rakyat Sultra, dari puluhan penjual yang biasanya melayani pembeli, dari pagi hingga sore hari, kini hanya 2 saja yang buka. Saat disambangi pada Minggu (12/4), tampak tak ada pengunjung lain.

Penjual pertama adalah D. Baji. Perempuan paruh baya yang tetap memilih berdagang karena mengaku tak punya kegiatan lain mencari nafkah demi menghidupi anak dan cucunya di rumah.

“Meskipun sepi pembeli, mau bagaimana lagi. Saya pribadi tetap harus menjual. Harus tetap buka,” ucapnya.

D. Baji bertutur, di hari-hari biasa, sebelum mewabahnya Covid-19, pengunjung sekira puluhan orang setiap hari menyambangi tempatnya. Sejak virus baru itu muncul, tiap hari tak pernah sampai 5 pembeli.

Berita terkait

“Terlalu sunyi sekarang. Saya jual es kelapa di sini. Kalau di tempat lain banyak aneka es. Di sini saya kasih harga 10 ribu satu porsi,” ujarnya.

Dari usaha es kelapanya itu, sebelum ada wabah Covid-19, D. Baji biasanya meraup omzet 200-300 ribu rupiah perhari. Namun kini tak pernah sampai Rp 50 ribu.

Sandra, penjual es lainnya mengeluhkan hal sama. Tempatnya yang diberi nama “Kedai Pink”. Menu yang dijualnya bermacam-macam, antara lain es buah, es teler, pop ice dingin, aneka jus, hingga gorengan.

Sandra mengaku, Covid-19 begitu memukul para pedagang es Pirsa. Ia pun bercerita, tanggal 20 Maret 2020 lalu, Kedai Pink terpaksa tutup. Tak hanya karena sepi pembeli, namun ia juga takut dengan wabah corona.

“Lihat orang asing lewat saja, saya sudah takut berinteraksi langsung. Makanya waktu itu saya diam diri di rumah. Tapi sekarang sudah hampir seminggu saya buka lagi,” katanya.
Sebelumnya, Kedai Pink biasa mendapat omset hingga Rp500 ribu lebih perhari. Saat ini rata-rata hanya Rp100 ribu rupiah saja. Ia pun berharap, wabah Covid-19 atau dikenal dengan virus corona itu secepatnya hilang.

“Sekarang jangankan pembeli, orang lewat saja sepi. Semoga ini semua pulih kembali, virus corona bisa hilang, bukan hanya di Koltim tapi di seluruh Indonesia,” tutup Sandra. (p1/b/aji)

Komentar Pembaca
   
.