-IKLAN-

“COVID-19 DALAM PERSPEKTIF PERANG ASIMETRIS MENGUASAI EKONOMI”

Oleh: HARYANTO, KETUA BIDANG PAO HMI CABANG KONAWE.

582
Harianto.

Terlebih dahulu saya sedikit memberikan pengantar bahwa episentrum serangan virus corona (covid-19) mematikan tersebut berasal dari Wuhan, Tiongkok, virus mematikan ini telah menelan banyak korban jiwa, khusus di Indonesia kasus ini mencapai 16.006 orang yang harus diisolasi sebagai salah satu cara untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 ini.

Tingkok adalah salah satu negara yang menguasai sektor ekonomi dunia, perang dagangnya seterunya  Amerika kini terlihat “mereda” atas munculnya virus corona ini, bahkan garis besarnya di tengah globalisasi ekonomi ini akan berdampak pada interaksi perdagangan, investasi, maupun kegiatan industri antara negara ke negara lain akan saling bergantung.

Nah inilah sedikit pengantar tentang pemahaman saya dalam menulis!, karena subtansi dari tulisan ini tidak lain untuk berbicara mengenai dampak ekonomi di Indonesia, terkhusus yang dinilai menjadi sarang tenaga kerja asing asal Tiongkok itu, negara yang menjadi sumber pertama virus mematikan itu muncul.

**

Beberapa waktu lalu negara Indonesia melalui Menteri Kesehatan RI banyak mengeluarkan pernyataan, tanggapan, serta solusi yang saya anggap Konyol!!!. Sebab, pertama kali munculnya  Covid-19 mematikan ini ke Indonesia, Menkes malah terkesan enteng menyebut orang Indonesia kebal virus berkat do’a, pernyataan yang sangat merendahkan nalar pengetahuan medis.

Maka wajar para diplomat barat cemas dengan penangganan virus corona di Indonesia, padahal ini sudah harus menjadi kebutuhan kritis mengingat umumnya Rumah Sakit di daerah masih terbatas yang memiliki alat pelindung diri menghadapi serangan virus.

Padahal pencegahan Covid-19  ini penting, karena tentu kita tidak ingin mengulang masa lampau seperti kasus SARS dan Flu Burung. Maka pemerintah tidak boleh main-main dalam persoalan ini.

Selanjutnya, melihat dari kaca mata kita dari sistem negara yang tak henti-henti dalam menghadirkan tenaga kerja asing dari Tiongkok, hal ini bisa berakibat fatal. Seharusnya liberisasi politik Indonesia harus menurunkan ego kepentingan, mengapa demikian? ini adalah salah satu cara untuk mengantisipasi perdangangan bebas serta memutus penyebaran Covid-19. Artinya kesejahteraan masyarakat di tengah pandemi akan terjaga. Pengganggu ekonomi kini makin beragam, tidak hanya datangnya dari aspek makro ekonomi bahkan dalam ekonomi domestik hingga kesehatan pun menjadi faktor determinan.

Mungkin yang nampak saat ini pemerintah justru terkesan sibuk, bukan pada masalah pencegahan penyebaran virus, namun pada sikap antisipasi mencegah menurunnya kinerja investasi sebagai dampak Covid-19. Ini terjawab dengan rencana kehadiran Tenaga Kerja Asing sebanyak 500 orang. Sementara dengan semakin menyebarnya virus ini, akan mengancam sektor ekonomi yang lebih parah, entah itu industri, investasi, perdangangan dan paling parah sektor pariwisata.

Pertumbuhan ekonomi indonesia pada tahun ini diprediksi mengalami penurunan, seiring dengan perlambatan ekonomi global, setidaknya ada beberapa aspek persoalan yang menganggu ekonomi global. Pertama, ketegangan AS dan Iran jika terus berlanjut bahkan menuju perang akan menganggu pasokan minyak mentah, sehingga dapat mendorong lonjakan harga minyak, Kedua, perang dagang AS dan Tiongkok yang belum mencapai kesepakatan, sekalipun sudah mengakhiri perang dagang. Ketiga, The Federal Bank Sentral Amerika agresif menaikan suku bunga, jadinya arus modal ke AS  mengalir deras dan negara berkembang kebagian “recehan”, bahkan memukul negara emerging market, seperti turki akan mengalami krisis.

Keempat, gelombang protes melanda Hongkong yang menolak UU Ekstradisi. Hal ini dapat menganggu investor, Hongkong salah satu sentra keuangan global, dan terbesar di Asia.

Melihat persoalan ini sebaiknya indonesia memiliki komitmen dalam penguatan ekonomi domestik, termaksud mendorong konsumsi rumah tangga. Karenanya stimulun fiskal sejatinya tidak menambah beban ekonomi masyarakat, dan rencana peningkatan pendapatan negara lewat kenaikan cukai kendaraan bermotor, cukai plastik dan listrik yang perlu dipikirkan secara matang.

Namun perlu juga di dorong di daerah lainnya untuk menggerakkan perekonomian. Harapannya, kebijakan ini dapat meminimalisir dampak virus corona yang menyakiti perekonomian domestik. Terlebih itu negara Indonesia adalah negara ketergantungan dalam proses produksi dan pemasaran yang memiliki data potensi aspek politik,  ekonomi, SDA, pariwisata, dan lain-lain.

Sekarang telah sampai pada pokok bahasan dari perang asimetris, sebelumnya perlu kita ketahui bahwa perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra-geografi, demografi dan sumber daya alam dan pancagatra- ideologi,politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam). Tetapi subtansinya adalah membahas Covid-19 dalam perspektif perang asimetris dalam menguasai ekonomi.

Sebelumnya kita perlu pahami, negara kedaulatan Indonesia ialah negara yang berkembang yang berusaha keluar dari ketertinggalannya, Indonesia memiliki sebuah kekayaan alam yang luar biasa yang patut kita jaga bersama, sehingga inilah yang menjadi alasan isu tentang negara-negara lain berusaha untuk menguasai sektor-sektor ekonomi, sosial, budaya maupun politik karena alasan kekayaan alam negara kita yang melimpah.

Ada tiga sektor serangan asimetris yang saya coba kaji. Pertama, dalam sektor politik hukum, betapa tidak negara gencar dengan pembasan UU Omnibus Law yang dianggap memberikan keleluasaan buat investor merajalela.

Kedua, dalam sektor Sosial-Budaya, hal ini membuat konflik antara mazhab, intoleransi terbukti di tengah pandemi tempat umum, bahkan dengan cara mengenal tuhan pun ikut terbatasi.

Ketiga dalam hal ini serangan asimetris di sektor kesehatan misalkan, kasus Namru-AS dan Manipulasi WHO dan AS terhadap Virus H5N1. Keduanya terbongkar pada tahun 2007-2008 semasa Siti Fadila Suparti menjabat sebagai Menteri Kesehatan, tentunya pemerintah mesti belajar di masa lalu untuk tetap menjaga keutuhan kedaulatan negara. Tapi saat ini kita akan lebih fokus membahas Covid-19 di sektor kesehatan.

Dalam perspektif perang asimetris disini saja coba mengkaji beberapa skenario besar yang tengah  dijalankan . Mengapa skenario besar ? karena sifatnya mengglobal, antar negara bahkan lintas benua. Pola tahapan dalam perang asimetris hampir jadi keniscayaan ialah : “Isu-Tema-Skema” atau biasa di singkat ITS. Itulah pola perang asimetris. Isu ditebar, selain berguna melihat reaksi publik, kacaukan situasi, membuat panik warga dan pemerintah, juga isu sebagai pintu pembuka dari skenario yang hendak di gelar.

Isu yang coba dibuat adalah tentang hadirnya Covid-19 ini yang sebelumnya kita bahas, dengan adanya Covid-19 ini telah berhasil membuat kepanikan sampai turunnya dinamika sosial ekonomi dst. Panic buying misalnya, merupakan bagian sasaran antara dari isu yang disebar. Karena pascakepanikan, biasanya tema/agenda akan diluncurkan. Dan Tema, selain kelanjutan dari sebaran isu, maka sifat dan warna tema merupakan penebalan kondisi dari (isu) situasi sebelumnya. Tema yang coba di jalankan adalah membuat negara mengambil kebijakan untuk melakukan Lockdown, untung saja pemerintah tidak sampai melakukan Lokdown. Karena berdampak pada negara yang ketergantungan pada negara lain, bisa menciptakan kerusahan sosial, terutama kelempuhan ekonomi baik mikro maupun makro, tentunya utang negara akan lebih mudah terjadi.

Ketika isu dan tema/agenda berjalan sukses, maka lazimnya skema bakal ditancapkan. Skema dalam pola perang asimetris merupakan ujung atau tujuan dari skenario yang dihempar. Seperti halnya konstalasi geopolitik, bahwa skema dalam perang asimetris adalah (geo) ekonomi, entah berupa penguasaan ruang, pengendalian ekonomi moneter oleh adidaya tertentu akibat pasar saham berguguran atau monopoli dibidang tertentu, hingga hidden program depopulasi. Ketika catatan kecil ini terbit, geoekonomi yang belum tercapai mungkin tinggal dua aspek, yaitu (1) Vaksin Antivirus, (2) Gelontaran utang dari lembaga keuangan global.

Kesimpulan perang asimetris berisu covid-19 yang kini gaduh, sesungguhnya bagian dari peperangan geopolitik para adidaya, dimana ujungnya adalah perebutan geoekonomi. **

 

Komentar Pembaca

-IKLAN-

.