Guru Honorer Berjibaku di Tengah Pandemi

137
Guru honorer di PAUD Waode Gusi saat mengajar di rumah siswanya, belum lama ini. Foto: IST

Meski pemerintah mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah, namun tidak demikian bagi sebagian guru honorer di berbagai daerah di Sultra. Pasalnya, ada beberapa pendidik non-PNS yang justru harus berkunjung ke rumah siswa masing-masing demi memberi bekal ilmu pengetahuan.

Sayangnya perjuangan mereka mendidik anak negeri tidak seimbang dengan gaji yang diberikan oleh negara.

Sina Sri Gemilang (22) tiba-tiba bergumam saat ditanya bantuan dari pemerintah. Guru honorer itu hanya bisa pasrah karena tak diberi bantuan meskipun dirinya cukup terdampak akibat pandemi virus Corona.

Meski bantuan tak kunjung datang, namun semangat untuk mendidik siswanya tak pernah pudar. Wanita beranak satu ini merupakan guru honorer di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Waode Gusi yang terletak di Desa Lelamo, Kecamatan Kulisusu Utara, Kabupaten Buton Utara.

Sebelum virus Corona merebak di Indonesia, ia selalu mengajar siswa di kelas. Namun kondisi berubah setelah virus berbahaya mulai menyebar. Saat ini, sekolah mengharuskan siswa untuk belajar di rumah.

Kendati program belajar di rumah digalakkan, namun guru honorer ini masih harus bekerja. Pasalnya, mereka harus mengajar siswa di rumahnya masing-masing. Jarak rumah siswa pun paling jauh sekira empat kilometer dari kediamannya.

“Jadi kami mengajar siswa di rumahnya itu hanya satu minggu sekali atau setiap Senin,” ungkapnya saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (12/5/2020).

Mengajar siswa di rumahnya masing-masing kadang tidak semulus yang diperkirakan. Sebab ketika guru berada di rumah siswa, muridnya yang justru tidak berada di rumah.

“Siswa di sini punya orang tua yang bekerja sebagai petani. Jadi kalau orang tua pergi ke kebun, mereka ikut. Jadi kadang kala kalau kami ke rumahnya, siswa tidak ada. Akhirnya kami pulang saja,” akunya.
Pihaknya pun tidak bisa membuat janji kepada beberapa orang tua. Pasalnya, ada beberapa orang tua siswa yang belum memiliki handphone. “Kadang kita sudah buat janji. Tapi ketika kami ke rumahnya, siswanya tidak ada di rumah karena ikut orang tua ke kebun,” bebernya.
Mengajar siswa di rumah masing-masing sudah ia laksanakan sudah tiga pekan. Tentu ada perbedaan ketika mengajar siswa di kelas dan di rumahnya masing-masing.

“Kalau mengajar di kelas kan semua siswa bisa terkumpul. Tapi kalau mengajar di rumah, kadang siswanya tidak ada di tempat karena mereka ikut orang tua ke kebun,”ucapnya.

Meski mengajar setiap Senin dalam sepekan, namun media pembelajaran yang mereka bawa cukup banyak. “Jadi kami bawa banyak media belajar ketika mengajar. Setelah proses belajar usai, kita beri tugas ke siswa dan nanti pekan depannya lagi dikumpul,” akunya.

Materi belajar yang diberikan kepada siswa pun bervariasi. Untuk di kelas A, siswa diajar penjumlahan, pengurangan dan mewarnai. Sementara di kelas B, siswa dituntun belajar membaca dan berhitung.

PAUD Waode Gusi sendiri terdiri dari dua kelas yakni kelas A dan kelas B. Kelas A merupakan siswa yang baru masuk sebanyak 10 orang, sementara kelas B sekira 15 orang. Sehingga total siswa di PAUD tersebut sekira 25 orang.

Guru yang mengajar di sekolah swasta itu pun ada empat orang. Sehingga mereka berbagi tugas dalam mengajar siswa. “Jadi kami selalu memencar ketika akan mengajar siswa,” ulasnya.

Sina sendiri mengajar di sekolah itu sejak April 2019. Alumni Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari pun mendapat honor Rp 700 ribu sebulan dari dana desa.
Dana itu pun biasanya tidak dibayar tiap bulan melainkan per empat bulan atau lima bulan.

“Tergantung dari dana desa. Kalau dananya sudah keluar, kami pasti gajian. Kalau belum keluar, kita belum gajian,” bebernya.

Selama mengajar di masa pandemi virus Corona, ia selalu menggunakan kendaraan menuju rumah siswa masing-masing. Ia pun hanya mendapat uang tansportasi sebanyak Rp 100 ribu sebulan untuk mengajar siswa ke rumah masing-masing. Uang itu merupakan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD.

Karena itu, ia berharap supaya pemerintah tidak memangkas anggaran BOP PAUD meski pandemi virus Corona masih berlangsung. “Kami dengar, anggaran BOP PAUD ini akan dipotong. Makanya kami sangat berharap supaya tidak ada pemotongan anggaran,” pungkasnya. (rir/aji)

Komentar Pembaca
   
.