Saat PHK Dimana-mana, JBM Bombana Justru Pekerjakan Ribuan Warga Lokal

118
Perusahaan Tambang JBM Bombana.

BOMBANA, RS – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) disejumlah perusahaan kini tengah melanda sejumlah negara, termasuk Indonesia akibat pandemi Covid-19. Namun hal itu tidak terjadi di perusahaan tambang PT. JBM Bombana

Direktur Utama (Dirut) PT JBM Arief turut menanggapi realitas dunia usaha yang tengah goyah akibat pandemi.

“Badai corona ini membuat Amerika harus berhutang Rp 46 ribu triliun. Sebagian besar hutang bukan untuk menghadapi Corona, tapi untuk menyelamatkan keuangan perusahaan-perusahaan yang mulai rontok bersamaan” ujar Arief, Senin (18/5)

Menurut Arief, Eropa sendiri menggalang dana hampir Rp 2 ribu triliun untuk menyelamatkan ekonomi mereka.
“Jadi jangan anggap remeh resesi ekonomi kali ini. Karena seperti kita pernah obrolkan dulu, virus membunuh beberapa orang tetapi resesi ekonomi bisa menghancurkan sebuah negara,” ujarnya.

“Inilah masa-masa menakutkan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Produksi berhenti, ekonomi hancur, orang ketakutan. Dampak besarnya adalah jutaan orang kehilangan pekerjaan”, imbuhnya.

Arief menambahkan, para pengusaha di Indonesia bahkan sudah warning, mereka hanya bisa bertahan terakhir di bulan Juni saja.
“Kalau Juni mal-mal masih tutup, kantor-kantor tidak boleh kerja maka banyak perusahaan bangkrut. Dan untuk menyelamatkan keuangan banyak perusahaan itu, butuh dana ribuan triliun rupiah. Hancurlah kita,” kata Arief.

Dengan demikian, ujar Arief, hal ini membuat kita paham kenapa Jokowi harus melonggarkan ikatan dari ketakutan terhadap corona. “Kita tidak bisa hidup dalam ketakutan terus, harus mulai bergerak untuk melancarkan nadi perekonomian kembali. Itulah kenapa transportasi publik setahap demi setahap dibuka. Juni sekolah-sekolah harus kembali aktivitas. Kantor mulai bergerak”, katanya.

Khusus PT. JBM Bombana, meski banyak perusahaan melakukan PHK, JBN justru melakukan rekruitmen tenaga kerja, baik direc maupun on direc.

“Untuk direc baik kebun atau pabrik sebanyak 1.200 orang. Sekarang masih 700 orang on direc untuk tenaga panen dan tanam ada lebih 3.000 tenaga kerja”, ujarnya.

Untuk itu, Arief mengajak semua pihak bisa memberi semangat untuk pengusaha agar terus semangat untuk mampu memberi sumbangsih bagi perekonomian dan kesejahteraan rakyat

“Mari memberi ruang bagi pengusaha untuk terus bergerak menghadapi tantangan dan tidak mengorbankan ruang gerak pengusaha untuk hal-hal tidak relevan sehingga menambah beban pengusaha yang akhirnya berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang makin menyengsarakan rakyat”, pungkasnya. (rs)

Komentar Pembaca
   
.