Derita Pedagang Pasar Laino

Terbakar di Tengah Wabah Covid-19, Masih Berutang di Bank, hingga Terancam Bangkrut

279

 

 

 

Puing-puing kios milik pedagang pasar Laino

 

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini menggambarkan suasana hati ratusan pedagang Pasar Sentral Laino yang sedang dirundung duka akibat musibah kebakaran yang menghanguskan 627 kios pada Jumat dini hari (5/6/2020) sekitar pukul 01.00 Wita dini hari

Laporan: ISRARIAWATI, Raha

Belum selesai wabah Covid-19 menghantam perekonomian pedagang yang ditandai menurunnya jumlah pembeli, kini ratusan pedagang harus kehilangan barang dagangan akibat kebakaran.

Ratusan pedagang ini sehari-hari menggantungkan kehidupannya dengan berjualan di Pasar Sentral Laino, jantung perekonomian masyarakat Muna dan sekitarnya. Ada yang menjual pakaian, pecah belah, sembako, sayur mayur, hand phone hingga aksesoris.

Namun roda perekonomian mereka kini kandas. Barang dagangan yang ditaksir bernilai ratusan miliar ini tak bisa diselamatkan dari amukan si jago merah yang merubah bentuk gugusan kios-kios semi permanen menjadi puing-puing yang rata dengan tanah.

Guratan lelah dan mengantuk terlihat jelas dari wajah para pedagang yang hingga Jumat (5/6/2020) pagi masih terlihat mengais sisa-sisa kebakaran. Diantara mereka ada yang mengais seng-seng bekas kios yang masih tersisa untuk kembali digunakan.

Tak ada kesedihan yang berlebihan di wajah mereka, para pedagang cukup kuat menerima cobaan hidup yang membawa mereka ke jurang kebangkrutan.

Betapa tidak, seluruh modal sudah dicurahkan untuk membeli barang dagangan yang ternyata tak banyak diselamatkan dalam peristiwa kebakaran itu. Lebih fatalnya lagi, modal yang diputar untuk berdagang rata-rata adalah pinjaman dari Bank dan lembaga pembiayaan.

“Saya pasrah saja, ini namanya cobaan, semoga Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Apa boleh buat, saya sudah berusaha menyelamatkan barang-barang di jalan raya, tapi api juga merayap sampai di jalan dan membakar barang yang sudah dikeluarkan dari kios,” kata salah seorang pedagang yang akrab disapa Bapaknya Nasrul.

Kendati kondisi barang dagangannya tak ada yang bisa dijual kembali, namun ia mengaku tak putus asa. “Saya akan tetap jualan, karena kita menyambung hidup dengan berjualan,” ucapnya.

Peristiwa kebakaran ini lanjut Bapaknya Nasrul, menjadi ujian berat bagi dirinya dan keluarganya, sebab untuk menjalankan usahanya menjual keranjang, plastik dan sapu, ia mengaku punya pinjaman di Bank. “Kerugian sekitar Rp 100 juta,” sebutnya.

Ia berharap pihak-pihak terkait dapat memberikan bantuan dan dukungan bagi pedagang korban kebakaran untuk memulihkan ekonominya. “Kalau ada bantuan yah alhamdulillah, kalau tidak ada juga tidak apa-apa kita bersabar saja,” ucap pria yang usianya mulai sepuh ini.

Demikian pula dengan pedagang sembako yang akrab disapa Bapaknya Intan. Ia mengaku pasrah dan ikhlas menerima cobaan ini. Seperti para pedagang pada umumnya, pria yang menderita kerugian sekitar Rp400 juta ini mengaku masih memiiki pinjaman kredit di bank.

“Pinjaman saya di bank sekitar lima bulan lagi, kemudian saya juga berpikir soal cicilan mobil. Sekarang saya berpikir bagaimana caranya bisa memulihkan ekonomi setelah peristiwa kebakaran ini,” ucapnya.

Terkait harapan adanya bantuan dari pemerintah, Bapaknya Intan bersyukur jika ada perhatian dari pemerintah. “Kalau ada bantuan, kita bersyukur,” katanya.

Ia tetap bertekad melanjutkan usahanya untuk berdagang apapun kondisinya. “Saya tetap jualan, karena kita hidup dengan jualan,” kata pria yang sehari-hari berdagang sembako ini (distributor). (*)

Komentar Pembaca
   
.