Dibantu Sembako, Sejumlah Masyarakat Baubau Malah Tak Nyaman

Mereka Diberi Sembako Tak Layak Konsumsi

321
Laode Yasin

 

BAUBAU- Pendistribusian sembako sebagai bantuan sosial dampak Covid-19 oleh Pemerintah Kota Baubau yang tak layak konsumsi mendapat kecaman dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Baubau. Bantuan sosial yang harusnya membuat nyaman masyarakat akibat kebijakan lockdown justru dicoreng dengan penyediaan sembako yang tak layak konsumsi kepada masyarakat terkena dampak virus mematikan itu.

Anggota DPRD Kota Baubau, Laode Yasin menuturkan pihaknya telah mendapat informasi atas penyuplaian sembako oleh Pemkot Baubau melalui agen penyedia sembako di salah satu kelurahan di Kota Baubau yang diprotes warga. Atas dasar itu, pihaknya kemudian melakukan investigasi dan akan menggelar rapat bersama Pemkot Baubau guna mempertanyakan bansos yang tidak berprikemanusiaan itu.

“Jangan sakiti masyarakat kita dengan kebijakan pemberian sembako yang tidak layak konsumsi seperti ini. Harusnya kita manjakan mereka (masyarakat, red) di tengah lesunya perekonomian ini agar mereka bisa mempertahankan kehidupan perekonomian rumah tangganya,” tuturnya.

Kata dia, kebijakan pemberian bantuan sembako diyakini pihaknya bukanlah salah satu kebijakan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Baubau. Pemberian bansos sembako tersebut justru akan memberikan dampak saling curiga bahkan menjurus ketidak percayaan masyarakat kepada Pemkot Baubau.

“Masyarakat kita ini semua pintar dan tidak ingin dibodoh-bodohi dengan bansos ini. Mereka tahu harganya berapa bansos yang disalurkan itu. Pada akhirnya masyarakat curiga karena dari hitung-hitungannya tidak mencukupi dengan dana yang disediakan Pemkot Baubau sebesar Rp 500 ribu untuk setiap paket bansos yang disalurkan saat ini,” tambahnya.

Dari hasil kalkulasi pihaknya, diyakini bansos tersebut tidak mencapai jumlah uang yang dibebankan daerah kepada masyarakat Kota Baubau yang terkena dampak Covid-19. Di mana, beras dengan berat 36 kg, telur 1 rak dan minyak goreng sebanyak 2 liter tentu tidak setara dengan kucuran anggaran yang telah disediakan.

“Dari pada beri mereka (masyarakat,red) bantuan sembako lebih baik beri mereka uang tunai agar dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhannya. Karena bisa jadi masyarakat kita di rumahnya masih memiliki beras, minyak, telur sementara kebutuhan pokok lainnya itu tidak dapat dipenuhi. Jadi dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) mereka bisa membelanjakannya untuk pemenuhan kebutuhannya,” jelasnya.

 

Salah seorang warga Baubau yang merasa kecewa atas sembako yang disalurkan oleh Pemkot Baubau yang tak layak konsumsi, Jumat (29/5/2020). FOTO: Suharlin/Rakyat Sultra.

 

Sebelumnya, warga Kelurahan Wangkanapi Kota Baubau berbondong-bondong mengepung kantor Kelurahan Wangkanapi untuk mempertanyakan pembagian beras yang tak layak konsumsi itu. Padahal, warga telah berharap lebih kepada Pemkot Baubau untuk mendapatkan perhatian ditengah pandemi virus corona di Kota Baubau.

“Beras yang dibagi ini tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Beras yang menjadi bantuan sosial oleh Pemkot Baubau ini layaknya dijadikan makanan ternak bukan untuk kami,” singkat La Saleh, salah seorang warga Kelurahan Wangkanapi Kota Baubau. (m2/b/aji)

Komentar Pembaca
   
.