Perekat Kepton Bakal Memolisikan Pembakar Replika Pocong Ali Mazi

357

 

Perwakilan Keluarga Besar Ali Mazi, Hamidu (kedua dari kiri) bersama pengurus Perekat Kepton Syaiful (kiri), Suharmin (kedua dari kanan) dan Edy Darwin Ismail (kanan). Foto: Herdy.

 

KENDARI – Kalangan Akademisi dari Perkerabatan Masyarakat Kepulauan Buton (Perekat Kepton) mengecam keras aksi pembakaran replika pocong bertuliskan Ali Mazi oleh sejumlah elemen mahasiswa saat aksi menolak Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok ke Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Selasa (23/6/2020).

Hal ini disampaikan langsung, pengurus Perekat Kepton Edy Darwin Ismail bersama perwakilan Keluarga Besar Ali Mazi saat menggelar konferensi pers, Jumat (26/6/2020).

Edy menilai aksi pembakaran replika pocong itu sebagai tindakan yang arbitrer, bar-barian, koersif, liar, inkonstitusional dan hanya layak dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal etika, moralitas dan peradaban.

“Itu semua telah mencoreng nilai demokrasi, melintasi batas-batas kebebasan bertindak dan secara gamblang melanggar nilai HAM itu sendiri. Kami mengutuk perbuatan itu dan meminta pihak Polda Sultra untuk melakukan tindakan hukum pada pelakunya jika tak ada itikad baik meminta maaf,” ungkapnya kepada sejumlah awak media.

Seharusnya, kata Edy, dalam menjalankan aksinya, elemen mahasiswa bisa memposisikan Ali Mazi sebagai Gubernur Sultra, tidak menyerang pribadi. Ali Mazi selaku Gubernur Sultra bisa dikritik jika memang ada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dianggap tidak pro terhadap rakyat.

“Keluarga Ali Mazi menyampaikan ke kami bahwa mereka merasa tersinggung karena sudah menyebut nama secara personal Ali Mazi dan itu dianggap penghinaan terhadap keluarganya,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan Keluarga Besar Ali Mazi, Hamidu mengungkapkan, pada prinsipnya pihak keluarga maupun masyarakat Buton pada umumnya tidak merasa keberatan terhadap aspirasi yang disampaikan semua orang, asalkan tetap tunduk dan patuh terhadap aturan.

“Namun, ketika teman-teman turun di lapangan menyuarakan apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat. Ternyata melampaui batas yang berdampak terhadap aksi pembakaran replika pocong Ali Mazi. Kami keluarga merasa terhina, tersinggung dengan perilaku itu. Kami akan menempuh jalur hukum bagi mereka-mereka yang melakukannya,” tegasnya.

Hamidu yang juga Kuasa Hukum Ali Mazi meminta agar pelaku pembakaran replika pocong Ali Mazi untuk segara meminta maaf. Pihak keluarga, sambung Hamidu, ingin menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan asalkan ada itikad baik dari para pelaku.

“Kami berikan waktu 2×24 jam untuk mereka meminta maaf, apakah itu di muka umum ataupun di media sosial. Tetapi jika tidak ada itikad baik maka kami akan menempuhnya melalui jalur hukum. Melaporkan hal ini ke pihak kepolisian,” tuturnya.

Ditempat sama, Syaiful yang juga pengurus Perekat Kepton menambahkan bahwa persoalan mayat merupakan persoalan yang sangat sakral, sehingga saat replika pocong muncul atas nama pribadi, membuat ketersinggungan bagi pangguyuban Perekat Kepton.

“Kami di Buton persoalan hidup mati itu sesuatu yang sakral. Jadi menyinggung itu sama menghina pribadi dan ini rawan bisa memicu Sara di Sultra. Jika mengedepankan rasional, kebijakan dan bukan menyinggung nama pribadi itu bukan persolan,” ujar Syaiful

Menurutnya, pembuat replika pocong merupakan provokator yang harus ditangani secara hukum.

“Pihak kepolisian harus cepat mengamankan ini, apakah mau di mediasi untuk meredam persoalan ini. Kita sama-sama ingin kondisi Sultra tetap nyaman, aman dan kondusif, tapu kalau ada tindakan-tindakan yang bisa memicu konflik sosial itu bahaya,” pungkasnya. (r6/b/aji)

Komentar Pembaca
   
.