PT NLS Diduga Serobot Lahan Warga

Ganti Rugi Lahan Warga Tidak Sesuai Prosedur

331
Salah satu sungai yang digali sebagai akibat dari tambang PT NLS.

 

KENDARI – PT. Naraya Lambale Selaras (NLS) masuk di Kabaena Timur dan melakukan eksploitasi tahun 2019 dengan menyatakan lama beroperasi sekitar 6 bulan namun saat ini sudah beroperasi selama kurang lebih satu tahun.

Salah satu warga Kabaena Timur, Lasiadi k mengungkapkan bahwa PT. NLS saat ditanya tentang AMDAL seolah mereka menghindar. Dia merasa aneh jika ada perusahan tambang yang beroperasi tanpa menganalisis dampak lingkungan padahal tambang tersebut mengolah di atas perkebunan warga.

“Ketika saat musim hujan kira-kira bulan 2, Cekdam PT. NLS itu pecah dan lumpur PT. NLS itu mengenai kebun warga masyarakat Dongkala dan Lambale di Bolobungka (nama kawasan perkebunan), lahan kebun saya rusak parah bahkan kini sungai sudah membelah kebun, jambu sudah tidak subur lagi bahkan sudah mau mati hal ini diduga karena hamparan lumpur PT. NLS,” ungkapnya saat dihubungi melalui telepon selularnya, Jumat (26/6/2020).

Dia menuturkan, awal April 2020, pihaknya melapor setelah melihat kebun masyarakat rusak parah dan ada endapan lumpur di sekitar kebun, kemudian sempat perusahaan memeriksa kebun tersebut setelah itu diadakan rapat pada bulan Ramadan 1441 Hijriah.

“Dari hasil rapat, perusahaan menawarkan Rp100.000/meter untuk ganti rugi lahan warga. Saat rapat ada yang belum disepakati yaitu masalah teknis pengukuran atau indikator pengukurannya,” ucapnya.

Beberapa hari kemudian, lanjutnya, PT NLS melakukan pengukuran bersama masyarakat yang terkena dampak, kemudian setibanya di kebun pihak perusahaan masih mendiskusikan tentang teknis pengukuran, saat itu dirinya sempat mengusulkan untuk yang parah dampaknya di kali 10 meter dan yang tidak parah disesuaikan saja.

“Kemudian saya tinggalkan tempat pengukuran tersebut, kira-kira 10 menit kemudian saya dipanggil oleh pihak PT. NLS untuk mendiskusikan karena pihak perusahaan menerima seperti apa yang saya usulkan,” sebutnya.

Dia menyesalkan PT. NLS menawarkan pengukuran yang tidak sesuai dengan kesepakatan rapat dengan masyarakat sekitar. Mereka juga yang batalkan dan saat pengukuran kedua pihak PT NLS tidak mau kompromi dengan pemilik lahan.

“Mereka mengukur dengan arogan tidak mau membicarakan baik-baik bahkan ada kebun warga yang tidak ada orangnya, tidak disurati tiba-tiba kebunnya sudah di ukur. Ini memang aneh PT. NLS seperti sedang mempermainkan masyarakat,” ucapnya.

Dia menambahkan, ada juga warga yang terkena dampak mengatakan bahwa kebunnya diukur tanpa diketahui dan tiba-tiba disuruh tanda tangan persetujuan bahwa kebunnya diganti rugi dengan uang Rp11 juta. Ini aneh belum diukur sudah dibayar kalau pengukuran 10 meter dari sungai pasti setuju tapi kok tidak ditau kapan diukur dan berapa luas ukurannya.

“Pengukuran belum selesai semua, pihak PT. NLS mendatangi rumah-rumah warga satu persatu untuk menawarkan harga Rp. 50.000. Kemudian ada salah satu warga atas nama Ladanu mengatakan belum setuju tetapi pihak PT. NLS mengatakan Ladanu sudah setuju. Saya hanya heran permainan macam apa lagi yang mereka mainkan. Kami hanya berpegang pada tawaran saat rapat mereka, namun pihak perusahaan mengingkari,” tutupnya. (r5/b/aji)

Komentar Pembaca
   
.