-IKLAN-

Taman Baca “Measalora”, Ikhtiar Kecil Berliterasi

87


Oleh: Achmad Taurus*)

 

Gagasan “Desa Membangun”, merupakan percikangerakan kolaboratif menuju Desa Mandiri, Sejahtera dan Demokratis. Kehadiran Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) dan Program Inovasi Desa mengemban amanah tersebut, guna mewujudkan desa berdayadari segi teknokratik maupun politik untuk tujuan besar UndangUndang Nomor 4 tahun 2014 tentang Desa.

Teknokratik mengandung makna pemerintah dan masyarakat desa kapabel dalam membangun sistem perencanaan, penganggaran sampai pelaksanaan program pembangunan desa. Secara politik, tersirat makna bahwa desa menjadi berdaulat dalam mengelola kewenangan yang diberikan oleh negara.

Pemerintah Desa Langkema, Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara mengartikulasikan aspek teknokratis dan politik tersebut dengan menghadirkan taman baca untuk menghidupkan literasidesa. Tujuanawalnya sederhana dan mulia:menghidupkan budaya membaca dan kecintaan pada bukukepada anak usia sekolah,sertamengalihkan kebiasaan mereka bermain game di smartphone.

Bangunan taman baca initergolong unik dan inovatif karena berdiri diatas saluran air atau drainase, dimana tiang penyanggah bangunan dipasang diatas badan drainase.Dibangunnya taman baca ditempat tersebut, karena lahan kosong sangat terbatas dan nyaris tidak ada lagi tempat untuk membangun sarana publik. Taman Baca ini diberi nama “Measalora”yangdibangun melaluiDana Desa sebesar Rp. 52.413.000 Tahun Anggaran 2019.

Secara filosofis, hadirnya taman baca “Measalora”mengindikasikan bahwa Pemerintah Desa Langkema telah mengayuh di antara dua orientasi,yakni berinovasi dibidang pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) danmelestarikan warisan yang membanggakanatas tokoh pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara: “semua tempat adalah sekolah”.

Melestarikan warisan pengetahuan yang terinterpretasikan melaluiliterasimerupakan upaya penyiapangenerasi unggul. Dalam konteks berdesa, pembangunan SDM sebagai Way of Life,dimana sistem nilai dan normadalam masyarakat harus terus tumbuh sesuai dengan kebutuhan warga desa, serta tuntutan zaman.

Bila literasi bagian dari way of life, maka sasaran dari taman baca diarahkan untuk menggairahkan tradisi membaca kepada anak usia sekolah,yang tidak dapat dipisahkan dari jadwal keseharian mereka.Sehingga kesadaran berliterasi bukan sebagai ritual individualistik an sich, tetapi sebuah gerakan meneguhkan cakrawala berfikir dan kecakapan hidupyang dimulaisejak dini.

Daoed Joesoef dalam “Bukuku Kakiku”mengatakan, demokrasi hanya akan berkembang di suatu masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar pendengar dan gemar berbicara.

Menyadari kondisi tersebut,Muhammad Irham selaku pengelola taman baca, terus menerus melakukan sosialisasi dari rumah-kerumah tentang manfaatdan keutamaaan membaca buku bagi anak-anak.Selain itu pengelola giat melakukan kampanye literasi untuk mendapatkan bantuan buku gratis dari berbagai pihak. Mengelola rumah baca untuk program desa literasiselain ketekunan, juga diperlukan ide-ide kraetif.

Bila dirunut kebelakang, literasi mengalami perkembangan cepat baikbentuk dan konsepsinya, sehingga pengelola rumah baca harus menyiapkan kapasitas terkait dengan instrumen perubahan tersebut. Bagaimana kiranya pemerintah dan masyarakat Desa Langkema menginisiasiprogram ini, agar taman baca bukan sekedar monumen fisik semata?

Tentu, secara paradigmatik mendorong terpenuhinya bahan bacaan yang dapat menyasar semua segmen usia, profesi dan latar belakang lainnya. Harapannya adalah, agar warga desa dapat mengembangkan diri, baik secara nalar dan sosiologis, meningkatnya kualitas SDM, serta sanggup melahirkan karya-karya inovatif yang berpengaruh bagi mereka darisisisosial, ekonomi dan budaya.

Membangun SDM membutuhkan kesabaran, karena merubah pola pikir dan menumbuhkan kesadaran adalah ujian istiqomahyang berat. Tidak seperti pembangunan fisik, melahirkan generasi baru dengan kecerdasan dan berkarekter Akhlakul Karimah adalah perjuangan nurani yang melelahkan, sehingga sinergitas stakeholder desa untuk mendorong rutinitas ilmiah tersebut sangat dibutuhkan.

Sinergitas tersebut diikhtiarkan menjadi “narasi publik”,yang menjadi pijakan fikir bersama mefasilitasi masyarakat desa agar pro aktif dalam mengembangkan literasi desa dan menggerakan tamanbaca sebagai media penghubung bagi sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai andil mendukung program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Gerakan Literasi Nasional.

Pekerjaan rumah yang menanti adalah, bagaiamana keberlanjutan pengelolaan taman baca dan literasi desa tetap eksis?Ada beberapa poin yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat desa melawan nada keraguan “Kencang diawal, Kendor diakhir”. Langkah tersebut antara lain:

1. Mendorong peningkatan kapasitas pengelola taman baca;
2. Memanfaatkan media sosial untuk melakukan kampanye dan penciptaan networking. Media sosial merupakan jendela untuk berbagai pembelajaran tentang pengelolaan taman baca dan literasi desa, sekaligus menjangkau kelompok peduli dan donatur;
3. Membentuk kader-kader literasi desa, yang dapat membantu tugas-tugas pengelola taman baca. Mereka sebegai relawan dalam merawat taman baca dan pelopor regenerasi;
4. Adanya pertemuan mingguan atau bulanan (misalnya pertemuan “rabuan atau kamisan”), dimana jadwal dan tempat disepekati bersama. Pertemuan ini dilakukan untuk membuka ruang diskusi tentang kondisi kekinian dan merangkum ide-ide konstruktif dalam pengelolaan taman baca dan gerakan literasi desa;
5. Melakukan festival untuk menyemarakan literasi desa yang pembiayaannya dapat melalui Dana Desa atau sumbangan dari pihak ketiga.

Ikhtiar kecil melalui taman baca dapat menghapus stigma keterbelakangan dan ketertinggalansejalan dengan adanya pemahaman literasi yang baik bagi komunitas-komintasdi desa, sehingga masyarakat desa menjadi garda terdepan dan faktor penentu majumundurnya gerakan literasi. (*)

*Tenaga Ahli Pendamping Masyarakat (TAPM) P3MD Bombana

Komentar Pembaca
.