Luhut Binsar Pandjaitan: Kalau Lockdown, Sudah Bubar Kita Sekarang!

74
Luhut Binsar Pandjaitan

 

Luhut B. Pandjaitan menggambarkan dirinya sebagai pekerja cermat. Ia tak percaya julukan ‘Lord’ untuknya akan membuat pekerjaannya cepat beres. Atau, lebih tepatnya, ia tak percaya jika satu urusan itu akan selesai tanpa koordinasi semua pihak. “Harus melibatkan semua. Biar tuntas,” ujarnya.

Julukan ‘Lord’, ‘The Real RI 1’ atau ‘Menteri Segala Urusan’ memang menyemat pada sosoknya. Ia dianggap mengurusi semua pos di pemerintahan. Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi ini pernah masuk jajaran topik teratas Twitter dengan tanda pagar:

#LuhutSudahMelampauiBatas.

Syahdan, sulit untuk tidak membicarakan Luhut, karena ia sering jadi berita utama. Belum reda berita tentang Said Didu yang ia tuntut minta maaf, muncul isu Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina pada masa pandemi Covid-19 ini, yang juga menyeret namanya.

“Itu yang kurang kerjaan. Saya bilang, pergi saja ke sana. Lihat langsung. Bener enggak,” tutur Luhut menjawab soal TKA Cina itu saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Andreas Yemmy di kantornya, Gedung BPPT 1 Lantai 3, Jakarta Pusat, Rabu siang (15/7/2020), seperti dikutip dari katadata.com, Sabtu (18/7/2020).

Dus, duduk dengan kaki menyilang, ia bicara banyak tentang investasi pada masa pandemi hingga ekspor benih lobster, tanpa menyadari tangannya bergerak otomatis menutup bibir sesekali dan menguap.

“Bapak baru dari Istana dan tidak berhenti rapat tiap hari. Lagi capek,” bisik salah satu stafnya.

Berikut tanya jawab kami:

Masuk masa transisi PSBB, apakah hal itu berdampak berarti terhadap investasi ke Indonesia?

Dampaknya bagus ya. Kita sih optimis banget. Yang kita takut itu jika ada second wave (gelombang kedua pandemi). Semoga enggak ada.
Kalau ada second wave, aduh. Dampaknya enggak bagus. Kasihan rakyat.

Second wave ini bakal membuat ekonomi kita lebih tertekan lagi?

Tergantung. Kalau semua disiplin, mestinya enggak ada gelombang kedua. Saya sih takut soal disiplin rakyat kita. Kadang-kadang ceroboh, suka mengentengkan. Jangan lah begitu.

Makanya saya bilang, masyarakat yang disiplin itu ajak lah yang kurang disiplin. Supaya disiplin juga.

Di tengah pandemi, investor asing mana yang tertarik untuk berinvestasi di Indonesia?

Banyak. Dari Abu Dhabi sedang berjalan. Lalu Singapura, Amerika, Cina dan Jepang juga jalan. Saya ini baru saja bicara dengan pihak METI Jepang (Ministry of Economy, Trade and Industry (METI).
Basically mereka itu lirik Indonesia karena kita ini tempat investasi yang bagus. Apalagi, oleh World Bank, kita sudah digolongkan jadi negara dengan status Upper Middle Income Country, dari Lower Middle Income Country.

Status ini meningkatkan investasi?

Ya tentu. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh kita bisa manfaatkan status ini. Ndak gampang lho menaikan Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia menjadi US$ 4.050 dari US$ 3.840. Ndak gampang.

Indonesia bisa mengejar status High Income Country?

Itu yang harus jadi target kita. Lihat nanti, apakah kita bisa capai itu beberapa tahun ke depan.
Tapi, kalau kita ndak kompak, rakyatnya ndak kompak, suka baca berita-berita yang enggak benar, yang rugi kita semua kan.

Maksudnya?

Begini. Menurut saya, pemimpin-pemimpin dan para intelektual, harus bisa jaga diri. Jaga komentar yang tidak berdasarkan data.
Pemerintah itu gak mungkin mau menyengsarakan rakyatnya sendiri. Bodoh kalau pemerintah melakukan itu. Enggak mungkin.
Kecuali (pembodohan) itu datang dari pihak-pihak yang belum pernah di pemerintahan dan ngarang-ngarang. Saya enggak tahu deh.

Kira-kira kapan recovery ekonomi Indonesia akan bisa berjalan?

Berkaca dari Singapura, mereka malah resesi…
Singapura technically sudah masuk resesi ya. Nah, kita jangan sampai ke situ.
Padahal mereka ini menyalurkan stimulus sekitar Rp1000 triliun untuk kurangi dampak pandemi Covid­-19. Tapi tetap saja resesi. Nah kita ini baru Rp500 triliun. Coba bayangkan.
Size kita ini jauh lebih besar. Tapi mereka masih kena resesi juga. Jadi, kita itu harus betul-betul kompak untuk menjaga negara ini.
Harus sama-sama menjaga dalam situasi seperti sekarang. Tidak boleh kita remehkan. Walaupun posisi (ekonomi) kita cukup baik, tapi kan bisa berubah tiap saat.

Apa indikatornya perekonomian Indonesia itu cukup baik?

Lihat saja, inflasi kita terjaga. Engine of growth kita juga berjalan. Kemudian stimulus untuk mengurangi dampak Covid-19, sudah mulai jalan.

Investasi yang masuk?

Ya investasi asing tadi juga sudah mulai masuk. Kalau ini jalan semua, lalu ditambah speed-nya, maka kita masih bisa plus. Dengan catatan tidak ada gelombang kedua pandemi pada tahun ini.

Sebenarnya apa yang membuat investor asing tertarik dengan Indonesia?

 

Indonesia itu dianggap negara penuh harapan. Apalagi kalau RUU Omnibus Law nanti selesai. Itu mempermudah kita melakukan harmonisasi antar kementerian dan lembaga. Karena selama ini handicap-nya banyak.
Dulu, peraturan di kementerian A dibuat dengan tidak koordinasi dengan kementerian B, sehingga terjadi tutup menutup. Akibatnya investor agak susah masuk.
Sebab itu Ease of Doing Business (Indeks Kemudahan Berbisnis Bank Dunia) di Indonesia ratingnya jelek. Makanya akan dibuat harmonis dengan adanya Omnibus Law.

Tapi kan masih belum harmonis dengan buruh…?

Ini untuk semua kok. Termasuk perburuhan. Biar buruh lebih menikmati ke depannya. Jangan salah lho ya.
Orang selalu menafsirkan kalau Omnibus Law merugikan buruh. Ya ndak mungkin. Kita bikin peraturan kan untuk buruh juga.
Nah, kalau semuanya bagus, maka Ease of Doing Business-nya akan baik. Sekarang kan Indonesia berada di nomor 70 ya (peringkat indeks kemudahan berbisnis).
Jika aturannya jadi, saya kira kita bisa nomor 50 atau mungkin lebih baik dari itu.

Kapan Omnibus Law selesai?

Kita berharap pada parlemen yang mudah-mudahan mengesahkannya pada bulan Agustus.

Apakah status Upper Middle Income Country adalah beban?

Apalagi akan ada perubahan perlakuan lembaga internasional kepada kita, yang misalnya dianggap mampu bayar bunga dengan rate lebih mahal…

Kenapa beban?

Memang sudah seharusnya begitu kan. Mereka (Bank Dunia) punya parameter. Saya kira bagus dan justru memacu kita untuk lebih maju. Itu adalah pengakuan untuk negara ini.
Tapi capaian itu kan belum melihat perlambatan ekonomi akibat Covid-19 pada 2020, hanya memperhitungkan indikator ekonomi sampai 2019.

Akan terkoreksi lagi?
Yang jelas kita jauh dari resesi kalau melihat indikator-indikator kita sekarang. Tapi kalau kita tidak hati-hati, bisa saja kena. Singapura saja kena.
Ada pengaruh resesi

Singapura ke Indonesia?
Ya. Jangan dianggap enteng saja. Mereka itu sudah mengeluarkan Rp1000 triliun lho. Orang bilang kita harus lockdown-lockdown. Untungnya enggak. Kalau melakukan lockdown, bisa bubar kita sekarang.
Sebab itu kita bikin lockdown gaya Indonesia, yaitu PSBB. Dan PSBB itu dipuji sama IMF dan Bank Dunia. Langkah kebijakan kita dianggap bagus.

Bukan karena pemerintah enggak punya uang untuk menerapkan karantina?

Ini bukan hanya soal duit dan ndak. Tapi soal efektifnya. Itu yang jadi pertanyaan. Kan enggak efektif juga lockdown. Kalau enggak efektif buat apa.

“Presiden melihat ada beberapa menteri yang belum baik.”

Apakah harus ada perubahan struktur ekonomi untuk menyertai kenaikan status Indonesia ini?

Sebenarnya, kita disiplin saja dulu. Asal 80-90 persen disiplin, kita bisa lewati pandemi ini. Kalau ekonomi kan tetap jalan seperti yang saya jelaskan tadi.

Tapi kita ini masih saja ribut-ribut sama hal-hal yang enggak perlu diributin.

Misalnya?

Banyak. Salah satunya tentang TKA (Tenaga Kerja Asing). Isunya itu bawa TKA kemari akan mematikan pegawai di sini.
Lah, memang kita gila. Mereka itu kita undang untuk bikin lapangan kerja.
Kemarin itu, TKA datang sebanyak 300 orang, untuk menyiapkan lapangan kerja sebanyak 5000 orang.

Mungkin jadi polemik karena pengangguran di sini kan meningkat saat pandemi namun TKA justru datang…? 

Ya tadi. Mereka itu datang untuk menciptakan lapangan kerja. Kemarin baru ada tanda tangan antara pemerintah daerah Konawe (dengan Industri Virtue Dragon).
Yang kayak begitu kan terjadi di mana-mana.
Di Bintan misalnya. Sekarang itu TKA-nya ada 700 tapi tenaga kerja dari Indonesia ada 5000 orang. Nantinya akan menciptakan lapangan kerja untuk 20 ribu orang. Ini kan proses.

Tapi hal ini dipertanyakan terus beberapa pihak yang menganggap pemerintah berpihak pada TKA Cina?

Itu yang kurang kerjaan. Saya bilang, pergi saja ke sana. Lihat langsung. Bener enggak. Begitu. Eh enggak mau.
Kadang-kadang kita pikir, ini orang sebenarnya mau negerinya maju atau tidak.

Anda terganggu?
Capek lah meresponsnya. Tapi ya nanti generasi kamu yang merasakannya. Kalau gak memulai, kita akan seperti dulu, enggak pernah akan masuk ke dalam apa yang disebut global supply chain.
Saat ini kita diperhitungkan. Karena kita selalu mengedepankan value added. Enggak mau lagi asal ekspor.

Produsen baterai litium itu sudah ada di sini. Siapa yang bisa lawan kita. Cost kita lebih murah. Cost listriknya juga lebih murah. Bahan materialnya ada di sini dan banyak.

Oke. Ramai juga soal Presiden Jokowi yang marah-marah. Apa yang terjadi?

Beliau marah sama koordinasi yang kurang baik atau kurang maksimum. Misalnya antara BI, OJK, LPS, keuangan dan banyak lagi. Sekarang sih sudah lumayan membaik.

Situasi membaik pascapresiden marah-marah?

Iya. Karena semua terkejut. Presiden itu mengingatkan. Ini adalah masa krisis. Jadi kamu bekerja juga dengan gaya krisis. Bukan kerja dalam keadaan damai. Begitu kira-kira.

Maksud dari kutipan perasaan yang tidak sama dari Presiden Jokowi itu apa?

Itu tonggaknya. Kalau kamu masih bekerja business as usual ya bagaimana. Kau pikir ini keadaan normal. Padahal ini kan keadaannya enggak normal.

Beberapa menteri masih bekerja business as usual?

Hmm. Ya saya enggak bisa menipu. Presiden melihat ada beberapa menteri yang belum baik. Fokusnya pada koordinasi yang belum terlalu baik di antara mereka.

Bagaimana menanggapi julukan “Lord” yang sering disematkan untuk Anda?

Saya tahu itu. Saya enggak mengerti juga itu apa. Yang jelas saya mengerjakan tugas dengan cermat–yang diberikan oleh presiden.

Dianggap mengurusi semua hal di
pemerintahan?
Kalau dibilang saya ngurusin semua ya enggak. Tapi kan suatu urusan itu tidak bisa dikerjakan parsial. Harus mengaitkan semua, biar tuntas.
Satu contoh adalah LRT. Banyak yang terlibat di sana. Ada Kementerian Perhubungan yang di bawah saya, tapi mau gak mau saya juga harus mengundang Kementerian ATR, Pemda Jakarta, Pemda Jabar dan banyak lagi.
Jadi, untuk menyelesaikan satu urusan, ya harus holistik. Ya sudah, semuanya saya undang untuk melakukan koordinasi.
Ada juga yang bilang ngapain Anda mengurusi sektor UMKM segala…
Ya karena Menparekraf itu ada di bawah saya. Kalau Wishnutama (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) bilang kita buat sesuatu, ya kita buat (UMKM).

Lalu UMKM kan kerja sama dengan Menteri Koperasi. Ya akhirnya mengerjakan bareng juga. Karena saya yang tertua, ya saya yang mengatur. Begitu aja.

Itu sebabnya Anda dianggap menteri segala urusan ya?

Yang penting kan tuntas. Kalau tidak terintegrasi seperti itu tidak akan tuntas. Presiden itu maunya eksekusi kalau konsepnya sudah bagus.
Kurang-kurang sedikit, bisa sambil jalan, ya kita perbaiki.

Kalau urusan ekspor benih lobster yang disorot publik bagaimana?
Soal lobster itu Pak Edhy yang tahu. Yang saya tahu dia membuat kajian-kajian soal benih lobster ini. Ada kelompok kerja yang berisi ahli-ahli untuk jadi dasar kebijakan itu.
Nah kebijakan itu adalah buah dari kajian-kajian para ahli itu.

Tapi Tempo mengulas tentang adanya politisi di balik perusahaan-perusahaan ekspor benih lobster itu…? 

Enggak tahu saya kalau itu. Saya pikir Edhy orang baik dan dia melakukan tugasnya dengan baik.
Lah kalau ada politisi yang punya uang dan bikin perusahaan pertanian ikan kan boleh-boleh saja. Asal semua prosesnya sesuai prosedur.

Perusahaan-perusahaan itu didominasi politisi partai tertentu?
Ya saya enggak tahu. Enggak juga lah. Bukan satu partai saja saya lihat.

Baik. Bagaimana dengan kasus dugaan pencemaran nama baik oleh Said Didu terhadap Anda. Masih berlanjut?
Waktu itu kan sudah dilaporin ke polisi. Itu ranah hukum. Terserah.

Tidak dimaafkan saja?
Kalau jantan, dia minta maaf. Kalau dia enggak minta maaf ya silakan saja nanti di pengadilan. Saya malah lupa kasusnya.

Kenal secara pribadi dengan Said Didu?
Saya mungkin pernah ketemu. Tapi saya enggak kenal sama dia.

Hanya dua tahun lebih muda dari umur Ma’ruf Amin, tapi Anda tampak lebih fit dan bugar…? 

Ha-ha. Ya saya ini olahraga dan jangan punya pikiran jahat. Tiap hari saya lari 50 menit di atas treadmill, dan kalau sedang libur saya sempatkan berenang. (katadata)

Komentar Pembaca
.