Dugaan Penggelapan 91 Dump Truck Terkuak, Korban Alami Kerugian Besar

355
Korban penggelapan kendaraan yang didampingi oleh pengacaranya Abdul Syahir SH (kiri) usai menyampaikan keterangan kepada awak media di salah satu kafe di Kendari, Jumat (7/8/2020) .

 

 

KENDARI – Kasus dugaan penggelapan 91 alat berat dump truck yang dilakukan tersangka Abdul Rahman (29) warga Desa Lawekara, Kabupaten Kolaka Utara masih bergulir di Kepolisian Daerah (Polda) Sultra.

Kini, beberapa korban yang dikelabui oleh tersangka mulai bersuara. Mereka pun mendukung penyidik kepolisian mengusut kasus tersebut. Dukungan itu disampaikan pengacara beberapa korban, Abdul Syahir SH

Syahir merupakan pengacara yang ditunjuk oleh tujuh korban penggelapan yang dilakukan Abdul Rahman. Ketujuh kliennya itu mempunyai sembilan alat berat dump truck. Bahkan, ada satu kliennya yang memiliki tiga unit dump truk dan yang lainnya masing-masing satu unit.

Menurut Syahir, ketujuh kliennya sudah melaporkan tersangka Abdul Rahman ke Polda Sultra dalam kasus penggelapan dan penipuan. Ia pun menjelaskan modus pelaku sehingga bisa mengelabui korban.

Beberapa bulan lalu, katanya, korban menyewakan alat beratnya kepada pelaku Abdul Rahman. Waktu itu, pelaku berdalih ingin menyewa kendaraan korban untuk digunakan kegiatan bisnis pengangkutan tanah timbunan galian C di Kabupaten Kolaka. Besaran biaya sewa kendaraan yang harus dibayar Abdul Rahman pun bervariasi setiap bulan. Ada yang Rp 17 juta per bulan untuk satu unit dan ada pula yang Rp 18 juta dan Rp 20 juta per bulan satu unit.

Dalam perjanjian, pelaku akan menyewa mobil korban selama enam bulan. Nahasnya, selama enam bulan berlalu, mobil korban tak kunjung kembali. Bahkan ketika Rahman sudah diamankan oleh polisi, kendaraan milik korban belum juga diketahui keberadaannya.

Di awal-awal bekerja sama, pelaku masih sempat membayar biaya sewa kendaraan sesuai perjanjian. Namun beberapa bulan kemudian, pembayarannya macet. Kliennya pun sudah pernah meminta agar kendaraannya dikembalikan. Namun sampai sekarang, keberadaan mobil korban tak kunjung diketahui.

Ia mengaku kalau ketujuh kliennya mengalami kerugian yang amat besar. Sebab untuk biaya sewa yang tidak dibayar pelaku jumlahnya sekira Rp 717 juta. Kerugian ini belum termasuk mobil dump truck yang dilarikan oleh pelaku yang hingga kini belum diketahui rimbanya.

Menurutnya harga satu alat berat dump truck yang dimiliki kliennya berkisar Rp 500 juta per unit.

Karena itu, pihaknya mendukung rencana Polda Sultra yang akan melakukan pencarian terhadap 91 kendaraan dump truck tersebut. “Semoga dari 91 kendaraan itu, ada sembilan kendaraan klien saya yang bisa didapatkan,” akunya.

Dia berharap kejahatan yang dilakukan Abdul Rahman tidak dibiarkan begitu saja. Soalnya kelakuan pelaku sangat merugikan kliennya.

Menurutnya sembilan dump truk milik kliennya itu ada yang sudah dilunasi dan ada pula yang masih dicicil. Kini, kliennya yang melakukan cicilan dump truck terus mendapat tagihan dari pihak leasing.
“Tetapi, kami tidak akan masuk ke situ. Fokus kami mengawal kasus hukum ini,” bebernya.

Saat ini, pelaku Abdul Rahman sudah ditahan oleh Polda Sultra. Para korban pun sangat mengapresiasi tindakan kepolisian yang sudah menahan pelaku. Mereka juga mendukung upaya kepolisian yang ingin mencari kendaraan milik korban yang dibawa lari oleh pelaku.

Meski begitu, Syahir meminta kepada Polda Sultra agar tidak hanya fokus pada pengejaran terhadap barang bukti tetapi turut menelusuri aset pelaku.

“Saya yakin, pelaku ini punya rekening bank yang isinya, mungkin dalam jumlah banyak. Saya harap, rekening ini disita oleh Polda Sultra dan polisi perlu melihat berapa jumlah nilai rekening yang dimiliki pelaku. Dari sitaan uang di rekening itu, kita harap bisa membayar kerugian biaya sewa klien saya yang jumlahnya Rp 717 juta. Proses inilah yang juga akan kita dorong di Polda, selain dari proses hukumnya,” pungkasnya. (rir/aji)

Komentar Pembaca
.