-IKLAN-

Jejak La Ode Teke (Modi Latandowuna) dan Keturunannya Dalam Menyiarkan Islam di Kerajaan Konawe (Bagian 1)

311
Alquran tulisan tangan peninggalan La Ode Teke bin La Ode Husaeni (Modi Latandowuna).

 

 

KENDARI – Alquran kuno berusia ratusan tahun yang ada di Kediaman H Abdul Gani (Moh Gande/Lagande) di Desa Lalonggaluku Timur, Kecamatan Bondoala, Konawe di taksir menjadi alquran tertua yang ditemukan di Sultra.

Alquran tulisan tangan tersebut menjadi bukti sejarah pengislaman kerajaan Konawe di masa pemerintahan raja (Mokole) Konawe yang ditinggalkan oleh La Ode Teke dan diwariskan kepada keturunannya.

 

Berdasarkan penelusuran berbagai sumber termasuk sumber langsung yakni keturunan, La Ode Teke merupakan Imam/ulama utusan Kesultanan Buton untuk melakukan syiar Islam di Kerajaan Konawe yang secara resmi menjadi Kerajaan Islam di masa pemerintahan raja (Mokole) Lakidende atau Sangia Ngginoburu.

 

Hal ini diutarakan oleh H. Amirullah S. Ip, MBA, M. Ap yang merupakan anak dari H Abdul Gani atau Lagande/Moh. Gande. Dirinya bersama saudara-saudaranya merupakan generasi ke lima dari La Ode Teke.

 

Dirinya menuturkan jika La Ode Teke berdarah Tiworo-Buton. Ayahnya bernama La Ode Husaeni yang sejak kecilnya hidup di Labora, Muna dan setelah dewasa La Ode Husaeni diangkat menjadi Kapitalao di Kesultanan Buton yang pada akhirnya menjadi Raja Muna (Lakina Wuna) ke-16 dengan gelar Omputo Sangia.

 

La Ode Husaeni menikah dengan Waode Walimono, anak Sultan Buton, Saqiuddin Da’rul Alam atau dikenal dengan nama La Ngkariri/Oputo Sangia. La Ode Teke bin La Ode Husaeni dilahirkan kurang lebih tahun 1735.

 

“Menurut penuturan Almarhum ayah kami Haji Abdul Gani bin Lawulo (Lagande) dan Almarhum paman kami, Letnan Dua (Purn TNI AD) H. Achmad Bin Lawulo (Laduna) yang merupakan generasi keempat mewasiatkan kepada kami jika nenek moyang kami berasal dari keturunan Sugimanuru, Raja Muna ke-3. Ibundanya bernama Watubapala, masih cucu dari Raja Buton ke-3 bergelar Batara Guru. La Kilaponto/Murhum/Haluoleo adalah cicit dari Batara Guru,” ungkapnya.

 

“Keterangan orangtua kami ini dikuatkan dengan penelusuran kita diberbagai sumber yang telah ada dan beberapa penelitian yang telah dilakukan,” ucapnya.

 

Sejak kecil, La Ode Teke bin La Ode Husaeni belajar mendalami Agama Islam di Keraton Buton. Setelah puluhan tahun mendalami Agama Islam, sekitar tahun 1785 La Ode Teke ditugaskan oleh Sultan Buton untuk menyebarkan Agama Islam di Kerajaan Konawe sebagai kelanjutan dari ketersendatan dakwah Islamiah yang pernah dirintis oleh Sultan Buton ke-1 Sultan Murhum atau Haluoleo pada awal abad ke-16 saat Mokole Konawe dijabat Melamba.

 

Setelah menerima penugasan dari Sultan Buton, La Ode Teke yang bergelar Modi Latandowuna dan rombongan sebanyak 40 Kepala Keluarga (termasuk pembantu-pembantunya/budak) berangkat berlayar dari Pulau Buton menuju Kerajaan Konawe. Rute yang dilewati yakni jalur Pulau Muna, Pulau Wawonii lalu masuk Wowasambara (Muara Sungai Konaweeha-Muara Sampara).

 

Rombongan La Ode Teke kemudian menyusuri Sungai Konaweeha dan berlabuh di A’Labu-Puusambalu-Rawua/Pohara. “Sesampai di Pohara, rombongan La Ode Teke dan pengikutnya disambut dan diterima oleh Kapita Lau/Kapita Bondoala, Haribau/Rambi,” terang ASN Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia ini.

 

Setelah menyambut, Kapita Lau Bondoala melaporkan kedatangan Modi Latandowuna ini ke Mokole Lakidende. Mendengar kabar ini, Mokole Lakidende langsung mempersiapkan penyambutan dan mengumpulkan seluruh perangkat pemerintahan kerajaan “Siwole Mbatohu, Opitu Dula Batu Wuta Konawe” dan lainnya. (hdi/aji) 

Komentar Pembaca

-IKLAN-

.