Mengecewakan, Dewan Minta Evaluasi Kinerja Damkar

494
Petugas Pemadam Kebakaran ketika memadamkan kebakaran rumah di Jl Salepa Kecamatan Katobu, Selasa (4/8/2020).

 

RAHA-Kinerja petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Muna saat menjinakkan api dalam peristiwa kebakaran yang terjadi di Jl Salepa Kecamatan Katobu Kabupaten Muna, Selasa (4/8) sekitar pukul 11.00 Wita, sangat mengecewakan.

 

Betapa tidak saat proses pemadaman berlangsung, sempat diwarnai dengan insiden kerusakan alat pada mesin pemadam hingga pada insiden kehabisan bahan bakar untuk menghidupkan mesin alkon, sehingga tiga unit pemadam kebakaran yang dikerahkan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) tak mampu membendung laju kebakaran yang menghanguskan dua unit rumah permanen milik Rusman dan Dahlan. Keduanya merugi sekitar Rp 1,3 Miliar.

 

Hal ini memantik keprihatinan Wakil Ketua DPRD Muna, Cahwan. “Kinerja pemadam kebakaran sangat buruk dan mengecewakan. Sangat miris ketika ada insiden kerusakan alat dan kehabisan bahan bakar saat di lokasi kebakaran. Ini tak bisa dibiarkan, kinerja Damkar Muna harus dievaluasi,” tegas Cahwan.

 

Politikus Demokrat ini menegaskan bahwa kinerja seperti ini tak bisa dibiarkan, harus ada langkah-langkah kongkrit untuk memaksimalkan kinerja Damkar Muna sehingga tidak kembali mengecewakan masyarakat. Pasalnya, dua kali peristiwa kebakaran yang terjadi di Kota Raha baru-baru ini tak bisa diatasi dengan baik.

 

“Jl Salepa ini lokasinya hanya sekitar 500 meter dari Kantor Damkar, sangat aneh jika kebakaran yang terjadi sangat dekat dengan Kantor Pemadam tapi tak bisa diatasi dengan baik,” kritiknya.

 

Sementara itu Kepala Bidang Damkar Muna, La Ode Riktamin mengakui jika pihaknya sempat mengalami kendala kerusakan alat saat proses pemadamanl berlangsung di Jl Salepa, Selasa (4/8/2020).

 

“Ada tiga unit mobil ynag kita kerahkan. Satu unit mobil Damkar menggunakan pompa mesin portabel, dan dua unit mobil lainnya menggunakan alkon,” sebutnya.

 

Namun ketiga mobil Damkar tersebut tiba-tiba bermasalah di TKP. “Pertama mobil pemadam menggunakan mesin semprot portable, itu bekerja dengam baik. Setelah keluar mengisi air dan kembali ke TKP, mesinnya tiba-tiba bermasalah, tali PTO nya putus sehingga tidak bisa lagi meyemprot. Mobil ini satu-satunya mobil Damkar yang kita andalkan karena mesinnya bagus dan seprotannya kuat dibanding mesin yang pake alkon,” jelas Riktamin.

 

Insdien kemacetan mesin semprot kembali terjadi pada dua unit mobil lainnya yang sempat dikerahkan ke TKP. Sambungan pipa alkonnya tiba-tiba patah. Satu unit mobil Damkar lainnya tak kalah bermasalah, selang alkonnya sudah usang dan jebol-jebol sehingga sangat tak maksimal untuk memadamkan api.

 

“Sebelum ke lokasi kebakaran kami cek dan coba dulu, semua berfungsi baik. Tapi saat kami gunakan di TKP tiba-tiba bermasalah, ada yang patah sambungan pipa alkonnya, ada juga yang kehabisan bahan bakar. Ini sering terjadi, biasanya seperti itu, ada-ada saja kendala di lapangan,” terangnya.

 

Menurut Riktamin, idealnya harus ada penambahan mobil Dakmar, minimal pengadaan selang alkon untuk mengganti selang yang sudah usang dan jebol. “Idealnya harus ada penambahan mobil Dakmar, dari tiga unit menjadi lima unit. Pengadaan mobil Damkar terakhir itu tahun 2013. Setiap tahun kita mengusulkan tapi belum terealisasi,”jawab Riktamin.

 

Ditanya soal anggaran operasional, Riktamin menjelaskan, untuk anggaran operasional kadang tersendat, sebab proses pencairannya harus diusul terlebih dahulu.

 

“Damkar adalah bidang dari Sat Pol PP. Untuk anggaran operasional harus diusul dulu baru cair anggarannya, sementara kita butuh anggatan yang tersedia ketika akan digunakan saat terjadi kebakaran,” jelasnya.

 

Namun saat ini lanjut Riktamin, kabar menyejukkan datang dari pemerintah pusat dimana Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian telah menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) untuk membentuk Damkar menjadi sebuah dinas, sehingga tugas dan kinerja Damkar bisa lebih maksimal. (sra/aji)

Komentar Pembaca
.