BI Sebut Kendari Alami Penurunan Tekanan Inflasi 

10
Suasana pemaparan materi evaluasi perkembangan inflasi Kota Kendari di Hotel Claro. Foto: SUPRIANTO/Rakyat Sultra. 

 

KENDARI – Bank Indonesia (BI) perwakilan provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyebutkan bahwa Kota Kendari pada September 2020 ini mengalami penurunan tekanan inflasi sebesar 0,25 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Kepala Tim advisory dan pengembangan BI Sultra, Surya Alamsyah mengungkapkan, penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh penurunan inflasi Kota Kendari sebesar 0,21 persen atau andil terhadap inflasi Sulawesi Tenggara 0,19 persen.

“Meskipun demikian, kondisi tersebut masih diatas capaian inflasi Sulawesi dan Nasional,” ujarnya saat ditemui di salah satu hotel di Kendari, Senin (14/9/2020).

Dijelaskan, adapun sektor penyumbang inflasi di Kendari, emas perhiasan, perguruan tinggi atau akademi, jeruk nipis, daun lapor, jagung muda, bayam, cabai rawit, ikan cakalang, pasta gigi dan tissu.

Sementara itu, kata dia, penyumbang sektor deflasi di Kendari yaitu, bawang merah, ikan teri, ikan kembung, ikan layang, gula pasir, mobil, rokok putih, laptop, shampo dan bawang putih.

Ia menuturkan, faktor pendorong dan tantangan pengendalian inflasi antara lain, komoditas utama penyumbang inflasi memiliki tingkat resistensi inflasi yang tinggi, disparitas harga komoditas pangan di Kendari relatif tinggi.

“Rantai perdagangan yang relatif panjang dan belum sepenuhnya efisien dan masih adanya kendala pada proses distribusi bahan pangan,” ungkapnya.

Lanjutnya, pihaknya menawarkan berbagai program untuk terus meningkatkan strategi pengendalian inflasi, seperti ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

“Penguatan aspek tersebut dilakukan melalui kerjasama antar daerah, digital farming, dan pemutakhiran pencatatan data,” ucapnya.

Ia menambahkan, sepanjang 2020, harga komoditas di Kendari memiliki perbedaan yang cukup signifikan baik secara spasial maupun harga produsen dengan konsumen terutama komoditas daging ayam, bawang merah, cabai rawit dan cabai merah.

“Keterbatasan pasokan dan panjang rantai distribusi menjadi salah satu penyebab disparitas harga tersebut. Namun meskipun demikian, upaya pengendalian inflasi ikan segar dapat didukung melalui kerjasama antar Kota Kendari dan Kota Baubau,” tutupnya. (r5/b/aji)

Komentar Pembaca
.