Istri Meninggal, Ruslan Buton Dapat Izin 4 Hari Hadiri Pemakaman

457
Ruslan Buton, Terdakwa kasus dugaan ujaran kebencian kepada Presiden Joko Widodo menghadiri pemakaman istri, Erna Yudhiana di Bandung

 

JAKARTA – Erna Yudhiana, istri Ruslan Buton, terdakwa kasus ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) tutup usia, di Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Jumat (25/9/2020) pagi.

“Telah berpulang kerahmatulah Ny Erna adalah istri Ruslan Buton pada hari Jumat tadi pagi karena sakit,” kata pengacara Ruslan Buton, Tonin Tachta Singarimbun dalam keterangan tertulisnya, Jumat (25/9/2020).

Tonin menyebutkan jenazah istri Ruslan Buton akan dimakamkan hari ini, Sabtu (26/9/2020) di Bandung.

“Akan dimakamkan di Bandung, klien kami akan ijin memakamkan istrinya,” ungkapnya.

Erna Yudhiana sempat hadir ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk memperjuangkan keadilan suaminya dengan mengajukan praperadilan pada Juli 2020.

Ia datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sudah dalam kondisi sakit sehingga harus menggunakan kursi roda.

Tonin mengatakan pihaknya sedang mengurus izin ke majelis hakim pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dan rutan bareskrim. Ruslan Buton akan meminta izin untuk menghadiri pemakaman istrinya.

Dari pengajuan itu, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan memberikan izin selama empat hari kepada Ruslan Buton, terhitung Jumat (25/9/2020) hingga Senin (28/9/2020) untuk keluar dari Rutan Bareskrim.

Ruslan sebelumnya ditangkap oleh tim gabungan dari Bareskrim Polri, Polda Sulawesi Tenggara, Polres Buton dan POM TNI AD, Kamis (28/5/2020), pukul 10.30 WITA di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

Ruslan ditangkap setelah membuat pernyataan terbuka kepada Presiden Joko Widodo dalam bentuk rekaman suara pada 18 Mei 2020. Rekaman suara itu menjadi viral di media sosial.

Dalam rekamannya, Ruslan mengritik kepemimpinan Jokowi. Menurut dia, solusi terbaik untuk menyelamatkan bangsa Indonesia adalah bila Jokowi rela mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Ruslan Buton dilaporkan oleh Aulia Fahmi yang merupakan seorang pengacara. Aulia menilai video Ruslan diduga berisi ujaran kebencian.

Ruslan pun dijerat Pasal 27 dan Pasal 28 Undang-Undang ITE serta Pasal 207, Pasal 310, dan Pasal 31 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (p2/b/aji)

Komentar Pembaca
.