Kelompok MariTebari Tanam Bibit Pohon di Lahan Bekas Tambang

58
Ketua kelompok MariTebari, Syahrir (kiri) saat mengikuti proses penanaman pohon di Pulau Lemo, pekan lalu.

 

 

KENDARI – Kelompok komunitas MariTebari dan Saniban Diving Club Kolaka melaksanakan proses penanaman bibit pohon di Pulau Lemo Kabupaten Kolaka, pekan lalu. Kegiatan ini merupakan bagian rangkaian trip wisata bahari yang digagas organisasi tersebut.

 

Penanaman pohon di pulau tersebut bukan tanpa dasar. Saat ini, pulau itu dalam kondisi kritis akibat penambangan nikel. Padahal, lahan ini merupakan sebuah pulau kecil yang statusnya masuk dalam kawasan konservasi atau Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Kepulauan Padamarang sejak tahun 1996 dan diperkuat oleh SK Menteri Kehutanan No. 94/Kpts-II/2003 tanggal 19 Maret 2003.

 

Dalam perjalanannya, lahan tersebut justru dijadikan lahan tambang nikel sehingga sempat menjadi polemik.

 

Ketua Kelompok MariTebari, Syahrir mengatakan kondisi pulau tersebut saat ini mengalami kerusakan akibat dibiarkan tanpa ada upaya pemulihan pascapenambangan. Makanya, mereka tergerak untuk mengajak masyarakat agar ikut andil bersama-sama menanam pohon sebagai upaya melestarikan lingkungan melalui kegiatan trip wisata bahari.

 

“Walau tujuan utamanya adalah rekreasi namun upaya ini merupakan kampanye berwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” paparnya.

 

Bibit pohon yang ditanam kali ini merupakan bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kolaka yang diserahkan langsung Akbar Indra Jaya kepada Ketua MariTebari.

Selain penanaman pohon di lahan kritis, mereka juga mengadakan kerja bakti pembersihan sampah khususnya sampah plastik. Saat ini, kata dia, sampah plastik sudah menjadi persoalan serius bagi Indonesia. Bahkan Indonesia tercatat menjadi negara nomor dua di dunia yang memproduksi sampah plastik terbanyak di lautan. 

 

Dia tidak memungkiri banyak orang yang berpikir bahwa laut adalah tempat sampah terbaik dan terbesar. Padahal, mereka lupa bahwa laut adalah sumber pangan yang strategis karena di situ ada ikan dan bahan pangan lain yang bisa dikonsumsi oleh manusia.

 

“Untuk itu penyadaran mengenai laut dan sampah plastik ini penting dilakukan bersama-sama melibatkan masyarakat. Jadi wisatawan juga kita ajak selain menikmati alam juga merawat alam,” pungkasnya. (rir/aji)

Komentar Pembaca
.