-IKLAN-

Oase di Tengah Covid-19, Pertamina Hadir Tulus Melayani Pulihkan Ekonomi UMKM di Sultra

36
Hasil olahan ikan dan sagu mitra bantuan pertamina

 

KENDARI- Sejarah Kota Kendari tak dapat dilepaskan dari Teluk Kendari yang dulu digunakan sebagai tempat persinggahan para pelaut dari Eropa setelah maupun akan menuju Ternate atau Maluku.
Kota Kendari pun memiliki potensi perikanan yang merupakan salah satu bahan pangan yang kaya protein yang sangat di butuhkan oleh manusia.

Protein ikan selain mudah dicerna, pola asam amino protein ikan pun hampir sama dengan pola asam amino yang terdapat dalam tubuh manusia. Di samping itu, kadar lemak ikan yang rendah sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Potensi itulah yang melatarbelakangi Hajar (42), perempuan kelahiran Soppeng, memanfaatkan secara maksimal hasil perikanan yang melimpah namun pengolahannya masih terbatas.

“Pada umumnya masyarakat pesisir di sini hanya mengonsumsi ikan segar, asap dan ikan kering sehingga nilai ekonomi ikan olahan tersebut masih rendah. Sehingga sejak 2006, saya mencoba berinovasi membuat berbagai aneka olahan Ikan, hasil laut dari nelayan di teluk kendari,” katanya saat ditemui RakyatSultra.com. Selasa (20/10/2020).

Berawal dari coba-coba inilah, ia pun mulai menekuni bisnis pembuatan abon ikan tuna dzakiyah menjadi produk olahan ikan nomor satu di kota kendari.

Wanita berdarah bugis itu mengaku, usahanya kian berkembang, saat menjadi mitra binaan Pertamina pada 2016 silam. Saat itu, dirinya mendapat kucuran dana hibah sebesar Rp30 juta untuk menambah modal usaha. Berbekal dana hibah tersebut, yang awalnya hanya memproduksi abon ikan, kripik cumi dan sambel ikan teri, kini telah memproduksi berbagai olahan sagu menjadi cemilan cemilan kering seperti chips atau biskuit sagu yang dicampur dengan buah kakao.

Hajar mengaku senang telah menjadi bagian dari program kemitraan Pertamina sejak tahun 2016. Menurutnya ada banyak manfaat yang dirasakan setelah menjadi mitra binaan Pertamina.

Dari hasil bisnisnya, kini ia mampu memberdayakan warga di kampungnya dengan membuka lapangan kerja baru buat Ibu-ibu nelayan yang tadi hanya mengharapkan penghasilan dari suami kini sudah memiliki penghasilan sendiri.

Sebelum pandemi, omset olahan ikan dan sagunya bisa mencapai Rp40 Juta per bulan dengan jumlah produksi hingga 4000 pcs perbulan untuk produk abon ikan dan Saguku. Namun, sejak pandemi Covid-19 merusak tatanan perekonomian di Sultra, Omzetnya menurun hingga 70 persen.

Ibu dua anak tersebut mengatakan, Covid-19 bukanlah halangan baginya untuk terus memasarkan produknya. Melalui promo di media sosial dan dinas-dinas pemerintahan, rumah produksinya mendapat orderan khusus dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk dijadikan bantuan paket sembako ke masyarakat.

“Alhamdulillah berhasil dapat proyek dua kali dari pemerintah provinsi dengan nilai proyek lebih dari Rp100 Juta,” ungkap Hajar.

Abon

 

Upaya Pertamina untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri dengan menyalurkan program khusus untuk UMKM yakni program kemitraan yang membantu pelaku usaha mikro dengan modal usaha bergilir dan bergulir.

Total hingga berita ini diturunkan, terdapat 7.378 UMKM dari berbagai jenis usaha telah bergabung menjadi Mitra Binaan Pertamina MOR VII Sulawesi. Khusus di Sultra, terdapat 439 UMKM yang menjadi binaan PT Pertamina MOR VII, dengan total yang telah disalurkan sebesar Rp10 Miliar.

Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR VII, Laode Syarifuddin Mursali, menyebutkan ada beberapa syarat untuk menjadi mitra binaan Pertamina. Diantaranya Warga Negara Indonesia (WNI), memiliki kekayaan bersih maksimal Rp 500.000.000 (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki omzet penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000.

Selanjunya, berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau terafiliasi, baik langsung dengan usaha menengah atau besar . Berbentuk badan usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, termasuk usaha mikro atau koperasi.

“Telah melakukan usaha minimal 6 (enam) bulan serta memiliki potensi dan prospek untuk dikembangkan dab belum memenuhi persyaratan perbankan atau Lembaga keuangan non bank,” sebutnya.

Dalam program kemitraan, Pertamina menyiapkan dana pinjaman sampai Rp200 juta dan jasa administrasi 3% per tahun.

Selain itu, Pertamina juga memberikan fasilitas pameran dalam dan luar negeri sehingga memberikan kesempatan produk untuk lebih dikenal di mancanegara.

“Pertamina dengan tangan terbuka, siap menerima pelaku usaha yang berminat bergabung menjadi mitra binaan Pertamina,” pungkas Laode. (p2/b/aji)

Komentar Pembaca
.