Ilmuwan mengklaim bahwa flu biasa bisa membantu melawan virus corona Covid-19.

19
Ilustrasi.

RAKYAtSULTRA.COM, KENDARI – Virus corona Covid-19 tidak hanya menyebabkan batuk dan demam, tetapi juga flu. Di sisi lain, flu biasa juga bisa disebabkan oleh virus corona dari keluarga yang sama, tapi bukan Covid-19.

Dilansir dari Himedik.com,  Ada teori bahwa antibodi yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh selama infeksi virus corona flu biasa bisa melindungi diri dari virus corona Covid-19.

Para ilmuwan di University College London dan Francis Crick Institute mengklaim hal inilah yang mungkin menyebabkan beberapa orang kebal dari virus corona Covid-19.

Dalam menanggapi virus, sistem kekebalan dalam tubuh menciptakan antibodi untuk melawannya. Antibodi ini tetap berada di dalam darah selama beberapa waktu setelah infeksi. Jika terjadi infeksi ulang, antibodi akan melawan virus itu lagi.

Para peneliti telah menemukan bahwa beberapa orang, terutama anak-anak, memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2 dalam darahnya. Meskipun mereka mungkin tidak pernah terinfeksi virus tersebut.

 

Antibodi ini kemungkinan besar hasil dari paparan virus corona lain, yang mungkin memiliki struktur mirip dengan Covid-19 dan virus penyebab flu.

Selama penelitian tes antibodi untuk virus corona Covid-19, mereka menemukan bahwa beberapa orang yang tidak terpapar SARS-CoV-2 memiliki antibodi dalam darah yang mengenali virus tersebut.

Berita terkait

Selamat Bertugas Kapolri Baru!

Rakyat Sultra Digital Edisi 28 Januari 2021

Mereka menganalisis lebih dari 300 sampel darah yang dikumpulkan sebelum pandemi, antara 2011 dan 2018. Hampir semua sampel memiliki antibodi yang bereaksi dengan virus corona penyebab flu biasa.

Namun dilansir dari Mirror UK, sebagian kecil dari donor dewasa, sekitar 1 dari 20 juga memiliki antibodi yang bereaksi silang dengan virus corona Covid-19.

Antibodi ini tidak tergantung pada infeksi baru-baru ini dan virus corona flu biasa. Hebatnya, antibodi reaktif silang ini ditemukan lebih sering pada anak-anak berusia enam hingga 16 tahun.

“Hasil kami menunjukkan bahwa anak-anak lebih mungkin memiliki antibodi reaktif-silang ini daripada orang dewasa. Hal ini mungkin terjadi akibat anak-anak lebih sering terpapar virus corona lain,” jelas Kevin Ng, mahasiswa PhD di Crick di London sekaligus penulis utama penelitian.

Tingkat antibodi yang lebih tinggi pada anak-anak inilah yang mungkin membuat mereka cenderung tidak sakit parah akibat virus corona Covid-19.

Namun, belum ada bukti bahwa antibodi ini mencegah infeksi atau penyebaran SARS-CoV-2. Para ilmuwan menemukan antibodi reaktif-silang menargetkan subunit S2 dari lonjakan pada permukaan virus.

Penulis senior, Profesor George Kassiotis, dari Crick and UCL, mengatakan subunit S2, yang memungkinkan virus masuk ke dalam sel ini cukup mirip antara virus corona flu biasa dan Covid-19. Sehingga beberapa antibodi bekerja melawan keduanya.

“Temuan ini menarik karena memahami dasarnya bisa mengarahkan pada pemberian vaksin yang tepat untuk melawan virus corona, termasuk jenis flu biasa maupun virus corona Covid-19,” jelasnya.(***)

 

Komentar Pembaca
.