MENJADI MANUSIA PROLIFIK: KONVERGENSI MORAL THEORY DAN ACTION FORCE

(Menyambut Milad HMI Ke 74 Tahun)

311

Oleh: Muhammad Ikram Pelesa
(Kandidat Ketua Umum PB HMI 2021-2023)

Tulisan ini berjudul “Menjadi Manusia Prolifik; Konvergensi Moral Force Dan Moral Action” diketengahkan sebagai tawaran gagasan dalam rangka kandidasi ketua umum PB HMI periode 2021-2023. Karena gagasan-gagasan para kandidat ketua umum sebuah organisasi kemahasiswaan apalagi HMI harus sudah dibiasakan bahkan ditradisikan dan dikulturkan sebagai sebuah budaya peradaban kandidasi in case Kongres HMI XXXI di surabaya. Islam yang menjadi identitas kemahasiswaan organisasi ini mesti mengejewantah dalam setiap sikap dan perilaku manusianya (being of the other) bukan hanya terkungkung dalam ego kebesaran diri sendiri (being of my self).

Muh. Ikram Pelesa

 

Alquran sendiri sebagai tuntunan islam menyatakn bahwa ilmu dan amal, sholat dan zakat, atau teori dan praktek mesti terlihat dalam fenomena keseharian kita ditengah-tengah masyarakat. Tidak boleh terpisah dan tidak boleh ego dalam ruangnya sendiri. Namun, faktanya menjadi berbeda, jika kita sebagai “manusia islam Indonesia” menoleh pada realitas sekitar, bahwa ternyata pemisahan tidak hanya terjadi dalam wacana-wacana diskursus intelektual, namun telah menjadi kenyataan dalam perilaku keseharian kita. Manusia islam Indonesia ‘gugup’ mencipta situasi islami dan bingung bertemu dititik mana antara teori dan praktek antara moral theory dan action force.

 Dalam rangka memperingati 74 tahun berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Gagasan ini sebagai bentuk ijtihad kader dalam mendorong perbaikan internal dan gerak luar himpunan yang beranjak dari proposisi bahwa “ada jurang antara teori-teori moral dengan kekuatan aksi yang kita bangun selama ini (selanjutnya disebut non prolifik), baik dalam konteks kader bangsa, maupun kader islam yang seharusnya include dalam kader HMI”.

Selama ini Para kader pengusung status quo seringkali mengutip dan menafsir ayat-ayat dalam alquran hanya untuk melegitimasi konklusi atau kemalasannya dalam melihat fenomena sekitar misalnya ayat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat : 153 “Yaa ayyuhallaziina aamanusta’inu bis sabri was shalaat innallaha maa shobirin” yang artinya “Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar.” Atau dalam potongan Surah Al-Asr Ayat 3 “….. Watawassau bil haqq watawassau bis shabri” yang artinya “……Saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” dan banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist yang sering dikutip oleh golongan kaum ini.

Namun dikutub sebelah kita juga dapat bertemu dengan dalil-dalil para extreme action yang juga mengetengahkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist untuk melegitimasi konklusi ofensifitas mereka dalam menghadapi realitas; sebut saja misalnya dalam Surah An-Nisaa, Ayat : 75 “Wamalakum la tukatiluuna fii sabilillah waal musthadaafiina mina rrijali wa nisaai wa al wildani allaziina yuqaulun rabbana akhrijna min haziihil qaryati dzalimi ahluha waj al llana min lladunka waliyawaj al llana min ladunka nashiran” yang artinya “Dan mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, ‘ya tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim” dan kadang-kadang ditambahkan potongan Surah Al-Hujurat, Ayat :13 “Inna Akramakum Indallahi atqakum” yang artinya “Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertaqwa” dan masih banyak lagi ayat Al-Qur’an dan Hadist yang sering menjadi dalil pembenar bagi kaum ofensif ini.

Asghar  Ali Engineer  dalam “Islam dan teologi Pembebasan” juga sebenarnya mengutip beberapa ayat diatas dalam rangka menjelaskan “liberative Violence” dan jika membaca judul asli “Islam and liberation theology” (Asghar Ali Engineer, 1999 : I) dari buku asghar tersebut, kita akan menangkap bahwa bukan hanya pembebasan kekerasan dalam bentuk fisik atau realita saja yang disorot namun lebih dari itu asghar ingin membebaskan kekerasan sejak dalam doktrin atau teori dengan menafsir “progresif” ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Tulisan ini tidak focus membahas kajian ayat-ayat (nasikh, mansukh, mutasyabihat, muhkam dan lainnya) sebagaimana dikutip diawal latar belakang. Namun, pengutipan ayat-ayat tersebut diatas menjadi penting bagi penulis sebagai preferensi pembaca dan konfigurasi umum penulis terhadap pembahasan pada point selanjutnya.

Berangkat dari uraian latar belakang diatas maka, pokok yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah “Konvergensi teori moral dan kekuatan Aksi” selanjutkan dirumuskan isu ini dan dibatasi pada :

Berita terkait
  1. Substansi teori moral islam dan kekuatan aksi
  2. Konvergensi teori moral dan kekuatan aksi (moral theory dan action force)

 

KONVERGENSI TEORI MORAL DAN KEKUATAN AKSI (MORAL THEORY DAN ACTION FORCE)

Dalam Tafsir  Al-Manaar Rida menyatakan: “Sungguh disayangkan bahwa kebanyakan tafsir atau penafsiran Al-Qur’an telah banyak menyimpang dari tujuannya yang agung. Tafsir tafsir ini telah menjauhkan orang dari Al-Qur’an lewat diskusi mereka tentang sintaks dan tata bahasa, retorika, argumentasi scolastik, deduksi hukum, interpretasi sufi dan bahkan konflik dan kecemburuan sektarian,.” (Mun’im Sirry; Polemik Kitab Suci, hlm.Ixxi). di kutub searah David M Wulff melalui Yudie haryono dalam bukunya “melawan dengan teks” menyatakan bahwa studi ini (tafsir kitab) sebaiknya menggunakan tafsir hermeneutika yang bersenyawa dengan psikologi agar melahirkan disiplin ilmu yang prosedur-prosedur dan konstruk-konstruk interperetatifnya menjadikan agaman, pemahaman, sikap beragama dan teksnya menjadi objek penyelidikan psikologi. Sebab secara psikologis, orang beragama dapat dilihat dari tiga orientasi; religion as means, as quest, as end, dan secara hermeneutic seorang yang beragama akan selalu mengembangkan pemahamannya dengan melakukan tafsir dan re-tafsir terhadap teks kitab dan situasi disekelilingnya (Haryono, 2005 : 28). Postulat rida dan David M Wulff diatas kongruen dengan pernyataan saya diawal tentang kelompok status quo dan kelompok ofensif. Mereka dengan konklusinya masing-masing mengambil ayat-ayat Al-Qur’an atau hadist untuk menguatkan kesimpulan awalnya. Intinya, ada ego yang dipertahankan disana yaitu mashabnyalah atau kesimpulan kelompoknyalah yang paling tepat manjadi acuan dalam menjawab fenomena sekitar yang terus menggelinding tanpa solusi yang tepat.

  1. Substansi teori moral dan kekuatan aksi umat beragama;

Pentingnya membedah bahan dasar (substansi) dan hakikat atau kegunaan dari teori moral (moral theory) keagamaan kita serta kekuatan aksinya (action force) adalah modal awal untuk bertemu pada satu titik (kulminasi) harapan. Karena sebesar apapun upaya kita menyelesaikan masaalah kebangsaan dan keagamaan ini jika kita masih berbeda definisi dan berbeda substansi dan esensi maka musykil bagi saya bangsa ini (Indonesia) dapat meredam bahkan menghentikan semua laju persoalan yang ditimbulkan oleh anak bangsanya sendiri. Pertama; substansi dan esensi teori moral kita. Jika kita mengecek kedalam, di indoensia praktis yang paling banyak atau dominan adalah kelompok Ahlusunnah wal jamaah atau kelompok sunni jika pembagiannya menjadi dualistis saja (sunni dan syiah), dan jika membaca referensi (sunni) maka tidak akan lepas dari beberapa tokoh besarnya misalnya Abu Al- Hasan Al asy’ari (874-936) atau Abu mansyur al maturidi (853-944) atau Imam Junaid al Baghdadi (830-910) serta Imam Ghazali (1058-1111) yang juga dijuluki sebagai hujjatul Islam (pemberi hujjah). Untuk nama yang terakhir ini (Al-Ghazali; Op.,Cit) terkenal dengan salah satu karyanya tentang “Tahaffut al-falasifah” atau kesesatan para filosof yang mengurai 20 kesesatan para filosof dalam 307 halaman (Al-Gazali, Cetakan V, 2016 : 279). Karya ini sangat fenomenal dan bagi saya sedikit banyak mempengaruhi bangunan moral para penganut islam Indonesia baik secara sadar maupun tidak. Misalnya tentang tafsir hermeneutik atau membaca melampaui teksnnya dengan ilmu dalam ghazali tidak diperkenankan. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh muslim yang melanggengkan status quo (tanpa kreasi). Dari penguraian inilah bahan dasar teori moral anak bangsa sebagai penganut mazhab terbanyak diindonesia dapat dilihat. Meskipun dikutub sebelah kitab tahafut al-falasifah imam ghazali dibantah habis-habisan oleh generasi setelahnya yaitu Ibn Rush atau di Negara barat dikenal dengan nama Averous. Dengan kitabnya berjudul “tahafut at-tahfut” yang menjawab ulang 20 (dua puluh) persoalan yang disesatkan oleh Imam Al-Ghazali. Ibn Rush atau Averous lebih menekankan kepada pemaksimalan akal meskipun tetap mengakui kelemahannya. Ibn rush menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh ghazali akan membuat umat menjadi status quo, atau tidak mengembangkan tafsir dan ijtihad akal sesuai porsinya (Rush, 2018 : 244).

Di barat moralitas (etika) nya dapt dilacak dalam teori-teori psikologi Ivan Pavlov, Sigmund freud dengan psiko analisanya atau john dewey dengan psikologi pragmatismenya, yang paling tidak mempengaruhi kalangan non-islam khsususnya kaum Kristen. Nama sigmmund greud misalnya dengan psikologi analisanya konkret membagi 3 (tiga) jenis etika/moral yaitu egoistik, relatifistik dan altruistik. Sementara john dewey lebih spesifik lagi melebur dalam realita sehingga mereka sering dinamakan kaum pragmatism dengan slogannya “Learning by doing” jika disederhanakan barat ingin menyatakan bahwa “jangan terlalu lama diteori” segera lakukan. Do it ,biar nanti berproses sambil belajar. Toh kemudian pengalaman akan membuat anda menjadi ahli (kaum pragmatism). Sebaliknya, bagi timur. Salah satunya bangsa Indonesia misalnya ingin menyatakan bahwa “serahkan pada ahlinya”, “kalau anda tidak punya ilmunya jangan sok tahu” kira-kira begitu ungkapan moralnya. Artinya dapat saya simpulkan bahan dasar teori moral anak bangsa adalah bacaan, niat dan pengalaman yang akan menciptakan kenyataan atau realitas yang baik dan benar, bermoral dan hanif. Sebagai contoh betapa aksi-aksi (demonstrasi) hari ini hanya dimaknai oleh para pelajar dan mahasiswa sebagai turun kejalan, teriak-teriak, mengahalau kendaraan, bakar ban dan melawan pentungan polisi. Sungguh sebuah tafsir yang kaku bahkan kolot. Dimana ruang-ruang “demonstrasi seni”, olahraga, research dan diskursus-diskursus menjadi terpinggirkan. Sungguh sebuah ironi.

2. Konvergensi teori moral dan kekuatan aksi umat beragama;

Bahwa setelah menemukan bahan dasar teori moral sepatutnyalah disusun pertemuan ide-realitas, Nomena-fenomena atau substansi dan eksistensi. Tidak boleh ada satu menegasikan yang lain karena kehilangan satu unsur maka itu juga berarti ketidaklengkapan. Dalam konteks bahan dasar terori moral harus diakui bahwa bacaan barat misalnya dengan learning by doing-nya john dewey dapat diterapkan pada kondisi-kondisi bangsa yang selalu berubah dengan cepat. Misalnya dalam hal pengembangan Entrepreneurship dalam rangka menggenjot ekonomi nasional, atau dibidang pengembangan olahraga nasional, pembuatan alutsista dalam bidang kemiliteran dan banyak bidang lain yang dapat menganut teori, prinsip atau doktrin moral “learning by doing”. Tetapi tentu teori moral john dewey ini tidak akan pas jika digunakan pada kenyataan pelaksanaan sholat atau ibadah mahdhah lainnya (action force).

Bahwa teori-teori moral yang dibangun selama ini selalu berhenti pada tataran ide begitu ingin dilanjutkan pada tataran praktis ide tersebut menemui jalan buntu. Sebabnya adalah, teori-teori moral bangsa dan agama tidak disusun ditengah realitas bangsa itu sendiri, akhirnyna terjadi disparitas teori dan praktik. Kedepan teori-teori psiokologi (sekali lagi teorinya atau metodologinya) barat seperti teori altruistiknya freud, atau leraning by doingnya dewey dapat digunakan untuk menghadapi fenomena sosial yang berubah sangat cepat. Dengan produktifitas dan tingkat fleksibilitas pengetahuan yang  tinggi maka bangsa ini dapat betul-betul menerapkan “Inna akramakum Indallahi atqakum” yaitu generasi prolifik (generasi Milenial, Y dan generasi Z).

Sehingga Dalam ijtihad kader memperingati 74 tahun HMI, penulis menegaskan bahwa Doktrin kebangsaan harus berubah bukan hanya revolusi mentalnya tetapi juga revolusi aksinya. Selain itu Dalam pola perkaderan kelembagaan mahasiswa khususnya HMI harus sudah menekankan “young generation” sebagai pemimpin kelembagaan dalam rangka menjawab tantangan Zaman. Generasi Z harus sudah mendapat tempat dalam sirkulasi kepemimpinan nasional HMI (tentu mereka-mereka yang Prolifik), minimal generasi Y sebagai sebuah keniscayaan dari tantangan Zaman yang terus bergerak. Yaumul Milad Himpunan Ke 74 Tahun. **

 

 

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.