Napak  Kilas  Organisasi Mahasiswa Bernama  PMII

63

Oleh: Oma Irama*

Secara Historikal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) atau Indonesia Moslem Student Movement adalah merupakan cucu NU (Nahdatul Ulama). Sebab PMII terlahir dari Anak Kandung NU melalui Departemen Pengurus Tinggi Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) yang merupakan salah satu anak NU. Dengan demikian maka sesungguhnya embrio lahirnya PMII adalah IPNU, walaupun pada perkembangannya kedua organisasi ini secara administratif sama sejajar sebagai Badan Otonom (Banom) NU.

Tapak sejarah pentingnya adalah berawal dari suatu Konferensi Besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (Konbes IPNU) tanggal 14-16 Maret 1960 di Kaliurang, Yogyakarta. Salah satu keputusan penting dalam forum Konbes tersebut adalah perlunya segera dibentuk suatu organisasi Mahasiswa NU yang terpisah secara struktural dari IPNU – IPPNU.

Sejalan dengan munculnya motivasi dan rekomendasi para tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, keputusan Konferensi Besar IPNU juga sangat memperhatikan dinamika yang berkembang saat itu. Secara external, sejak awal kemerdekaan sudah banyak organisasi mahasiswa bermunculan dibawah naungan payung ideologi induknya seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dekat dengan Masyumi berdiri tahun 1947, Departemen Pelajar dan Mahasiswa Muhammadiyah tahun 1955 (Menjadi IMM 1964) dan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) tahun 1959. Dan beberapa organisasi mahasiswa lainnya.

Kemudian secara internal, kehendak untuk mendirikan organisasi mahasiswa sudah mengemuka sejak kongres ke-2 dan kongres ke-3 IPNU. Pada awal 1950-an, tercatat ada beberapa rintisan organisasi kemahasiswaan NU yang bersifat kultural diantaranya IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) di Jakarta (1955), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Surakarta (1955), Persatuan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PMNU), dan beberapa organisasi mahasiswa NU lokal di tempat lainnya.

PascaKonbes IPNU, para mahasiswa NU sowan dan mohon restu serta nasihat para Masyayikh, khususnya Rais Aam PBNU Mbah KH Abdul Wahab Chasbullah dan Ketua Umum PBNU KH Idham Kholid. Salah satu pointer’s penting yang di dapat adalah menjadikan organisasi mahasiswa NU sebagai yang terdepan dalam menjaga prinsip etik “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan”

Atas restu dan dukungan para Masyayikh, sebulan persis pascaKonbes IPNU tepatnya tanggal 14-16 April 1960 di Surabaya para Perwakilan Mahasiswa NU menggelar musyawarah dan bermufakat membentuk wadah organisasi kemahasiswaan NU yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kemudian Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMII dinyatakan mulai berlaku pada 17 April 1960 M / 21 Syawal 1379 H. Tanggal inilah yang digunakan sebagai peringatan hari lahir PMII.

Musyawarah juga memberikan amanat kepada KH. Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum, KH. A. Chalid Mawardi sebagai Wakil Ketua Umum dan KH. Said Budairi sebagai sekretaris umum Pengurus Besar PMII dan melengkapi kepengurusan periode pertama.

Selain KH Mahbub Djunaidi, para Mahasiswa NU yang kemudian dikenal sebagai muasis PMII itu adalah :

1. KH. Cholid Mawardi (Jakarta)

2. KH. Said Budairy (Jakarta)

3. KH. M. Sobich Ubaid (Jakarta)

4. KH. M Makmun Syukri BA (Bandung)

5. KH. Hilman (Bandung)

6. KH. Ismail Makky (Yogyakarta)

7. KH. Munsif Nahrawi (Yogyakarta)

8. KH. Nuril Huda Suady (Surakarta)

9. Nyai Hj. Laily Mansur (Surakarta)

10. KH Abd Wahab Jailani (Semarang)

11. KH. Hisbullah Huda (Surabaya)

12. KH. M Cholid Narbuko (Malang)

13. KH. Ahmad Husain (Makassar)

14. KH. Abdullah Alwi Murtadlo (Malang).

Lahum Al-Fatihah…!

Selamat Harlah PMII ke- 61

 

 

*Ketua IKA PMII Sultra

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.