Penantian Dan Apresiasi 30 Guru Besar UHO  

Terhadap Rekomendasi Kemendikbud Terkait Tindakan Plagiasi di UHO

1.131
Prof. Larianda

Oleh:

PROF. DR. IR. LARIANDA BAKA, M.Si.

(Guru besar UHO)

Sejalan dengan maraknya tindakan plagiat yang terjadi diberbagai kampus di Indonesia akhir-akhir ini termasuk di Universitas Halu Oleo, maka pihak Kemendikbud RI khususnya Dirjen Dikti telah mengambil langkah tegas dan terukur terhadap pelaku tindakan plagiat.

Sikap tegas yang dilakukan itu adalah merupakan suatu kerinduan dan penantian yang lama oleh kami 30 orang guru besar dari Universitas Halu Oleo terhadap penegakan dan penindakan yang tegas dan terukur kepada siapapun yang melakukan tindakan plagiat. Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini perkenankan saya menguraikan secara singkat kronologi penantian kami terhadap tindakan tegas pada pelaku plagiat.

Berawal dari suatu keprihatinan sivitas akademika atas indikasi plagiasi karya tulis ilmiah Muhammad Zamrun Firihu yang telah diperbincangkan luas oleh publik Universitas Halu Oleo, maka pada tanggal 14 Juli 2017 sebanyak 30 (tiga puluh) Guru Besar di Universitas Halu Oleo yang menjunjung tinggi nilai kejujuran akademik berusaha untuk membaca, memeriksa dan menganalisis beberapa karya ilmiah Muhammad Zamrun Firihu (Rektor Universitas Halu Oleo) yang telah dipublikasikan pada beberapa jurnal yang digunakan untuk pengusulan Guru Besarnya.

Hasil pemeriksaan dan analisis dengan bantuan software Checker dan Turnitin ditemukan banyak kesamaan dengan karya tulis orang lain, dan tidak memenuhi kaidah penulisan sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Pada waktu yang sama (tanggal 14 Juli 2017) sebanyak 30 Guru Besar Universitas Halu Oleo membuat Pernyataan Dugaan Plagiat Muhammad Zamrun Firihu (Calon Terpilih Rektor Periode 2017 – 2021). Pernyataan tersebut saat itu disampaikan kepada pihak Kemenristekdikti untuk ditindaklanjuti.

Pada tanggal 18 Juli 2017 (pagi hari) beberapa perwakilan Guru Besar diterima pihak Kemenristekdikti  (para Dirjen dan Inspektorat) berdialog tentang karya ilmiah Muhammad Zamrun Firihu yang terindikasi kuat plagiat.

Pada saat itu terjadi dialog alot dengan pihak kementerian termasuk 3 orang tim independen yang menyatakan karya tulis Muhammad Zamrun bukan kategori plagiat. Hasil pemeriksaan tim independen ini di debat oleh perwakilan tim Guru Besar dari UHO, karena mereka menyimpulkan seperti itu atas dasar hasil analisis substansi tulisan yang tidak mengacu pada Permendiknas Nomor 17 tahun 2010, sementara pijakan hukum tim 30 Guru Besar UHO adalah Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010.

Kesepakatan dialog saat itu bahwa Pelantikan Rektor Universitas Halu Oleo (Muhammad Zamrun Firihu) akan ditangguhkan sampai ada keputusan yang lebih lanjut, dikarenakan hasil pemeriksaan oleh tim Kemenristekdikti terhadap karya tulis Muhammad Zamrun Firihu hanya memeriksa substansi tulisan bukan bersandarkan pada Permendiknas Nomor 17 tahun 2010.

Namun, patut disayangkan ternyata pada jam 14 siang hari tanggal 18 Juli 2017, justru Muhammad Zamrun Firihu dilantik sebagai Rektor Universitas Halu Oleo, dengan diterbitkannya surat Nomor : 1819/D1.2/HK/2017 tentang hasil investigasi Dugaan Plagiasi Karya Ilmiah Muhammad Zamrun Firihu yang ditandatangani oleh Dirjend Ali Gufron Mukti.

Oleh karena Kemenristekdikti tidak merespon keprihatinan para Guru Besar tentang dugaan tindak plagiat yang dilakukan oleh Muhammad Zamrun Firihu, maka para Guru Besar mengadukan persolan tersebut ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

Pada tanggal 23 Januari 2018, ORI telah selesai melakukan pemeriksaan terhadap tindakan Maladministrasi terkait dengan tindakan plagiat yang dilakukan oleh Muhammad Zamrun Firihu yang dituangkan dalam bentuk Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan ORI (LAHP-ORI) Nomor : 0071/ORI-SRT/2018. Pada tanggal 27 November 2018, ORI mengeluarkan rekomendasi dengan Nomor : 0003/REK/0922.2016/ XI/2018 yang pada hakekatnya merekomendasikan 2 hal pokok yaitu:

A. ORI memberikan rekomendasi kepada Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk: Melakukan penanggulangan plagiat termasuk pengenaan sanksi terhadap Muhammad Zamrun Firihu yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Halu Oleo dengan mendasarkan kepada temuan-temuan sebagaimana dituangkan dalam Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) dan Rekomendasi ORI.

B. ORI memberikan rekomendasi kepada Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk : Melakukan perubahan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi dengan menyempurnakan mekanisme / prosedur penaggulangan dugaan plagiat yang dilakukan oleh dosen yang menjabat Pemimpin / Pimpinan Perguruan Tinggi.

Masih dalam masa penantian ternyata ada sesuatu yang sangat mengagetkan sekaligus memprihatinkan karena tiba-tiba pada tanggal 5 Agustus 2019, Senat akademik UHO membentuk tim adhoc untuk memeriksa karya ilmiah Muhammad Zamrun Firihu, dan hasilnya melalui rapat senat
memutuskan karya ilmiahnya tidak termasuk kategori tindak plagiat. Fakta ini memalukan karena sangat jelas terindikasi kuat untuk melindungi dirinya dari tindakan plagiat.

Ternyata tim adhoc yang dibentuk tanggal 5 Agustus 2019 itu mengandung berbagai kejanggalan. Kejanggalannya yang pertama adalah dalam item Surat Tugas tim adhoc tidak ditugasi untuk memeriksa karya tulis Muhamad Zamrun Firihu yang plagiasi, melainkan hanya ditugasi untuk memeriksa karya ilmiah lektor kepala dan guru besar yang akan naik jabatan fungsional.

Kejanggalan kedua adalah semua tim adhoc adalah pejabat dalam lingkup UHO (WR-2, Dekan FMIPA, Dekan Fakultas Kebumian, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian, dan Kepala UPT) yang kesemuanya dalam kendali Rektor UHO sehingga sangat diragukan independensinya dalam menilai plagiasi atasan mereka.

Kejanggalan ke tiga tidak ada dasar hukum ketua senat membentuk tim adhoc, untuk memeriksa plagiasi yang dilakukan seorang dosen yang sementara menjabat tugas tambahan sebagai Rektor. Justru rekomendasi ORI pada KEMENRISTEKDIKTI adalah segera membuat perubahan PERMENDIKNAS nomor 17 tahun 2010 terikait dengan tindakan plagiat seorang dosen yang sementara menjadi Rektor.

Dikarenakan hal yang sangat sulit untuk memeriksa tindak plagiasi kepada seorang Rektor aktif karena dapat dipastikan tidak independen. Pengakuan beberapa anggota senat yang hadir pada saat rapat menyatakan bahwa tidak ada agenda rapat untuk membahas karya tulis Muhammad Zamrun Firihu yang plagiat, tidak pernah dibahas dan dimintai persetujuan kepada semua anggota senat. Dengan demikian rekomendasi senat UHO tentang plagiasi Muhammad Zamrun Firihu terindikasi kuat dibuat tidak prosedural.

Penantian hampir pupus karena telah 4 tahun berlalu belum ada tindakan dari kementerian. Namun kemudian mengemuka kembali masalah plagiat dan autoplagiat pada proses pemilihan Rektor UHO tahun 2021 sehingga ada salah satu bakal calon Rektor (Dr. Jamhir Safani) dinyatakan tidak lolos seleksi oleh panitia pilrek UHO karena di duga melakukan tindakan auto-plagiat.

Dengan dasar penolakan Senat UHO terhadap pencalonannya, maka Dr. Jamhir Safani melakukan keberatan di Kemendikbud mengingat tindakan auto-plagiat belum diatur dalam Permendiknas Nomor 17 tahun 2010 bersamaan dengan itu pula ada pihak yang keberatan kembali menyangkut persoalan plagiat yang dilakukan oleh Muhammad Zamrun Firihu (Rektor UHO). Menyikapi keberatan tersebut maka pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya DIRJEND DIKTI membentuk tim Pencari Fakta dengan tugas untuk mengumpulkan fakta dan dokumen tentang plagiasi serta menyusun rekomendasi.

Pada akhirnya hasil tim pencari fakta dituangkan dalam rekomendasi DIRJEND DIKTI Nomor : 0263/E.E4/KP.07.00/2021 tentang tindak lanjut pengaduan masyarakat yang merekomendasikan 2 hal pokok yaitu: a. Muhammad Zamrun Firihu telah melakukan tindakan plagiasi dan oleh karenanya tidak memenuhi syarat dalam penjaringan bakal calon Rektor UHO periode 2021 – 2025. b. Dr.Eng.Jamhir Safani telah melakukan tindakan plagiasi diri (auto-plagiat) dan berdasarkan Permendiknas Nomor 17 tahun 2010 tidak termasuk tindakan plagiasi sehingga dapat diloloskan dalam penjaringan bakal calon Rektor UHO periode 2021-2025

Berkaitan dengan rekomendasi yang dikeluarkan Dirjen Dikti, maka baru terjawab penantian dan kerinduan kami pada penegakan aturan secara tegas dan terukur kepada siapapun yang melakukan tindakan plagiat.

Oleh karena itu, kami 30 Guru Besar dari Universitas Halu Oleo yang sejak tahun 2017 mengungkap persoalan plagiat ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Dirjen Dikti atas penegakan dan penindakan kepada palaku plagiat sesuai dengan aturan yang berlaku.  Wassalam

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.