Cegah Stunting Sejak Pra-Nikah

66

 

Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si) *

 

 

Stunting akhir-akhir ini menjadi momok yang cukup menghebohkan, termasuk di Indonesia telah terjadi kasus stunting sebesar 27,67 persen sejak 2019. Presiden Jokowi menghendaki agar angka tersebut dapat ditekan hingga 14 persen pada akhir masa jabatannya di tahun 2024 nanti. World Health Organization (WHO) hanya merekomendasikan tiap negara “dimaklumi” jika memiliki kasus stunting hanya di bawah 20 persen. Jika di atas 20 persen dianggap negara tersebut memiliki status gizi buruk.

Untuk menurunkan angka stunting yang terjadi di Indonesia, pemerintah dan segenap komponen bangsa berusaha secara bahu membahu dan bersinergi melaksanakan beragam kegiatan agar kasus stunting dapat diturunkan secara signifikan. Dalam tubuh birokrasi Indonesia sendiri telah dibentuk Tim Penurunan Stunting sejak beberapa tahun terakhir yang terdiri dari berbagai lintas sektor yang memiliki tugas dan fungsi (tusi) yang relevan.

Makna stunting, seperti yang diinformasikan oleh Niken Widya Yunita dalam DetikHealth (22 Nov 2018), adalah “kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir”. Adapun penyebab terjadinya stunting, lebih lanjut Niken menguraikan:

“Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1.000 Hari Pertama Kehidupan). Nah lalu apa penyebabnya? Hal ini karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Faktor lainnya yang menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi pertumbuhan anak.”

Ada 2 hal yang menjadi ciri pokok seorang anak terkena stunting, pertama “gagal tumbuh”. Anak yang tergolong stunting tubuhnya pendek, itulah sebabnya sebagian pemimpin bangsa kita, salahsatunya Ibu Puan Maharani (Ketua DPR RI) sering menyebut stunting sebagai “kerdil”, karena memang tubuh anak stunting kerdil atau pendek atau pertumbuhan yang tidak sesuai umurnya. Kedua, perkembangan kecerdasan otak lemah. Ciri yang kedua ini tentunya cukup membahayakan masa depan anak-anak stunting. Jika hanya tubuh pendek tapi otak cerdas masih memungkinkan punya masa depan cemerlang misalnya bisa menjadi pemikir atau artis bertubuh kerdil pandai akting, melucu dan inovatif seperti halnya ada beberapa nama artis Indonesia bertubuh kerdil yang tergolong terkenal dan sukses misalnya Ucok Baba, Daus Mini, dll. Tetapi lemahnya otak penderita stunting mengarah pada keterbelakangan mental, sebagian orang Sulawesi menyebutnya “bodo-bodo”.

Memperhatikan penyebab terjadinya stunting tersebut, nampaknya upaya pencegahan yang paling kena harus dari hulu, yakni kesiapan orang tua dalam menghadirkan anak-anak ke dunia ini, yang berarti juga kesiapan calon pengantin dalam menghadapi hadirnya anak-anak dalam keluarganya kelak.

Langkah-langkahnya antara lain: Rencanakan hidup berkeluarga secara matang. Kematangan yang harus dipersiapkan bukan hanya kematangan biologis tetapi juga kematangan psikologis, kesiapan mental, kesehatan fisik dan kesiapan finansial.

Meskipun salahsatu fungsi pernikahan adalah menghindari perzinahan atau agar bisa melakukan hubungan seksual secara halal tetapi tujuan pernikahan yang disarankan bukanlah semata untuk menghalalkan hubungan suami istri tsb. Yang tidak kalah pentingnya juga, tujuan menikah adalah untuk menghasilkan keturunan. Tentunya keturunan yang kita inginkan adalah keturunan yang berkualitas. Untuk bisa memproduksi keturunan yang berkualitas dibutuhkan bibit yang juga berkualitas.

Meskipun Undang-Undang Perkawinan terbaru no 16 tahun 2019 menaikkan usia pernikahan 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan, namun ukuran kematangan yang sudah teruji sebaiknya perempuan menikah pertama pada usia 20 tahun ke atas dan laki-laki 25 tahun ke atas. Kenapa perempuan sebaiknya 20 tahun ke atas? hal ini untuk meghindari angka kematian ibu hamil dan melahirkan yang banyak terjadi saat mereka hamil dan melahirkan di bawah usia 20 tahun.

Secara umum kematangan psikologis bagi seorang perempuan untuk berkeluarga juga di atas 20 tahun. Kasus stunting juga seringkali terjadi akibat bayi dilahirkan dari rahim ibunya yang masih di bawah umur. Secara medis, pinggul perempuan baru siap menerima kehadiran janin juga pada usia di atas 20 tahun.

Namun demikian, bagi perempuan yang sudah terlanjur menikah pada usia 19 tahun, jika belum hamil sebaiknya tunda dulu kehamilannya hingga di atas 20 tahun dengan mengikuti program keluarga berencana, minimal minum pil KB, dan berhenti meminum pil KB disaat usia sudah di atas 20 tahun dan benar-benar siap untuk hamil.

Begitupun halnya dengan para calon suami/laki-laki, usia 25 tahun ke atas sungguh merupakan usia yang paling dapat diandalkan untuk memasuki jenjang perkawinan. Di usia ini kaum laki-laki benar-benar sudah matang terutama matang mental dan psikologisnya. Kalau matang biologis tidak diragukan lagi, karena usia 25 tahun sudah lewat usia akil baligh. Syukur-syukur jika keuangan pun sudah matang, sudah mempunyai pekerjaan/ penghasilan tetap dan siap memimpin keluarga. Kematangan finansial ini akan sangat membantu terhadap kedamaian dan kerukunan keluarga.

Kekurangan finansial seringkali membuat kondisi keluarga tidak stabil, membuat istri stress saat hamil yang bisa berdampak pada janin yang dikandungnya hingga melahirkan bayi stunting. Diantara penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi bagi janin dan baduta (bayi dibawah usia 2 tahun), maka kesiapan orang tua untuk memenuhi makanan dan minuman yang berkualitas bagi janin dalam kandungan dan anaknya yang akan dilahirkan mutlak dan wajib hukumnya.

Jika finansial belum siap tentu akan sangat menyulitkan. Jika mencontoh Nabi, maka Nabi Muhammad SAW pun pertama kali menikah pada usia 25 tahun. Pada usia sepuluh dan belasan tahun sudah sering ikut berdagang, sehingga usia 25 tahun sudah pandai berdagang. Dalam kata lain sudah mapan secara ekonomi dan finansial.

Ada pesan dari dokter spesialis kandungan, salah satunya yang selalu digencarkan oleh Ketua Penanggulangan Stunting Indonesia Bapak DR (HC), dr. Hasto Wardoyo, SPOG (saat ini Kepala BKKBN RI), bahwa agar bibit anak berkualitas sebaiknya seorang suami dan istri “puasa selama 75 hari”, maksudnya puasa “jangan dulu” melakukan hubungan suami istri selama 75 hari. Hal ini untuk membantu agar sperma benar-benar kental dan sempurna.

Selain itu, perhatian terhadap 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) mutlak harus dipahami dan dilaksanakan oleh orang tua terhadap bayinya. 1000 HPK terhitung mulai dari usia dalam kandungan, jika usia dalam kandungan rata-rata 280 hari (= 40 minggu), maka ditambah usia bayi setelah lahir hingga 720 hari, itulah 1000 HPK. Ada juga yang menghitung 1000 HPK dengan cara menambahkan usia kehamilan 9 bulan atau (= 9 bln X 30 hari) = 270 hari ditambah usia bayi 2 tahun (2 th X 365 hari) = 730 hari, sehingga totalnya (270 hari + 730 hari) = 1000 hari.

Tetapi, perhitungan usia hamil yang paling mendekati benar adalah perhitungan yang pertama yang menggunakan minggu/pekan. Pada kurun usia tersebut janin dan bayi membutuh pemahaman dan perhatian ekstra dari kedua orang tuanya.

Kesehatan ibu hamil sendiri mutlak menjadi prioritas. Pemberian asupan gizi sejak dalam kandungan wajib hukumnya, perhatian terhadap tumbuh kembangnya juga tidak boleh diabaikan, dan tentunya diiringi bekal-bekal yang bersifat ruhani dan do’a sebagai penyempurna usaha kedua orang tua dalam menghadirkan anak-anak dan generasi bangsa yang lebih berkualitas, sehat jasmani rohani, dan yang juga tidak kalah penting agar terhindar dari stunting. Insya Allah!. (*)

 

*Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.