Keluarga Terencana, Insyaallah Bahagia

(Refleksi Hari Keluarga Indonesia, 29 Juni 2021)

119

Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si) *

 

 

Penulis sengaja mengambil judul dengan ungkapan “Keluarga Terencana…”, bukan Keluarga Berencana(KB). Sebab jika penulis ujug-ujug menulis judul diawali dengan ungkapan “Keluarga Berencana…” bisa jadi ada sebagian pembaca yang mengernyitkan dahi tanda kurang nyaman karena dalam benaknya KB adalah “alat/obat kontrasepsi” semacam suntik KB, pil KB, kondom, susuk KB, dan lainnya.

Padahal antara Keluarga Berencana dengan alat/obat kontrasepsi(alokon) adalah dua hal yang berbeda. Keluarga Berencana adalah suatu konsep dalam berkeluarga. Sedangkan alokon adalah alat/obat/cara kontrasepsi yang digunakan oleh istri maupun suami yang dapat berfungsi sebagai pencegah kehamilan.

Alokon hanyalah bagian kecil yang digunakan dalam program KB yang diselenggarakan pemerintah, dan hanya khusus dalam hal “perencanaan jumlah anak” dan/atau kesehatan reproduksi perempuan(istri). Sedangkan Keluarga Berencana dalam tataran konseptual pengertiannya sangat luas dan makro, karena menyangkut hampir seluruh aspek dalam keluarga, bahkan pra berkeluarga.

Jika dilihat dari sudut ilmu manajemen, konsep Keluarga Berencana sesungguhnya berpijak pada ilmu tsb, dan ingin mengajarkan kepada kita bahwa sebaiknya suatu hal diawali dengan rencana/planning.

Teori manajemen yang paling populer antara lain disampaikan George Terry tentang POAC atau Planning-Organising-Activiting-Controlling. Dimana suatu aktivitas manusia, apakah aktivitas individu atau organisasi, sebaiknya tidak lepas dari 4 tahapan tsb yang diawali dengan planning. Pun halnya dalam melangkah menuju hidup berkeluarga.

Seorang laki-laki dan seorang perempuan yang ingin membentuk “organisasi terkecil” dalam suatu masyarakat yang bernama “keluarga”, sebaiknya perlu perencanaan yang matang atau direncanakan dengan sebaik-baiknya.

Dalam bahasa agama (khususnya Islam), “rencana” itu identik dengan “niat” atau “himmah” (kehendak). Meskipun ada sebagian ‘ulama yang berpendapat bahwa niat itu sifatnya spontanitas sebelum suatu pekerjaan dikerjakan, namun sesungguhnya ada hal-hal lain yang mengiringi niat tsb yang pasti membutuhkan niat atau rencana-rencana sebelumnya. Contohnya dalam mengerjakan sholat.

Niat salat memang diucapkan sesaat sebelum salat dilaksanakan, misalnya saat salat maghrib kita awali dengan membaca “usholli fardhol maghribi….”, begitu selesai mengucapkan lafal niat (yang diiringi kehendak/niat dalam hati) tsb kita langsung takbir membaca “Allahu Akbar” diikuti gerak bersedekap sebagai tanda dimulainya sholat kita.

Namun jangan lupa, untuk menuju sholat maghrib tsb, ada serangkaian aktivitas yang wajib juga kita kerjakan sebelumnya, antara lain kita harus bersihkan diri dari hadats besar (bagi yang punya hadats besar) dengan mandi junub dan membersihkan hadats kecil dengan berwudhu.

Kita juga perlu menyiapkan perangkat sholat lainnya untuk kita kenakan seperti sarung, kopyah, baju yang bersih dan suci, mukenah(bagi perempuan), menyiapkan kendaraan menuju masjid, dst. Ini menunjukkan bahwa, sekedar untuk mengerjakan salat maghrib saja kita pasti membutuhkan perencanaan agar sholat maghrib kita sah, tepat waktu dan diterima Allah SWT.

Tidak bisa pulang kerja ujug-ujug menghadap kiblat baca usholli dan salat. Kecuali sudah ada rencana dan aktivitas sebelumnya untuk memenuhi persyaratan sholat, misalnya sudah berwudhu dari kantor dan mengenakan pakaian yang sesuai syariat (menutup aurat) untuk salat.

Dapat dibayangkan, untuk pekerjaan yang akan kita laksanakan selama kurang lebih 5 menit saja (salat maghrib) membutuhkan rencana yang matang. Apalagi jika kita ingin membangun keluarga yang setelahnya akan kita jalani seumur hidup? Masa sih ujug-ujug nikah, tanpa menyusun rencana yang lebih matang? Jika ujung(tujuan) dari sholat adalah “sah” dan “ingin diterima oleh Allah”, maka ujung(tujuan) berkeluarga adalah “sah” dan “ingin bahagia dunia akhirat”.

Salat yang tidak terencana bisa “tidak sah” dan (kalau tidak sah) pasti tidak bakal diterima Allah. Atau bisa saja sholatnya sah tapi belum tentu diterima Allah SWT. Begitupun dalam membangun keluarga, jika tidak terencana matang boleh jadi sah ijab qabulnya, tapi belum tentu bahagia rumah tangganya.

Menikah memang bisa diartikan sebatas ijab qabul, sah, dan bisa berhubungan badan antara suami dan istri. Tapi berkeluarga atau berumah tangga tidak sampai di situ saja. Perjalanan sangat panjang, dan liku-likunya masih luas membentang.

Bahkan dalam ajaran Islam, disamping pintu masuknya harus sah dengan ijab qabul yang sesuai syariat, kebahagian yang hendak digapai pun tidak sebatas di dunia saja, tapi juga kebahagian di akhirat kelak. Karena kehidupan berkeluarga, dalam pandangan Islam, bisa menjadi jembatan untuk kehidupan di akhirat. Bahagia atau sengsara. Surga atau neraka.

Tujuan berkeluarga dalam ajaran Islam seperti do’a umat Islam sendiri yang selalu didengungkannya setiap saat: “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar” (Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka). 

Dapatlah dipahami kenapa Nabi Muhammad pernah bersabda seperti ini: “Wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka, dapatkanlah wanita yang taat beragama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut, Nabi menekankan bahwa dalam mencari jodoh yang terpenting adalah “agamanya”. Meskipun harta, nasab(keturunan), dan kecantikan juga penting.

Mengapa harus agama yang diutamakan? Karena kunci kebahagiaan hakiki dalam keluarga adalah hal-hal yang bersumber dari ajaran agama. Contoh, Mustahil seorang suami atau istri bisa menerima segala kekurangan pasangannya jika tidak mampu bersikap ikhlas, dan sumber sikap ikhlas tentu agama.

Seorang istri diharapkan mampu bersikap manis dihadapan suaminya dalam keadaan apapun, sikap manis tersebut cermin dari akhlaknya yang terpuji (akhlakulkarimah), dan akhlakulkarimah adalah ajaran agama. Jika penghasilan suami pas-pasan atau kurang, si istri diharapkan sabar, sabar adalah ajaran agama.

Seorang suami wajib bertanggung-jawab dan menjaga keluarganya karena ada perintah Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6: “Quu angfusakum wa ahlikum naara” (Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). Ikhlas, akhlakulkarimah, sabar, dan tanggung jawab, adalah diantara ajaran agama yang menjadi kunci kebahagiaan keluarga.

Pada kegiatan Sosialisasi Pentingnya Pembangunan Keluarga dan Pembentukan SDM Unggul yang dilaksanakan oleh Kemenko PMK di Aula Diklat BKKBN Sultra tanggal 21 Juni lalu, salah satu pembicaraan hangat adalah banyaknya kasus perceraian yang bukan saja terjadi di Sultra tapi hampir di semua wilayah provinsi di Indonesia. Penyebab perceraiannya antara lain karena masalah ekonomi, perselingkuhan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Jika kita renungkan, beberapa penyebab perceraian tersebut akar penyebabnya juga tidak jauh-jauh karena tidak adanya “ikhlas, akhlakul-karimah, sabar, dan tanggung jawab”.

Jika masing-masing suami dan istri sabar, maka masalah ekonomi bisa menjadi “penenang” keduanya, sambil terus berikhtiar mencari jalan rizki yang lebih baik. Jika suami dan istri ikhlas, insya Allah, masing-masing akan “menerima” jodoh yang telah Allah berikan sehingga terhindar dari perselingkuhan.

Jika akhlakul-karimah menghiasi keluarga, yakinlah wajah keluarga kita akan harmonis karena bisa saling menghormati, menghargai, memahami, menahan diri, dan tidak akan muncul KDRT dalam keluarga. Jika semua suami bertanggung jawab, tentu tidak akan ada anggota keluarga yang terlantar.

Jika dihayati lebih jauh hadits Nabi di atas, justru “agama” dapat dikatakan sebagai “satu-satunya” rujukan untuk mewujudkan kebahagiaan keluarga. Ketiga syarat lainnya (harta, nasab dan cantik/tampan), meskipun dicari banyak orang, tapi terkadang bisa menjadi sumber keributan dalam keluarga.

Saking banyaknya harta kadang suami dan istri masing-masing memuaskan diri di luar rumah, hal ini sangat rawan memicu “pertengkaran”. Keturunan/nasab kadang menjadi sumber saling merendahkan antara suami dan istri, dan cantik atau tampan apalagi.

Ada pepatah “nyeleneh” yang penulis dapatkan dari jalanan, bahwa “perempuan makin cantik makin bahaya, dan laki-laki makin tampan dan simpatik terkadang makin gila”.

Ketiga syarat lain dalam hadits tsb (yang selain agama) juga bisa diatasi dengan ajaran agama. Untuk mendapatkan harta, agama mengajarkan manusia “berikhtiar diiringi do’a”. Untuk mengatasi nasab/keturunan agama mengajarkan “takwa” yang menyatakan dimata Allah kemuliaan seseorang hanyalah karena takwanya, bukan nasab/keturunannya.

Adapun tentang cantik/tampan, ajaran agama juga membuktikan bahwa keindahan dunia hanyalah sementara, kecantikan dan ketampanan akan pudar seiring berjalannya waktu, yang terpenting adalah kecantikan hati dan jiwa pasangan kita. Maka, salah satu yang wajib masuk dalam “perencaaan” suatu keluarga adalah masing-masing suami dan istri adalah memperdalam, menghayati dan mengamalkan ajaran agama.

Tentu, yang penulis maksud agama bisa menjadi rujukan dalam menggapai kebahagaiaan keluarga, adalah jika suami dan istri memiliki agama yang sama, bukan yang berbeda agama.

Perencanaan berikutnya, sebaiknya perempuan menikah pertama kali pada usia 20 tahun ke atas, dan laki-laki 25 tahun ke atas. Alhamdulillah, dalam Undang-Undang Perkawinan RI (no 16/2019), usia minimal menikah sudah meningkat dari sebelumnya 16 tahun perempuan dan 19 tahun laki-laki, menjadi 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan.

Usia 20 tahun yang penulis anjurkan bagi perempuan adalah usia ideal dan matang, baik dari sisi psikologis, biologis, kesiapan alat reproduksinya untuk dibuahi, juga siap mental menghadapi kehamilan/melahirkan hingga menjadi ibu rumah tangga.

Sedangkan usia 25 tahun bagi laki-laki umumnya sudah matang psikologis, biologis, plus diharapkan juga matang secara finansial/ekonomi (sudah bekerja/mapan), juga matang mentalnya untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan menjadi teladan dalam keluarga. (*)

)*Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya BKKBN Sultra)

 

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.