Memahami Fungsi Perlindungan dalam Keluarga

243

 

Oleh: Dr.H.Mustakim, M.Si*) 

 

 

Salah satu fungsi keluarga yang cukup penting adalah “fungsi perlindungan”. Perlindungan berasal dari kata “lindung” yang secara etimologis (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “perlindungan” berarti:  1 tempat berlindung (n); 2 hal (perbuatan dan sebagainya) memperlindungi.

Keluarga adalah tempat berlindung setiap anggotanya. Tokoh pertama dan utama yang melindungi keluarga adalah suami atau ayah (jika sudah memiliki anak), itulah sebabnya seorang suami/ayah disebut sebagai kepala keluarga. Tokoh kedua setelah suami/ayah adalah istri atau ibu (jika sudah punya anak).

Jika dalam suatu keluarga seorang suami/ayah meninggal sedangkan istri/ibu masih hidup yang bertindak sebagai kepala keluarga diambil alih oleh istri/ibu. Jika ayah dan ibu juga meninggal dunia, maka fungsi kepala keluarga biasanya berpindah kepada anak tertua/atau sulung.

Keluarga seringkali disebut oleh para pakar/ahli sosiologi sebagai organisasi unit terkecil dalam suatu masyarakat. Setiap organisasi, sekecil apapun, biasanya ada pemimpin/pimpinannya yang bertugas sebagai leader yang salahsatu tugasnya adalah melindungi anggota organisasinya.

Tugas suami/ayah sebagai kepala keluarga adalah memimpin keluarganya, yang salahsatu tugas kepemimpinannya adalah melindungi semua anggota keluarganya yang anggota utamanya adalah istri dan anak-anaknya. Hal ini sangat senada dengan bunyi salahsatu ayat al-Qur’an surat at-Tahrim: 6:“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Memang, ayat tersebut tidak secara eksplisit memerintahkan suami/ayah untuk melindungi keluarganya. Justru inilah salahsatu kelebihan dari al-Qur’an, karena dengan kalimat yang bersifat makro seperti itu tafsirannya bisa lebih luas.

Pertama, dari sudut pandang struktur organisasi keluarga, yang memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga tidak selamanya suami/ayah. Jika suami/ayah telah meninggal, otomatis kepala keluarga digantikan oleh istri/ibu.

Jika istri/ibu meninggal digantikan kakak sulung (seperti uraian penulis di atas). Sehingga kewajiban “melindungi anggota keluarga” tidak selamanya suami/ayah. Kalau suami/ayah masih hidup tentu masih dia yang bertanggung jawab melindungi keluarga. Jika sudah wafat otomatis tergantikan.

Kedua, ayat tersebut bisa saja ditafsirkan sebagai tanggung jawab setiap anggota keluarga untuk saling melindungi satu sama lain. Tafsiran yang menyatakan bahwa ayat tersebut ditujukan “hanya” kepada para suami/ayah adalah tafsiran yang bersifat terstruktur alias mengikuti struktur organisasi keluarga yang umumnya terdiri dari suami(ayah)-istri(ibu)-anak.

Tetapi juga tidak salah jika kita menggunakan tafsiran dari metode dan sudut lain, karena aslinya ayat tersebut bersifat makro yang ditujukan kepada orang-orang beriman secara umum.

Penulis cenderung setuju dengan Tafsir Ibnu Katsir yang menyatakan bahwa maksud dari ayat di atas adalah bentuk “kewajiban memerintahkan keluarga untuk melaksanakan hal-hal yang baik dan melarang mereka melakukan perbuatan tercela (kemungkaran), agar mereka tidak terjerumus ke dalam api neraka”. Ibnu Katsir hanya menyebut “keluarga”, yang berarti setiap anggota keluarga punya kewajiban untuk melindungi anggota keluarganya. Atau saling melindungi satu sama lain.

Sebagai contoh: suami wajib melindungi istri, tetapi istri juga wajib melindungi suami. Bentuk perlindungan seorang istri terhadap suami tentu berbeda dari bentuk perlindungan suami terhadap istri.

Salah satu bentuk perlindungan istri terhadap suami misalnya si istri wajib “melindungi” kelemahan yang dimiliki suaminya dengan tidak menceritakannya kepada orang lain dengan ghibah/gosip dan sejenisnya yang dapat menjatuhkan martabat suami dan keluarga.

Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 187 menyebutkan “Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami), dan kalian (para suami) adalah pakaian bagi mereka..”.

Fungsi paling utama dari “pakaian” adalah untuk melindungi. Jika suami atau istri diibaratkan seperti pakaian maka tentunya mereka punya kewajiban untuk saling melindungi satu sama lain.
Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dari Said bin Zaid, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Baniy juga disebutkan bahwa “Barangsiapa yang terbunuh karena (membela) keluarganya, dia syahid”.

Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita tentang fungsi perlindungan keluarga yang lebih luas, dalam artian setiap anggota keluarga, siapapun (suami, istri atau anak) ketika melakukan perlindungan untuk keluarganya, kemudian ia meninggal dunia maka ia tergolong mati syahid atau meninggal dunia dalam keadaan sama derajatnya dengan para mujahidin yang berjuang di jalan Allah SWT. Jadi, melakukan fungsi perlindungan kepada keluarga juga merupakan jihad fi sabilillah.

Bagimana contoh seorang anak “melindungi keluarganya”? Misalnya, dalam suatu keluarga yang memiliki anak laki-laki tertua yang sudah menginjak remaja atau dewasa, katakanlah sekitar usia 20 tahun, jika belum menikah maka ia masih berstatus anak dalam keluarganya, karena ia pun tinggal bersama kedua orang tuanya. Suatu saat, keluarga tersebut mendapat musibah dimasuki perampok bersenjata.

Tetapi si anak ini, demi membela dan melindungi ayah, ibu dan adik-adiknya, berani melawan perampok tersebut. Dan saat melakukan perlawanan ia terbunuh, maka anak tersebut tergolong mati syahid. Contoh kejadian ini memberikan gambaran bahwa seorang anak pun bisa melakukan “fungsi perlindungan” bagi keluarganya meskipun ia bukan berstatus sebagai kepala keluarga.

Secara umum fungsi perlindungan dalam keluarga ada yang memaknainya sebagai fungsi yang “menekankan bahwa keluarga merupakan pelindung yang pertama dan utama dalam memberikan kebenaran, keteladanan, serta tempat bernaung kepada anak dan keturunan” (sumber: http://kalteng.bkkbn.go.id/?p=674).

Benar, memberikan perlindungan dalam keluarga tidak saja dalam bentuk “naungan” secara fisik seperti yang penulis contohkan di atas.

Memberikan perlindungan juga bisa dilakukan melalui “penanaman nilai-nilai kebenaran” dan “keteladanan”. Jika kedua orang tua berusaha menanamkan nilai-nilai positif berupa nasihat, itu sebenarnya orang tua tengah berusaha memberikan perlindungan kepada anak-anaknya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif.

Begitupun halnya jika kedua orang tua dalam keseharian memberikan keteladanan (misalnya rajin ibadah, rajin bekerja, dan dicontoh anak-anaknya), juga dapat ditafsirkan sedang memberikan perlindungan kepada anak-anaknya agar tidak malas beribadah dan bekerja.

Hal ini juga senafas dengan kehendak Allah SWT seperti dalam ayat al-Qur’an Surat at-tahrim ayat 6 (seperti yang penulis paparkan di atas) agar setiap orang beriman diwajibkan melindungi keluarganya dari siksa api neraka.

Tentu saja yang dimaksud “terlindungi dari api neraka” adalah bagaimana seorang pimpinan keluarga mampu “melindungi keluarganya” dengan menanamkan nilai-nilai (atau pemikiran-sikap-perilaku) yang dapat mengantarkan semua anggota keluarganya terhindar dari api neraka. Kesimpulannya, fungsi perlindungan dalam keluarga memiliki makna lahir-batin atau jasmaniah-ruhaniah atau “luar-dalam”. Wallahu A’lam bish-shawab.(*) 

*)Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya. 

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.