Diknas Konawe Sebut Biaya  RDT Antigen dan Vaksin adalah nisiatif dari Guru Honorer

15
Suryadi

 

UNAAHA – Dugaan pungli Vasilitas Tes Antigen dan Vaksinasi Covid-19 bagi golongan pelamar PPPK guru Kabupaten Konawe, Sulawesi tenggara (Sultra) akhirnya terkuak.

Pengumpulan dana terhadap 1.530 peserta PPPK untuk kepentingan Swab Antigen dan Vaksin covid-19 ternyata inisiatif dari guru honorer.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab.Konawe, Suryadi.

Ia menjelaskan, dana yang dikumpulkan itu inisiatif dari guru honorer. Dinas Pendidikan tetap merujuk ke instruksi menteri di gratiskan.

Pasalnya saat zoom meeting pada hari Jumat 10 September 2021 dengan pihak Kemendikbud yang diikuti oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan seluruh Indonesia sebagian besar mempertanyakan biaya operasional namun hingga selesai zoom itu tidak ada tanggapan secara kongkrit.

“Namun pada intinya pemerintah pusat mengharapkan kepada Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder untuk menyukseskan penyelenggaraan PPPK. Setelah saya dengar informasi ada yang membayar langsung saya telpon koordinator kabupatennya untuk hentikan pembayaran itu,” ungkapnya kepada Rakyat Sultra.

Senada di sampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe, Sultra drg. Mawar Taligana. Dirinya membantah adanya pungutan bagi 1.530 peserta PPPK untuk kepentingan Swab Antigen dan Vaksin COVID -19.

“Itu mereka bayar dimana dan sama siapa, asal ditau saja, kami ini Dinkes laboratorium hanya membantu dengan ikhlas, karena mereka sudah mau tes besok,” kata drg. Mawar, Minggu (12/09/21), yang dihubungi via telpone.

Kata dia, Surat dari Kementerian Kesehatan dengan Nomor : SR.04.01/II/2309/2021, meminta Dinas Kesehatan kabupaten memfasilitasi pemeriksaan RDT Antigen dan Vaksin bagi peserta PPPK 2021, tanpa di pungut biaya atau gratis.

“Katanya alat RDT akan disediakan pusat, tapi kenyataan sampe saat ini tidak ada, untung kami punya stok RDT dari pembelian kami. Padahal itu untuk tracking, bukan untuk P3K,” bebernya.

“Kalau kami tetap menunggu dari pusat, terpaksa mereka RDT mandiri di klinik, RS dan dr praktek yg harganya antara Rp. 100.000 – 200.000. Kami niat baik membantu mereka. Mereka sebenarnya harusnya mandiri karena tidak ada RDT bantuan itu,” pungkasnya. (cr2/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.