Memahami Indikator Kependudukan dan KB

(Suatu Analisa dan Penilaian pada Indikator TFR)

62

 

Oleh: Dr. H. Mustakim, M.SI)*

 

Masih banyak masyarakat umum hanya tahu bahwa yang dijalankan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hanyalah urusan alat kontrasepsi. Bahkan lebih menyedihkan lagi kadang ada orang jika ingat BKKBN terlintas kondom dalam benaknya, sampai-sampai muncul plesetan bahwa kepanjangan BKKBN adalah Bocor Kondom Keluarga Bayi Nakal. Padahal instansi pemerintah non kementerian ini memiliki tugas seabrek.

Dalam kata lain banyak “indikator” yang harus digarap oleh BKKBN yang saat ini dikomandani oleh Dr (HC), dr. Hasto Wardoyo, dokter ahli kandungan yang sebelumnya dikenal sebagai Bupati Kulon Progo, Yogyakarta.

Jika merujuk pada Undang-Undang nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, yang selama ini menjadi “acuan” yang dijalankan BKKBN dalam melaksanakan tugasnya, lembaga ini memiliki tujuan (dalam pasal 4) sbb: (1) Perkembangan kependudukan bertujuan untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kuantitas, kualitas, dan persebaran penduduk dengan lingkungan hidup. (2) Pembangunan keluarga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman, tenteram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.

Dilihat dari 2 tujuan pokok tersebut tergambar betapa luasnya jangkauan tugas yang harus dijalankan BKKBN, yakni menyangkut aspek utama kependudukan dan keluarga. Aspek kependudukan, menurut ahli demografi, setidaknya menyangkut 3 hal yakni fertitilats (kelahiran), mortalitas (kematian), dan mobilitas (persebaran). Ketiga aspek ini terangkum dalam pasal 4 (UU 52/2009) ayat 1 di atas dengan kata kuantitas, kualitas dan persebaran.

Setiap kelahiran penduduk baru, akan berkaitan erat dengan jumlah (kuantitas). Banyak tidaknya kematian (mortalitas) berkaitan erat dengan kualitas penduduk setidaknya dari segi kesehatan penduduk. Sedang mobilitas penduduk pastinya berkaitan erat dengan kondisi wilayah dimana penduduk tersebut tersebar dan berdomisili.

Aspek pembangunan keluarga, yang terekam dalam tujuan ayat 2 pasal 4 di atas, menyangkuta 2 aspek sekaligus, yakni aspek pembangunan keluarga secara umum dan aspek keluarga berencana.

Aspek keluarga berencana (KB) disamping menjadi aspek pembangunan keluarga karena dianggap berpengaruh dalam proses dan tujuan pembangunan keluarga itu sendiri, aspek KB ini juga berpengaruh besar dalam mengontrol angka fertilitas atau kuantitas dan jumlah penduduk.

Urian di atas setidaknya sudah memberi gambaran tentang indikator-indikator yang digarap dalam program kependudukan dan keluarga, antara lain Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP), Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata angka kelahiran total, penggunaan kontrasepsi modern atau Contarceptiv Prevalence Rate (CPR), Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), Indeks Pembangunan Keluarga (IPK), Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), PUS yang butuh kontrasepsi tapi tidak terlayani atau Unmet Need, dll. Yang kebanyakan istilah-istilah ini cukup asing jika didengar oleh telinga masyarakat umum. Hanya pengelola program kependudukan dan KB saja yang paham atau orang-orang tertentu yang pernah bersentuhan dengan program ini.

Pada artikel kali ini penulis akan memokuskan pada indikator Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata kelahiran total. Secara definitif Total Fertility Rate (TFR) adalah jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya.

Kegunaan TFR Sebagai indikator untuk membandingkan keberhasilan antar wilayah dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonomi, menunjukkan tingkat keberhasilan program KB, membantu para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin, meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak, serta mengembangkan program penurunan tingkat kelahiran.

Diketahuinya TFR untuk suatu daerah akan membantu para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin, meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak, serta untuk mengembangkan program penurunan tingkat kelahiran. Contoh, jika TFR sebesar 2,35 berarti bahwa wanita (usia 15-49 tahun) secara rata-rata mempunyai 2-3 anak selama masa usia suburnya. (sirusa, BPS.go.id, 2021).

Rumus TFR = 5 X (ASFR1 + ASFR2 +…….ASFR7).

ASFR atau Age Specific Fertility Rate adalah Banyaknya kelahiran tiap 1.000 perempuan pada kelompok umur tertentu. ASFR untuk perhitungan TFR yang selama ini dilakukan berdasarkan kelompok umur sbb: 15-19 th (ASFR1), 20-24 th (ASFR2), 25-29 th (ASFR3), 30-34 th (ASFR4), 35-39 th (ASFR5), 36-44 th (ASFR6), dan 45-49 th (ASFR7). Jika angka ASFR1 s.d ASFR7 sudah diketahui, maka angka TFR-nya akan sangat jelas dapat dihitung.

Perhitungan TFR yang selama ini digunakan pemerintah (BPS, BKKBN, Kemenkes, dsb), biasanya menggunakan metode langsung.

Berdasarkan perhitungan langsung, sesuai hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) TFR Indonesia pada tahun 1970-an ada pada angka 5,6 (yang artinya wanita usia subur di Indonesia pada tahun 1970-an rata-rata mempunyai jumlah anak 5-6 jiwa).

Pada tahun 2002/2003 hingga tahun 2012 angka TFR Indonesia berhasil diturunkan menjadi 2,6 (selama kurun 10 tahun ini TFR Indonesia stagnan), dan hasil SDKI tahun 2017 kembali berhasil diturunkan menjadi 2,4. Ini berarti saat ini wanita (usia 15-49 tahun) secara rata-rata mempunyai 2-3 anak selama masa usia suburnya. Turunnya angka TFR dari tahun 1970-an s.d tahun 2017 adalah salahsatu bentuk keberhasilan program KB untuk mengendalikan angka kelahiran yang dijalankan pemerintah selama ini.

Disamping perhitungan langsung, menurut Lely Indrawati, Dwi Hapsari, dan Olwin Nainggolan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat, TFR yang merupakan ukuran estimasi kelahiran dapat juga dilakukan dengan cara penghitungan tidak langsung (indirect estimation), antara lain, menggunakan metode anak kandung. Metode ini memiliki beberapa keunggulan, seperti perkiraan angka kelahiran (Age Specific Fertility Rate/ASFR) dapat dirinci menurut umur tahunan dan tidak memerlukan banyak informasi/ data. Informasi pokok yang diperlukan adalah jumlah anak yang tinggal bersama ibunya menurut umur.

Namun, metode ini juga mempunyai beberapa kelemahan, seperti kealpaan/lupa jumlah anak, kesalahan pelaporan umur, dan kelebihan/kekurangan pencatatan anak maupun ibunya (Lely Indrawati, dkk, Badan Litbangkes Kemenkes Republik Indonesia, Desember 2016). Namun angka TFR resmi pemerintah tetap mengacu pada perhitungan langsung.(*)

 

)*Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.