Rare Indonesia-DKP Kolaborasi Jalankan Program PAAP untuk Tingkatkan SDM Masyarakat Pesisir Bombana

69

 

Suasana kehidupan masyarakat pesisir di Desa Lora, Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana.  Foto: Suparianto/Rakyat Sultra.

 

 

KENDARI – Rare Indonesia bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bombana, berkolaborasi untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat nelayan. Rare menjalankan program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) di Kecamatan Mata Oleo dan pulau Masaloka.

Perwakilan Rare Indonesia, Imanda Pradana mengungkapkan, program PAAP memberikan edukasi dan penguatan kepada nelayan bagaimana menjaga kawasan pesisir dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Dijelaskan, PAAP dapat mendorong konservasi wilayah laut dan perikanan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, kebijakan tata kelola dan pendanaan berkelanjutan. Program ini diharap dapat memberikan banyak manfaat bagi nelayan kecil dan masyarakat pesisir pada umumnya.

“Peningkatan pemahaman yang tepat ke masyarakat pesisir dapat mendorong pengelolaan perikanan yang baik sehingga bisa berdampak pada peningkatan ekonomi nelayan,” ungkapnya saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (21/9/2021).

Sementara itu, penyuluh perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Kabupaten Bombana, Laode Syarifuddin menjelaskan, dalam perjalanannya, program PAAP Mata Oleo dilakukan edukasi untuk peningkatan SDM nelayan. Mata Oleo memiliki hubungan persaudaraan yang erat, sehingga pulau Masaloka mempunyai keinginan juga untuk bergabung dalam kawasan PAAP.

“Laut Masaloka juga mau dilindungi, ini program bagus, banyak juga masalah kita di laut. Olehnya itu disetujui untuk pelaksanaan program PAAP di Masaloka dan Mata Oleo. Hasil survei dan kesepakatan bersama ada lima desa kawasan PAAP Mata Oleo yaitu, Desa Lora, Mawar, Tolitoli, Tambako dan Bembe,” ujarnya.

Laode menuturkan, peningkatan SDM pesisir dalam pengelolaan perikanan sangat bermanfaat. Edukasi melalui PAAP dapat menjaga keberlangsungan ekosistem laut agar tetap produktif. Pasalnya, penangkapan ikan secara berlebihan berpengaruh terhadap perkembangbiakan ikan. Sehingga perlu adanya edukasi bagaimana pengelolaan akses area perikanan dengan baik.

“Perairan Mata Oleo dan Masaloka sangat produktif, disini ada musim cumi, ruma-ruma, kerapuh, sehingga memicu konflik lokasi penangkapan ikan. Datanglah nelayan lain dari luar, mereka memasang jaring disitu sehingga menimbulkan konflik dengan masyarakat lokal, sehingga peningkatan SDM sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi konflik,” ucapnya.

Lanjutnya, industri perikanan di Mata Oleo besar, ada kepiting, ikan sunu, kerapuh, ikan putih, cumi dan masih banyak ikan lainnya. Rare mengucurkan dana hibah untuk mendorong nelayan agar bisa mandiri. Kemudian dibentuk kelompok simpan pinjam bagaimana cara pengelolaan uang yang baik.

“Jadi, dana hibah untuk bantuan nelayan agar bisa mandiri, tanam bakau untuk mengembalikan habitat ikan, pembuatan apartemen ikan agar meningkatkan produktifitas ikan,” tutupnya. (r5/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.