Resmi! Pemerintah Alihkan Saham PNM dan Pegadaian ke BRI

16

JAKARTA, — Pemerintah resmi readyviewed mengalihkan sahamnya di PT Permodalan Nasional Madani (Persero)/PNM dan PT Pegadaian (Persero) kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Hal ini sekaligus menjadi penanda terbentuknya holding ultra mikro dengan BRI menjadi induk usahanya. Pelaksanaan ini ditandai dengan dilakukan penandatanganan akta inbreng antara BRI, Pegadaian dan PNM yang dilakukan Senin (13/9/2021).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan pembentukan holding ini sejalan dengan target pemerintah untuk memberikan porsi pembiayaan pada sektor ultra mikro ini hingga 30% pada 2024 mendatang.

“Kita bisa lihat perbedaan signifikan ketika krisis 98 itu krisis finansial. Tapi hari ini krisis Covid-19 yang terjadi memang sangat terdampak UMKM dan ultra mikro,” kata Erick dalam penandatanganan tersebut, Senin (13/9/2021).

“Makanya ketika saya ada kesempatan ke lapangan saya lihat PNM BRI impact-nya luar biasa kita pastikan dengan Covid ini keseimbangan ekonomi harus terjadi, ga bisa besar makin besar dan kecil makin kecil, kita ga bisa hanya BUMN yang untung, umkm pailit. Keseimbangan ini jadi yang utama untuk holding ultra mikro,” jelasnya.

Dia menyebut langkah ini telah dimulai oleh BRI dengan mengurangi porsi pembiayaannya yang sebelumnya untuk sektor korporasi sebesar 40% saat ini tinggal 18% dan memperbesar porsi pembiayaan kepada sektor UMKM.

“Jadi saya harapkan penggabungan BRI, PNM, Pegadaian bahwa pastikan bahwa bisa terjadi bagaimana keberpihakan bunga lebih murah untuk yang di bawah dan kalau bisa sesuai kesepakatan November ini terjadi,” lanjut dia.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan dengan adanya holding ini diyakini bahwa UMKM akan menjadi sektor dunia usaha yang memegang peranan besar dan penting dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

“Kalau pemulihan ekonomi didorong mikro menjadi formal dan taruh di konteks perbankan dan diberikan pemberdayaan maka akan naik kelasnya menjadi cepat dan ini disampaikan terus ketika kita bentuk holding ultra mirko ini,” kata dia di kesempatan yang sama.

Dalam rencana holding ultra mikro ini, BRI menggelar penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Dalam prospektus yang dipublikasikan Selasa (31/8/2021), BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal dengan HMETD I.

Dengan harga pelaksanaan rights issue BBRI yakni Rp 3.400 per saham, pemerintah akan melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021.

Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam Pegadaian dan PNM akan dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng.

Nilai total PMHMETD I yang telah memperhitungkan inbreng serta eksekusi hak Pemegang Saham Publik adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 95,92 triliun.

Dana hasil dari aksi korporasi itu di antaranya akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan Holding BUMN UMi bersama Pegadaian dan PNM. (CNBC)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.