Wakapolda Sultra, Brigjen Pol. Drs Waris Agono, M.Si : Jiwa Raga Demi Kemanusiaan

261

Jiwa Raga Demi Kemanusiaan

Rakyatsultra.com, KENDARI — Sosok Brigjen. Pol. Drs. Waris Agono, M.Si. adalah salah seorang perwira tinggi Polri yang sejak 3 Agustus 2020 menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sulawesi Tenggara.

Brigjen. Pol. Drs. Waris Agono, M.Si lahir di Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya pada tgl 28 April 1968. Jebolan Akpol tahun 1990 ini berpengalaman dalam bidang Brimob, jabatan terakhir jenderal bintang satu ini adalah Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat II Sespim Lemdiklat Polri.

Jabatan demi jabatan ditapakinya di jajaran korps Kepolisian sampai dengan jabatan Wakapolda Sultra. Waris Agono mengemban tugas tersebut sejak 3 Agustus 2020.

Jenderal Bintang satu yang dikenal baik dan ramah ini ternyata punya jejak rekam karier yang patut diperhitungkan. Beberapa jabatan yang pernah diduduki oleh Brigjen Waris di antaranya Dansat Brimob Polda Lampung (2007) Kapolres Metro, Wadansat Brimob Polda Jatim (2010), Dansat Brimob Polda Kepri (2011), Dansat Brimob Polda Jabar (2012), Analis Kebijakan Madya bidang Brigade Mobil Korbrimob Polri (2016) serta Kabagops Korbrimob Polri.

Tinggal di lingkungan keluarga petani, Waris sejak kecil mempunyai cita-cita ingin menjadi polisi. Karena apa? Selain kelurga besar Waris rata-rata seorang polisi yang tampaknya gagah sekali. Entah bagaimana mendefinisikan kata “Gagah” itu pada masa kecilnya. Barangkali lebih kepada arti perlindungan. Polisi itu melindungi, sehingga Waris kecil menarik kesimpulan demikian pada sosok polisi.

Kepada Harian Rakyat Sultra ( Group Fajar dan Jawa Pos), Jenderal Bintang satu itu berbagi cerita soal pengalamannya dan tantangannya saat masih mendapat penugasan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Hatinya tersentuh ketika konflik yang terjadi di Aceh yang diakibatkan karena pada saat itu kesejahteraan di daerah tersebut tidak merata dan pemberdayaan masyarakat lokal waktu itu tidak berjalan, tidak hanya itu sumber daya alam di Aceh yang dikelola oleh sejumlah perusahaan waktu kurang dan bahka tidak memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Kata dia , sebenarnya konflik yang terjadi pada waktu itu karena ketimpangan, ketidakmerataan pembangunan, sumber daya manusia yang tidak bergerak sementara sumber daya alam yang kaya tetapi masyarakat tidak kebagian manfaatnya secara adil sehingga bagaimana masyarakat bisa berdaya.

“Bedanya waktu itu dengan pemerintahan saat ini, jelas telah nampak perubahan dan kemajuan hampir menyamai daerah-daerah di Indonesia dengan banyaknya pembangunan infrastruktur, setelah pemberlakukan otonomi daerah. Daerah memiliki kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri karena pemerintah daerah lebih mengetahui tentang kebutuhan dan pembangunan di derahnya masing-masing.

Wakapolda Sultra Brigjen. Pol. Drs. Waris Agono, M.Si

Dalam melaksanakan tugasnya, Waris menilai konflik berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) itu sangat menyedihkan. Karena konflik berbau SARA tersebut diciptakan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan yang tentunya akan membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Hal itu dapat dicegah kalau semua pihak sepakat untuk selalu menggenggam Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
“Kita sementara polisi dihadapkan dengan warganya sendiri kemudian warga ini karena dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tadi. Sementara sebagian warga tidak mengerti kalau mereka sedang digunakan oleh kepentingan kelompok tertentu. Hal seperti inilah yang tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan konflik SARA,” katanya

Aparat kepolisian dalam melaksanakan tugasnya mengutamakan tindakan pencegahan. Sehingga dalam rangka pencegahan konflik sosial, kami mewujudkan bentuk perdamaian dengan strategi dan mekanisme penyelesaian dan pencegahan konflik dengan cara musyawarah dengan kedua belah pihak yang berkonflik guna terciptanya ketenteraman dan keamanan serta terselenggaranya ketertiban di masyarakat.

Berita terkait

Sebagai Bhayangkara Korps Brimob Polri, motto pengabdian terus bergelora dalam jiwanya yakni ‘Jiwa Ragaku demi Kemanusian’ kata dia. Nilai kemanusiaan itu harus terpatri di dalam hati. Rela berkorban demi kemanusiaan.

“Bahwa nilai kemanusiaan itu harus di atas segala galanya, rusak harta rusak benda rusak barang itu bisa diganti, tapi cacat orang, hilangnya nyawa dan trauma orang itu yang tidak bisa digantikan. Tugas kami mencegah itu supaya tidak tumbuh konflik dan korban jiwa,” jelasnya.

Wakapolda Sultra tak henti-hentinya mengajak kita semua untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, serta memedomani UUD 1945 dengan dasar Pancasila. Negera ini milik kita bersama, milik semua anak bangsa bukan milik individu atau 1 golongan saja.

Dengan Membaca Asmaul Husna, Pernah Menenangkan Ribuan Massa

MASIH teringat di hati Bapak Waris Agono, Saat itu dirinya masih menjabat Kasat Brimob Polda Jawa barat. Ribuan massa merangsek masuk dan menjebol barikade kawat berduri untuk mendekati Gedung DPRD Garut, guna mendesak agar paripurna DPRD Garut mengeluarkan rekomendasi pemberhentian Bupati Aceng HM Fikri dari jabatannya menyusul terkuaknya kasus nikah kilatnya dengan seorang dara belia. Pada 19 Desember 2012 silam.

Setelah rapat paripurna ditutup dan para anggota dewan membubarkan diri, aksi massa oleh salah satu organisasi masyarakat masih berlangsung di Jalan Pahlawan, Garut, yang jaraknya sekitar 20 meter ke gedung dewan.
Malah, sempat terjadi ketegangan yang dilakukan massa aksi dengan melemparkan batu dan air mineral ke arah barikade polisi dan gedung dewan.

Beruntung kejadian mereda setelah salah satu koordinator aksi menenangkan massanya untuk tidak berbuat anarkis. Dengan membaca asmaul husna, Satbrimob pun ternyata diikuti oleh seluruh pendemo, polisi dan warga sekitar. Mereka sepakat duduk bersila sambil berdoa dan bershalawat yang terus dikumandangkan. Setelah itu, Kasat Brimob Polda Jabar saat itu masih berpangkat Kombes Pol Waris Agono yang berada di tengah-tengah aksi, pengama nan meminta pendemo untuk tenang dan terciptalah rasa aman seketika. Alhamdulillah….

Dukung Penanganan Covid-19

SEMENJAK transformasi Polri yang presisi mendukung percepatan penanganan Covid-19 untuk Masyarakat Sehat dan Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia Maju. Polda Sultra terus menyalurkan bantuan sembako guna meringankan beban masyarakat di masa pandemi. Tidak hanya itu, Dalam melaksanakan tugasnya Brigjen. Pol. Waris Agono terus bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah sebagai salah satu kata kunci dalam penanggulangan pandemi dan upaya Polda Sultra untuk mengejar target vaksinasi sehingga bisa tercapai herd immunity di daerah ini.

Orang nomor dua di Mapolda Sultra itu turun langsung memantau setiap jalannya vaksinasi massal Covid-19 di beberapa gerai vaksinasi yang dilaksanakan Mapolda Sultra maupun Dinas Kesehatan Sultra.
Selain mengapresiasi pelaksanaan vaksinasi warga, Waris Agonoa berharap ada pemberdayaan penduduk lokal oleh seluruh pemangku kepentingan, sehingga tidak terjadi ketimpangan kesejahteraan. Pemberdayaan penduduk lokal ini mesti dimulai dengan meningkatkan kapasitas atau kemampuan dan ketrampilan sumber daya manusia, terutama penduduk usia produktif, lulusan sekolah dan lulusan perguruan tinggi.

Pemberdayaan ini tentu harus sejalan dengan kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri pertambangan dan perikanan yang sedang berjaya di Sultra. “Kita berharap agar penduduk lokal berada di barisan terdepan dalam gegap gempitanya industri yang sedang berlangsung. Selain itu juga harus ada perubahan pola pikir agar tidak tertinggal dalam hal kemampuan dan ketrampilan. Harus mau dan mampu meningkatkan skill, knowlegde dan attitude agar memiliki daya saing,” pungkasnya. (P2/B/idu)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.