Covid-19 Sudah Melandai, OJK Dorong Percepatan Pemulihan UMKM

96
Arjaya Dwi Raya.

 

KENDARI – Pandemi Covid-19 membawa dampak kepada perekonomian Indonesia secara menyeluruh, termasuk juga pada segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Penurunan kinerja UMKM ini tentunya berdampak juga terhadap kinerja kredit UMKM sektor perbankan.

Sebagai respon terhadap kondisi ini, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan otoritas terkait lainnya telah menerbitkan berbagai stimulus dalam rangka mendorong pemulihan UMKM.

Dalam mentransmisikan berbagai stimulus dimaksud, pemerintah dan otoritas melibatkan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) khususnya bank, mengingat bank memiliki jangkauan yang luas dan menyasar semua lapisan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala OJK perwakilan Sultra, Arjaya Dwi Raya saat ditemui di Kendari, Kamis (14/10/2021).

Dijelaskan, pemberlakuan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam meminimalkan dampak pandemi telah memberikan perubahan pada perilaku transaksi masyarakat dari manual ke transaksi digital.

Perubahan pola transaksi tersebut perlu diikuti oleh pelaku UMKM agar UMKM dapat bertahan dan berkembang.

“Tidak hanya UMKM, bank juga perlu segera beradaptasi dengan terus melakukan penyesuaian strategi yang inovatif dalam memberikan solusi pembiayaan kepada UMKM pada era ini,” ujarnya.

Arjaya menuturkan, OJK sejak awal pandemi telah menunjukkan komitmen terhadap UMKM yang berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian nasional. POJK 11/2020 tentang Restrukturisasi Kredit diberikan, lalu masa stimulus pun diperpanjang melalui POJK 48/2020 karena kondisi UMKM belum sepenuhnya pulih.

Pihak otoritas telah menyiapkan tujuh strategi kebijakan untuk menyatukan proses bisnis UMKM dalam satu ekosistem.

Itu dimaksudkan agar para UMKM saling terintegrasi secara digital dari hulu sampai ke hilir.

Pertama, kata dia, OJK mendorong akses perluasan keuangan melalui pembentukan skema klaster, “OJK telah mengidentifikasi ada 186 klaster potensial di seluruh Indonesia, lebih dari 100 jenis usaha UMKM di berbagai sektor ekonomi. Antara lain pertanian, perikanan, peternakan, dan juga mining, yang merupakan sektor sasaran untuk KUR khusus.

Kedua, mengembangkan bank wakaf mikro yang berbasis digital untuk mendukung pembiayaan UMKM disertai dengan pendampingan. per September 2021 telah berdiri 61 bank wakaf mikro yang telah dirasakan manfaatnya oleh 47,6 ribu nasabah.

“Ketiga, OJK membuka akses pembiayaan melalui pendekatan P2P lending melalui security crowdfunding untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum bankable untuk masuk ke pembiayaan,” imbuhnya

Lanjutnya, stimulas keempat, OJK juga membangun platform sebagai pelengkap, yaitu bagaimana bisa memasarkan produk UMKM melalui platform digital e-commerce. Ada platform yang dibentuk secara khusus yang dibentuk non-komersial, yang kita sebut platform UMKMu.

Kelima, OJK melakukan kerjasama dengan pemangku kepentingan daerah dalam platform tim percepatan akses keuangan daerah (TPAKD) untuk perluasan inklusi keuangan masyarakat di daerah-daerah. Ini diinisiasi agar akses keuangan lebih cepat sampai ke masyarakat, serta mereka paham produk dan risikonya, dan juga demi menyalurkan pembiayaan murah.

Dia menambahkan, strategi keenam, OJK memperluas kredit pembiayaan melawan rentenir yang diberikan lembaga jasa keuangan kepada pelaku UMKM dengan proses cepat, mudah, berbayar rendah. Untuk mengurangi ketergantungan para pemodal yang bersifat menjerat, yaitu rentenir, atau bahkan pemodal-pemodal ilegal.

“Kemudian terakhir, OJK juga mengimplementasikan program kerja business matching di kantor OJK untuk mempertemukan UMKM, dengan sumber pembiayaan dari lembaga jasa keuangan,” tutupnya. (r5/b/aji) 

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.