Dosen Biologi UHO Edukasi Teknologi Pembuatan Pupuk Kompos kepada Warga Wadiabero

73

 

Suasana tim pengabdian Biologi FMIPA UHO saat melakukan pelatihan pembuatan pupuk organik EM4 dan Bokashi. Foto: Dirma/Rakyat Sultra

 

KENDARI – Sejulah dosen Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) mengedukasi warga Desa Wadiabero, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, sebagai upaya peningkatan kualitas dalam hal teknologi pembuatan pupuk kompos.

Itu dilakukan sebagai bagian Pengabdian Kemitraan Internal jurusan Bilogi F-MIPA UHO kepada masyarakat.

Dalam kegiatan pengabdian tersebut melibatkan empat orang dosen Biologi FMIPA UHO yakni Muhsin, S.Pd., M.Si., Dr. Hj. Indrawtai, M.Si., Dr. Amirullah, M.Si. dan Ardiansyah, S.Si., M.Si. serta dibantu oleh beberapa mahasiswa sebagai pembantu lapangan.

Ketua pelaksana kegiatan pengabdian, Muhsin mengungkapkan, pengabdian ini bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Wadiabero, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah. Katanya, tim pengabdian kepada masyarakat dibantu oleh beberapa mahasiswa melakukan pelatihan pembuatan pupuk organik EM4 dan Bokashi.

“Kegiatan ini bertujuan untuk pengembangan teknologi pembuatan pupuk kompos dengan pemberian bioaktivator lokal sebagai sumber bahan organik dalam upaya restorasi lahan di kawasan karst Kabupaten Buton Tengah. Kegiatan ini merupakan salah satu terobosan untuk meminimalkan pembukaan lahan hutan kawasan karst di Kecamatan Gu di lahan pertanian,” ungkapnya.

Ia mengatakan, penerapan pupuk kompos ini berbasis ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya hayati yang tersedia bebas di sekitar lingkungan kawasan karst di Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah.

Bahan pembuatan kompos berstimulator EM4  berbiaya murah dan mudah dilakukan serta kompos yang dihasilkan lebih ramah lingkungan.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini sangat berguna untuk memperluas pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai kualitas produk pangan hasil bercocok tanam menggunakan teknologi tepat guna. Sehingga petani belum terbiasa atau belum mengenal bioaktivator untuk kompos perlu diberi penyuluhan dan percontohan pembuatan kompos dengan aktivator.

“Pengabdian ini merupakan salah satu kewajiban para dosen dalam berkontribusi untuk negeri. Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat merupakan elemen dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 29 September 2021 dan dihadiri oleh masyarakat Desa Wadiabero yang tergabung dalam kelompok tani desa,” ujarnya.

Muhsin juga menerangkan, ada tiga permasalahan yang ditemui. Pertama, keterbatasan lahan dengan daya serap air dan ketersediaan unsur hara yang cukup untuk bercocok tanam sehingga diperlukan teknologi tepat guna untuk mengurangi sistem pertanian ladang-pindah yang berdampak pada kelestarian ekologi kawasan kars.

“Kedua, kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang teknologi tepat guna pembuatan sumber daya hayati yang melimpah sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik. Ketiga, masyarakat kurang mendapat kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi tepat guna untuk bercocok tanam menghasilkan produk pertanian yang bernilai ekonomi yang dapat dijual,” pungkasnya. (cr5/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.