Ketika Rare Indonesia Datang dengan Program Pengenalan Akses Area Perikanan di Bombana

Nelayan Berharap Biota Laut Lestari, Terumbu Karang dan Mangrove Bisa Melestarikan Ikan 

94

 

Suasana nelayan Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana usai melakukan penangkapan ikan.

 

Perairan Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana sangat produktif dengan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Pasalnya, perairan Mata Oleo memiliki berbagai musim panen ikan, yaitu ada musim cumi, ruma-ruma, sedangkan ikan lainnya yang bernilai ekonomi tinggi selalu ada selama habitatnya terjaga. 

Oleh: SUPRIANTO, Kendari

Salah satu nelayan di Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana, Amir (33 tahun) mengatakan, selama tiga tahun terakhir ini, hasil tangkapan menurun akibat ulah masyarakat yang tidak menjadi habitat perkembanganbiakan ikan.

Terumbu karang yang rusak dan hutan mangrove yang berkurang kuantitasnya sebagai pemicu utama turunnya produktivitas perikanan di Mata Oleo. Pengrusakan terumbu karang diakibatkan oleh ulah manusia yang melakukan penangkapan ikan dengan cara melakukan pemboman dan menggunakan racun ikan.

Selain itu, penurunan kuantitas mangrove disebabkan oleh penebangan mangrove untuk bahan kayu bakar di daerah pesisir Mata Oleo. “Kami berharap agar habitat ikan dapat terjaga dan dilestarikan untuk produktivitas ikan yang melimpah di massa yang akan datang,” ungkapnya saat ditemui belum lama ini.

Sebelumnya, pada tiga tahun terakhir, habitat ikan masih terjaga sehingga tingkat produktivitas hasil tangkapan melimpah. Nelayan tidak melakukan penangkapan jauh hingga diperairan Kabaena, namun kali ini karena produktivitas ikan menurun sehingga melakukan penangkapan sampai di pulau Kabaena.

Dari sisi ekonomi, terkadang nelayan mengalami kerugian karena beban akomodasi saat melakukan penangkapan jauh lebih besar dari pada hasil tangkapan yang dilakukan. Beban bahan bakar kapal dan konsumsi saat melakukan penangkapan ikan itu, jauh lebih besar dari hasil yang didapatkan.

Namun, kata dia, adanya program dari Rare Indonesia melalui pengenalan akses area perikanan (PAAP) menjadi motivasi dan spirit untuk memanfaatkan area perikanan dengan baik sehingga bisa menjaga produktivitas dan perkembangan ikan di Kecamatan Mata Oleo.

Sementara itu, kepala Desa Lora Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana, Syukur Dullah (48 tahun), menjelaskan bahwa tiga tahun terakhir hampir semua nelayan turun memancing cumi. Banyak produksi, namun tahun ini produksi cumi menurun.

Nelayan Mata Oleo berlabuh usai menangkap ikan. 

Musim cumi tahun terlambat panen pengaruh musim dan cuaca yang kurang baik, sehingga produktivitas menurun. Kemarin sempat timbul cumi selama tiga hari namun menghilang lagi.

Untuk keberlangsungan karang hidup hampir 100 persen berkurang. Syukur berharap agar masyarakat kembali sadari bahwa semua kejadian kerusakan karang dan berkurangnya hutan mangrove ini karena ulah masyarakat sendiri.

Kata dia, jumlah kepala keluarga di desa Lora sebanyak 413 kepala keluarga dan sebagai besar penduduknya adalah nelayan.

“Dulu kondisi karang disini saya bisa baku tantang dengan warga Wakatobi bahwa seperti apa kondisi karang disana, disini juga keadaan karang di Mata Oleo indah dan bagus kita punya karang. Jernih sekali airnya, karang berwarna warni. Tapi sekarang di karamba saja susah ditemukan. Hal itu disebabkan adanya penangkapan menggunakan cara ilegal yaitu bius, bom, dan racun,” ucapnya.

Hadirnya program PAAP sangat membantu nelayan dalam mengelola dan melestarikan akes area perikanan di Mata Oleo. Pihaknya memberikan apresiasi terhadap Rare yang menginiasi pelestarian lingkungan perikanan sehingga bisa bermanfaat untuk generasi yang akan datang.

Salah satu perwakilan Rare Indonesia, Imanda Pradana mengungkapkan, Rare Indonesia bersama dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Bombana berkolaborasi untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat nelayan. Rare menjalankan program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) di Kecamatan Mata Oleo dan pulau Masaloka.

PAAP memberikan edukasi dan penguatan kepada nelayan bagaimana menjaga kawasan pesisir dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Dijelaskan, PAAP dapat mendorong konservasi wilayah laut dan perikanan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, kebijakan tata kelola dan pendanaan berkelanjutan. Program ini diharap dapat memberikan banyak manfaat bagi nelayan kecil dan masyarakat pesisir pada umumnya.

“Peningkatan pemahaman yang tepat ke masyarakat pesisir dapat mendorong pengelolaan perikanan yang baik sehingga bisa berdampak pada peningkatan ekonomi nelayan,” katanya. 

Hal senada disampaikan oleh penyuluh perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Kabupaten Bombana, Laode Syarifuddin, bahwa perairan Mata Oleo sangat produktif, disini ada musim cumi, ruma-ruma, sehingga memicu peningkatan hasil tangkapan ikan.

Untuk pasaran nelayan itu dilakukan kepada pengumpul yang juga merupakan pemodal bagi nelayan yang akan melaut. Ditanggung makan, alat tangkap, bahan bakar solar, kemudian ada juga nelayan mandiri, pemodal juga di drop ke pengumpul yang ada di Kasipute dan dipasarkan hingga ke Kendari dan Kolaka.

“Industri perikanan di Mata Oleo besar, ada kepiting, dan ikan bernilai ekonomi tinggi. Namun karena produktivitas menurun, nelayan bisa menangkap hingga ke pulau Kabaena,” ujarnya.

Laode menuturkan, dalam perjalanannya, PAAP Mata Oleo dilakukan edukasi untuk peningkatan SDM nelayan. Mata Oleo memiliki hubungan persaudaraan yang erat, sehingga pulau Masaloka mempunyai keinginan juga untuk bergabung dalam kawasan PAAP.

“Laut Masaloka juga mau dilindungi, ini program bagus, banyak juga masalah kita dilaut. Olehnya itu disetujui untuk pelaksanaan program PAAP di Masaloka dan Mata Oleo. Hasil survei dan kesepakatan bersama ada lima desa kawasan PAAP Mata Oleo yaitu, Desa Lora, Mawar, Toli-toli, Tambako dan Bembe,” ujarnya.

Peningkatan SDM pesisir dalam pengelolaan perikanan sangat bermanfaat. Edukasi melalui PAAP dapat menjaga keberlangsungan ekosistem laut agar tetap produktif. Pasalnya, penangkapan ikan secara berlebihan berpengaruh terhadap perkembangbiakan ikan. Sehingga perlu adanya edukasi bagaimana pengelolaan akses area perikanan dengan baik.

Selain itu, lanjutnya, konflik lokasi penangkapan ikan juga sering terjadi dengan nelayan lain dari luar di kawasan larang ambil (KLA), mereka memasang jaring sehingga menimbulkan konflik dengan masyarakat lokal. Bom ikan itu terjadi karena ulah masyarakat juga, sampai sekarang masih ada bom ikan.

Kemudian terjadi pembiusan, sehingga masalah Mata Oleo kompleks. Nelayan luar lebih canggih alat tangkapnya, kemudian ketika melakukan penangkapan ikan melilit nelayan lokal dengan pukat yang ada.

“Untuk cara menyelesaikan konflik dilakukan dengan mengundang TNI AL pemerintah Desa dan DKP Bombana untuk mempertemukan kedua nelayan tersebut,” tutupnya. (*)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.