Laonti yang Kini Jadi Pelita di Ufuk Timur Konsel

55
Desa Tuetue Kecamatan Laonti, Kabupaten Konsel

 

ANDOOLO – Konawe Selatan (Konsel), sebuah kabupaten yang menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) tahun 2003 lalu dari Kabupaten Kendari dengan sepuluh kecamatan yang ada.

Sejak menjadi DOB 18 tahun silam, kabupaten yang beribukota di Andoolo ini memiliki daya saing yang cukup tinggi sebanding dengan daerah-daerah pemekaran baru yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hal itu terlihat dengan hadirnya berbagai investor untuk berinvestasi. Utamanya sektor pertambangan dan perkebunan.

Seiring waktu berjalan, Kabupaten Konsel yang kini memiliki 25 kecamatan, 336 desa dan 15 kelurahan. Dari 25 kecamatan yang ada ada satu kecamatan dikenal sebagai daerah paling terisolasi. Terkadang disebut sebagai tempat “pembuangan tugas” bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak loyal pada atasan.

Mendengar kecamatan ini biasa pengabdi pemerintah di Konsel bisa meriang. Panas dingin tidak tidur. Biasanya muncul istilah “saya dibuang di Laonti. Yah, itulah namanya. Kecamatan Laonti .

Bagaimana tidak, Kecamatan Laonti yang dulunya dianggap terisolir dan marginal kini jadi primadona. Liat saja, Desa Wisata ada di Laonti, pemerintah daerah sudah membangun jalan darat menuju ibukota Kecamatan Laonti, jaringan telekomunikasi terakses, meskipun listrik siang belum ada. Terbaru, investor tambang masuk Laonti.

Kecamatan Laonti tidak seseram orang dulu. Laonti yang hanya ditempuh dengan jalur laut dan dulu kurang disentuh, sekarang sudah dijamah. Dijamah program pemerintah lewat infrastrukturnya. Disentuh oleh investor dengan bantuan sosialnya.

Itulah yang dirasakan masyarakatnya saat ini. Sudah mulai tersentuh pelan-pelan. Biasanya nelayan melaut, petani berkebun pulangnya tergantung hasil.

Sekarang, nelayan melaut, petani berkebun melimpah atau tidak hasil kerja hari ini asalkan dia warga sembilan desa tiap bulan tetap terima gaji. Gajinya rata. Mau dia petani, nelayan, PNS swasta asal sudah nikah dan warga sembilan desa, datang bulan langsung meleleh.

Tambahan penghasilan bagi masyarakat tak luput dari hadirnya perusahaan tambang di Kecamatan Laonti. PT Gerbang Multi Sejahtera (GMS) getol meringankan beban pemerintah daerah dalam menjawab ketertinggalan yang ada di Laonti.

Mulai dari merehabilitasi rumah ibadah di sembilan desa lingkar tambang dan sepuluh desa luar lingkar tambang. Membangun asrama mahasiswa Kecamatan Laonti di Kendari. Memberikan fasilitas puskesmas keliling bagi seluruh masyarakat Laonti. Sepuluh desa diluar lingkar tambang juga diberikan kesempatan PBM (Perusahaan Bongkar Muat) untuk dikelola secara bergilir. Pembagian sembilan bahan pokok (sembako). Pelibatan tenaga kerja lokal.

Dari data manajemen PT GMS, perusahan telah memberikan kompensasi dampak setiap bulannya kepada warga di sembilan desa lingkar tambang. Untuk Desa Ulusawa, Sangisangi, Tuetue, Lawisata menerima Rp 5 ribu rupiah per metrik ton setiap Kepala Keluarga (KK).

Sedangkan lima desa lingkar tambang yakni Cempedak, Kondono, Pundiranga, Peoindah dan Laonti menerima Rp2 ribu per metrik ton setiap KK perbulannya, Itu belum dihitung.

Sebab, apa yang telah direalisasikan itu baru sebatas program jangka pendek dan menengah. Menurut Humas PT GMS, Airin Sakoya, masih terdapat program jangka panjang perusahaan. Seperti perbaikan infrastruktur jalan, drainase maupun jembatan guna kesejahteraan masyarakat Laonti.

Tokoh masyarakat Desa Ulusawa, Antasari (40) mengapresiasi hadirnya perusahaan pertambangan di Laonti.

“Kita syukur perusahaan masuk. Alhamdulillah kompensasi perbulannya kita terima. Juga meringankan kebutuhan keluarga,” pandang Antasari.

Tak hanya kompensasi kata dia, ada pelibatan pemuda untuk pengelolaan PBM. Dimana selain dilaksanakan bergilir agar merata, kata dia, warga diberi upah.

Dia yang kesehariannya sebagai nelayan mengaku tidak terganggu dengan hadirnya perusahaan tambang. Utamanya dengan hasil melautnya.

Dia berharap PT GMS tetap eksis melaksanakan aktivitas pertambangan.

Senada dengan itu, Tokoh Perempuan Desa Sangisangi, Misrawati S.Pd mengaku hadirnya PT GMS memberikan kontribusi nyata di Kecamatan Laonti. Terutama bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, dan tenaga kerja.

“Kita syukur sudah dibangunkan asrama mahasiswa, ada ambulans laut. Dan didesa saya ini banyak tenaga kerja yang direkrut. Alhamdulillah,” ujarnya.

Soal kompensasi tiap bulannya, Misrawati yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga mengaku bersyukur. Karena, lanjut dia, komensasi setiap bulan meringankan kebutuhan keluarga.

“Jujur ini kompensasi membantu sekali. Utamanya untuk keluarga. Itu kalau sudah mau terima pasti muka berseri-seri,” ujarnya dengan canda.

Saat ditanya apakah air laut di desanya keruh atau kabur akibat aktivitas penambangan, ia mengaku aktivitas penambangan tidak mempengaruhi keruhnya (kabur) air laut.

“Di desa saya ini yang berhadapan dengan laut, air laut itu keruh atau kabur kalau musim hujan. Itupun yang bikin kabur karena muaranya sungai. Ini di desa ada dua sungai. Hilirnya di desa kami. Jadi kalau hujan jelas banjir, larinya di laut,” jelasnya.

Dia menilai, isu pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan PT GMS tidaklah benar.

Dikatakanya, ada segilintir orang yang coba memaikan isu ini namun itu semua terbantahkan dengan kondisi ril di lapangan.

“Kasian masyarakat dibawah bawah dengan isu ini padahal mereka tidak perna tahu apa apa. Padahal mereka ingin menikmati masuknya perusaahaan tambang ini,” jelas Mantan Kepala Desa Sangisangi itu.

Kata dia sebagai mantan Kepala Desa Sangi Sangi tahu persis karakter masyarakatnya. Terkait pro dan kontra masuknya perusahaan hal biasa. Namun harus disikapi dengan bijak.

“Konpensasi yang diberikan perusahaan ini bisa dibilang cukup tinggi dan itu merata pada masyarakat. Baik yang kontra dan pro tetap dapat. Bantuan lain juga sudah sudah disalurkan dan saya kira itu sebuah bentuk komitmen perusahaan PT GMS,” tutupnya. (ram/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.