LPSE Mubar Dituding “Bermain” dalam Lelang Proyek

311
AMLM melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor LPSE Pemkab Mubar. Mereka mengganggap, oknum dilingkaran LPSE, tidak beres dalam menangani tender proyek. Foto: Erik/Rakyat Sultra.

 

LAWORO – Aliansi Mahasiswa Laworo Menggugat (AMLM) melakukan demonstrasi di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna Barat (Mubar), Rabu (6/10/2021).

Mereka menyasar bagian Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang dinilai tidak sesuai aturan dalam melakukan lelang proyek. Mereka menuding, ada oknum pegawai yang “bermain” dalam memenangkan tender sejumlah proyek.

Tudingan itu, berangkat dari dua perusahaan ditahun anggaran 2020 menang tender secara fiktif alias tidak melalui prosedural dan tidak pernah ikut pembuktian kualifikasi di kantor ULP Mubar.

Pertama, CV Adhid Jomphy, milik Pokja atas nama Ns.Jabur notabene pegawai LPSE. Perusahaan itu, menang tender sebanyak 8 paket dengan anggaran sebesar Rp 4.557.900.000 dan melampaui sisa kemampuan paket.

“Di mana seharusnya SKP = KP-P. Kemampuan paket dalam satu tahun anggaran 2020. Dan ditahun anggaran 2021, CV Adhid Jompi telah menang tender sebanyak tiga paket. Diantaranya, pembangunan pasar kasimpa jaya, dengan anggaran Rp3,4 m pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat,” teriak Korlap Ikmal dalam tuntutannya, Rabu (6/10/2021).

Kedua, lanjut Ikmal, CV Ghaniyu Qootahu Mandiri milik Pokja atas nama Faqqih. Perusahaan ini menang tender sebanyak 9 paket, dengan total anggaran Rp7.987. 300.000. Dan itu dinilai melampaui sisa kemampuan paket dalam tahun anggaran 2020.

AMLM juga menuding, belanja jasa internet kantor dan unit kerja pengadaan barang dan jasa tahun 2020 sebesar Rp 600.000.000 dinilai bermasalah. Pasalnya, server tidak pernah aktif.

“Hanya Pokja CS yang dapat mengakses server dan inprosedural dalam pengadan tender. Mereka memonopoli kegiatan tender. Kantor tidak pernah terbuka. Lebih banyak tertutup. Di dalam kantor pula tidak terdapat server LPSE. Server sulit pula diakses,” teriaknya lagi.

Sebagai aksi protes juga, AMLM membakar ban bekas di depan kantor LPSE. Kendati begitu, para demontrasi tak ada yang menemui. Kantor LPSE yang menjadi sasaran, tak terlihat pegawainya. Unit kerja itu seperti tak terurus lagi. Sebab, sudah menjadi fenomena umum, bagian LPSE selalu kosong.

Usai demonstran pulang, Kepala LPSE Ahmad Shabir Sam M, baru muncul. Saat menghampiri jurnalis, ia mengaku, ada pelarangan untuk tidak menemui demonstran. Sebab, aksi yang dilakukan, tidak memiliki izin.

“Dilarang menemui demontran. Karena, tidak ada izin,” timpalnya. (m1/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.