Segera, Smelter Bahan Baku Baterai Mobil Listrik Akan Dibangun di Kalsel

44

Rakyatsultra.com,–  Ekosistem menuju era elektrifikasi kendaraan di tanah air tampaknya segera terwujud. Belum lama ini, Hyundai menggandeng LG mengumumkan groundbreaking pabrik sel baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat.

Yang terbaru, untuk melengkapi ekosistem kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia, perusahaan patungan antara CATL, produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia dengan Putailai, produsen katoda baterai lithium terbesar di dunia mengumumkan kerja samanya dengan PT SILO untuk membangun smelter baterai mobil listrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dengan mengandeng PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) yang merupakan bagian dari Salim Group, perusahaan papan atas tambang biji besi itu melakukan ground breaking proyek smelter RKEF PT Excellen Silo Ferroalloy di Kotabaru.

Sebagai informasi, Hongkong Excellen merupakan perusahaan patungan antara Robin Zeng founder dan shareholder pengendali CATL produsen baterai mobil listrik bersama dengan Liang Feng founder dan shareholder pengendali Putailai produsen katoda baterai lithium terbesar di dunia.

Kedua perusahaan ini memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. “Kami bekerjasama untuk mencari pasokan sumber daya logam untuk bahan baku baterai mobil listrik. Dengan keunggulan itu, kami bersinergi sehingga menjadi faktor penting penjamin kesuksesan proyek ini,” tegas Huang Shanfu, Presiden Direktur PT Excellen Silo Ferroaloy saat meresmikan peletakan batu pertama smeleter, di Kotabaru, Rabu (29/9).

Ditambahkannya, investasi yang ditanamkan dalam proyek tersebut mencapai USD 65 juta atau berkisar Rp 930 miliar lebih. “Kami menargetkan akan berproduksi pada Mei 2022 mendatang,” sambung Huang.

Pada tahap pertama Smelter yang ramah lingkungan ini nantinya akan memproduksi sekitar 80 ribu ton ferronickel per tahun dan akan secara langsung menyerap 350 orang lebih karyawan dari penduduk lokal.

Berita terkait

Selanjutnya, proyek tahap kedua adalah smelter leaching yang memproduksi bahan baku baterai mobil listrik dengan nilai total investasi sebesar USD 220 juta atau setara dengan Rp 3,1 triliun di mana direncanakan pembangunan dimulai pada awal tahun 2022, dan commissioning produksi pada Juli 2023.

Sementara itu, Presiden Direktur PT SILO, Effendy Tios menambahkan bahwa industri membedayakan cadangan mineral dari Pulau Sebuku yang memiliki potensi sangat besar. “Selama kita menjalankan dengan baik, apalagi dengan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan seperti smelter ini, maka cadangan mineral ini tidak akan habis sampai 50 tahun ke depan,” ujar Effendy Tios.

Diharapkan, pembangunan smelter ini akan segera menggerakkan industri terkait serta meningkatkan perekonomian dan taraf hidup masyarakat. “Semua industri terkait akan berjalan, pajak dan pendapatan negara akan meningkat, lapangan pekerjaan terbuka lebar dan ekonomi masyarakat akan lebih baik,” tambahnya.

Effendy Tios menegaskan, PT SILO sebagai perusahaan dalam negeri yang berkomitmen terus menjadi perusahaan nasional tidak akan menjual izin tambang atau saham ke perusahaan asing.

“Dalam kerja sama ini, SILO menjadi suplayer bahan baku, sehingga perusahaan tetap independen dikelola sesuai undang-undang dengan memperhatikan kepentingan negara Indonesia,” tegasnya.

Disebutkan juga, efek ekonomi yang paling dirasakan masyarakat adalah ketersediaan listrik selama 24 jam serta tumbuhnya beberapa jaringan telekomunikasi. “Karena listriknya sudah tersedia, maka jaringan komunikasi juga bermunculan. Beberapa BTS dibangun, komunikasi telepon seluler makin lancar,” tegasnya.

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.