La Hardin: PGRI Lahir untuk Membantu Kesulitan Guru

7
La Hardin.

 

BATAUGA- Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Buton Selatan punya cara sendiri memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan Hari Ulang Tahun ke-76 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Kali ini, para pahlawan tanpa tanda jasa se-Kabupaten Busel menghelat upacara bendera di Lapangan Lakarada, Kabupaten Buton Selatan, Kamis (25/11/2021).

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Buton Selatan, La Hardin menuturkan peringatan HGN dan HUT PGRI tahun 2021 tidak terlepas dari perjuangan organisasi profesi guru se-Indonesia untuk membentuk organisasi sebagai mitra pemerintah. Dimana, hal tersebut dilakukan oleh organisasi profesi guru dalam kongres yang dihelat pada 24-25 November 1945.

“Dalam kongres yang mempertemukan berbagai organisasi guru dengan latar belakang berbeda itu maka dicetuskanlah PGRI sebagai organisasi yang menyatukan guru-guru dengan profesi yang berbeda-beda,” tuturnya

Kata dia, selain sebagai mitra pemerintah, lahirnya PGRI diyakini pihaknya sebagai corong untuk memperjuangkan kaum guru. Baik itu, hak-haknya sebagai abdi negara maupun pemberian pendampingan ketika guru-guru tersebut bersengketa hukum.

“Sejak berdirinya PGRI Buton Selatan, kami sudah pernah melakukan pendampingan terhadap seorang guru yang merasa diancam oleh oknum. Namun berkat mediasi yang dilakukan dan berjalan dengan baik sehingga persoalan itu tidak sampai ke ranah penegak hukum karena dapat diselesaikan secara kekeluargaan,” tambahnya.

Dia menambahkan, dalam momentum hari guru nasional dan HUT PGRI ke-76 ini, telah memberikan secercah harapan bagi para guru tidak tetap (GTT).

GTT yang sebelumnya hanya mendapat honor apa adanya, terbaru dapat dianggarkan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Sekarang sudah dapat dianggarkan honor GTT kita dengan nilai maksimal 20 persen dari anggaran dana BOS. Ini semua berkat perjuangan dan kerja keras PGRI tingkat nasional yang selalu intens mengawal dan memperjuangkan kesejahteraan guru dilapangan,” jelasnya.

Dijelaskan, dari data yang dihimpun pihaknya, jumlah guru se-Kabupaten Busel tidak kurang dari seribu orang. Dimana, 200 diantaranya adalah tenaga pengajar ditingkat SMA/SMK yang kini menjadi gawean Pemerintah Propinsi Sultra.

“Kalau guru TK, SD, dan SMP sederajat di Buton Selatan itu ada sekitar 800 orang lebih. Sementara untuk guru tidak tetap yang mengabdikan diri di Bumi Beradat ini juga terbilang cukup banyak yakni melebihi jumlah guru PNS kita,” tutup ketua PGRI Kabupaten Busel yang kini menjabat sebagai Kadis Perdagangan, Koperasi UKM dan perindustrian Kabupaten Busel. (m2/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.