Pemerintah Diminta Serius Bangun Ekosistem Ekraf Seni Pertunjukan

38
Foto bersama usai penyelenggaraan FGD Ekosistem Ekonomi Kreatif Seni Pertunjukan, disalah satu hotel di Kendari, Minggu (5/12). 

Kendari,rakyatsultra.com – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Sultra menggelar Forum Group Discussion (FGD) tentang “Ekosistem Ekonomi Kreatif Seni Pertunjukan”.

FGD yang diikuti para pegiat seni dari berbagai daerah di Sultra digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Minggu (5/12/2021).

Forum FGD dipandu oleh Rafiuddin selaku perwakilan dari Disparekraf Sultra dengan memfokuskan pembahasan  pada empat sub ekosistem diskusi yakni Market (Pasar), Riset and Development (Penelitian dan Pengembangan), Sumber Daya Manusia (SDM) serta Karya.

Pada sub ekosistem pertama, yakni Market terungkap minimnya dukungan dari pemerintah, ditambah lagi umumnya warga kurang meminati pertunjukan seni.

Menurut ketua salah satu sanggar tari di Kendari, Waode Alfina Hanafi, selama ini pihaknya mendapati kurang terariknya masyarakat pada pertunjukan seni.

“Karenanya untuk menjangkau market, kami sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah. Bukan cuma dengan mengadakan workshop, tapi kami butuh tindakan yang nyata dari pemerintah setelah kegiatan seperti ini,” katanya.

Selanjutnya dari sub ekosistem Riset and Development, yang diwakili oleh Nina Novia Sari. Ia menyebut, ada beberapa tantangan yang dihadapi para pegiat pertunjukan seni.

“Kami melihat seni memiliki banyak tantangan untuk berkembang. Misalnya saja, banyak orang yang kurang tertarik dengan seni itu sendiri. Kemudian dari segi fasilitas, kita belum mempunyai fasilitas yang layak. SDM kita perlu dikembangkan. Kami mengharapkan agar pemerintah bisa membantu, misalnya menginisiasi dengan mengirim pelaku seni ke luar negeri untuk melihat dan belajar perkembangan seni di sana, sehingga kemudian bisa berbagi dengan yang ada di lokal,” jelas wanita yang juga berprofesi sebagai penyiar ini.

Begitu pula, dari sub ekosistem SDM, yang diwakili oleh, Dr. Basrin Melamba  akademisi di Universitas Halu Oleo (UHO). Ia mengatakan, seniman memerlukan gedung dan fasilitas kesenian yang representatif dan mudah diakses.

“Lagi-lagi bagi kami dukungan pemerintah adalah hal yang vital. Pemerintah harus memperhatikan para pelaku seni, misal dengan memberikan beasiswa. Pemerintah juga harus lebih efektif dalam memberdayakan lembaga kesenian. Pegiat seni harus dipermudah aksesnya dalam menggunakan gedung atau teater seni milik pemerintah,” ujarnya.

Dari segi sub ekosistem Karya yang diwakili oleh Dr. Firmansyah menyebut, perihal dan konsep karya itu kembali lagi kepada para pelaku seni itu sendiri.

“Dalam berkarya, pelaku seni, tidak boleh lepas dari yang namanya emotional experience sebagai latar belakang mendapatkan ilham dalam berkarya. Hingga kemudian masuk pada tahap observasi, eksplorasi, improvisasi serta aksi. Hal yang tidak kalah penting juga, karya yang dihasilkan harus mempunyai pesan yang mudah diterima oleh para penikmat,” pungkasnya.

Di akhir sesi kemudian ditutup oleh tanggapan dari Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sultra, Syamsinar.

Ia menuturkan, gagasan awal terselenggaranya FGD ini adalah untuk melihat, mengamati dan menganalisa serta mecari rekomendasi dari para penggiat untuk membangkitkan pertunjukan seni.

Olehnya itu, hasil dari rekomendasi yang diperoleh di forum ini, khususnya soal dukungan pemerintah ini akan diupayakan dan diteruskan kepada pemerintah provinsi. (RS) 

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.