Rektor Unsultra Ingatkan Mahasiswa yang Berorganisasi  Harus Beretika

44
Rektor Unsultra, Prof. Dr.Ir. H. Andi Bahrun bersama para pengurus BEM dan MPM Unsultra. Foto:  Dirma/Rakyat Sultra.

 

KENDARI – Rektor Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Prof. Dr.Ir. H. Andi Bahrun mengingatkan kepada mahasiswa Unsultra untuk menerapkan kode etik dan etika dalam berorganisasi agar dinamika berorganisasi itu ada.

Andi Bahrun menyampaikan ini pada pengukuhan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiawa (MPM) Unsultra periode 2021 -2022 yang dilakukan di Gedung WTC Unsultra, Jumat (3/12/2021).

Katanya, restorasi gerakan mahasiswa harus ada dua paket, yakni idealis dan realis. Bila mampu mengombinasikan dua itu akan sangat baik dalam berorganisasi.

“Saat ini mahasiswa tidak boleh dikebiri, mereka punya hak untuk berekspresi melalui kontrol pemikiran mereka masing-masing. Kemudian harus ditunjang dengan kreativitas dan inovasi yang harus mereka demonstrasikan atau demonstrasi pemikiran gagasan,” ucapnya.

Menurutnya para mahasiswa memiliki kebebasan berekspresi namun perlu dilandasi norma-norma akademik, etika moral, agama, dan wawasan kebangsaan. Artinya, harus dalam etika juga aturan-aturan, sebab aturan memang perlu terus ditegakkan oleh para mahasiswa.

“Untuk itu kita selalu menyampaikan kepada para mahasiswa bila ingin menyampaikan gagasan pemikiran harus dimatangkan dulu, perlu diskusi, harus cari data, cari referensi dan harus ada rujukan. Bila kita melakukan pergerakan atau sebagainya jangan sampai merusak kepentingan umum apalagi merusak fasiltas umum, sebab fasilitas itu dibangun melalui uang rakyat, boleh jadi uang orangtuanya dan uang keluarganya,” ungkapnya.

Prof Bahrun juga mengatkan, kegiatan menyampaikan ekspresi itu perlu, karenanya perlu diberi saluran. Sebab dalam aturan, segala aspirasi itu perlu diprioritaskan melalui forum dialog. Karenanya di Unsultra telah dibangun panggung demokrasi dan panggung kreatifitas dan itulah yang dibangun dan di situlah mereka latihan.

“Sebab saya tak ingin ada demo-demo atau penyampaian aspirasi yang mengganggu aktifitas akademik, apalagi merusak dan membakar ban, itukan dapat merusak lingkungan, membahayakan dirinya dan membahayakan orang lain. Apalagi mereka ini adalah calon pemimpin masa depan. Karena itu mereka harus kita matangkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Andi Bahrun juga menyampaikan bahwa melalui pelantikan yang hikmat, BEM dan MPM Unsultra ke depan harusnya dapat melakukan lompatan-lompatan prestasi dua kali lipat. Bahkan para mahasiswa harus mampu memilah antara tugas BEM, MPM dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Menurut dia, mahasiswa ini perlu dimatangkan dan tanggung jawab universitas membuat program-program sebagai wadah untuk membina, mengembangkan kapasitas mahasiswa baik menyampaikan aspirasi, gagasan, kreatifitas dan solusinya. Selain itu, kedepan BEM dan MPM harus membuat program yang tentu akan memberi efek positif kepada para pengurus maupun mahasiswa lainya. Sebab program mahasiswa adalah dari, oleh dan untuk mahasiswa.

“Namun kewajiban kami, kita inginkan agar semua organisasi mahasiswa dan kemahasiswaan harus mengikuti sekolah kepemimpinan. Bahkan untuk program BEM sebelumnya bakal kita lanjutkan yakni Sultra Camp atau Camp Unsultra. Harapan saya, BEM kali ini bisa lebih baik dari yang lalu, saya tunggu pesona mereka,” pungkasnya. (cr5/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.