Kisah Tragis Ibu dan Anak di Mubar Meninggal Disambar Petir

73

 

Suasana rumah duka MS, warga Desa Labokolo, Kecamatan Tiworo Tengah, Muna Barat. Foto: Erik/Rakyat Sultra.

 

LAWORO – Warga Desa Labokolo, Kecamatan Tiworo Tengah  Kabupaten Muna Barat (Mubar) mendadak geger,

Itu terjadi saat datang kabar duka merundung keluarga MS. Dua warga yang berstatus istri dan anak MS, meninggal disambar petir.

MS tak kuasa menahan tangis menyaksikan kenyataan pilu, Kamis (6/1/2022) tengah malam menjelang dini hari itu, menjadi malam terakhir bersama wanita yang menemaninya hidup berpuluh tahun beserta buah hatinya.

Mau tidak mau, lelaki berumur sekira 53 tahun tersebut, harus merelakan kepergian kedua belahan jiwanya.

Dalam tragedi yang menelan dua korban sekaligus itu, terjadi saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 00.30 WITA.

Wanita berinisial UM (40), meninggal tanpa mengalami luka. Sedangkan, sang anak TFI, bocah 12 tahun, mengalami luka bakar, akibat sambaran petir.

Awalnya, saat bencana datang, MS memboyong istri dan anaknya turun meninggalkan rumah miliknya, mencari tempat aman dibawah gelagar rumah.

Pasalnya, rumah panggung dan pernah mengalami kejadian kediaman mereka rubuh, trauma itu muncul kembali, disaat hujan yang disertai angin kencang serta petir melanda, pilihan untuk keluar dari rumah, menjadi solusi.

“Jadi, kami turun dari rumah dan berlindung di bawah kolong rumah,” pengakuan MS, suami korban, saat ditemui sejumlah awak media di kediamannya.

Kendati begitu, nasib naas dialaminya, saat dirinya mengumandangkan azan di tengah badai tersebut. Belum selesai melafalkan kalam Tuhan itu, istri dan anaknya keluar dari terpal tempat mereka berlindung.

Usai mengumandangkan adzan, ia tak mendengar lagi suara anak dan istrinya. Dirinya cuman melihat keduanya terlempar.

“Anak saya TFI terhempas ditumpukan kayu yang ada di bawah rumah, sementara istri saya juga terhempas keluar dari bawa kolong sambil menggendong anaknya yang kecil,” terangnya dengan mata berkaca.

MS mengaku, saat kejadian istrinya sedang menggendong adik TFI. Sementara, TFI sendiri terpisah dari istrinya.

“Anak yang digendong oleh istri saya tidak apa-apa. Saat istriku tersambar petir, dia melindungi anak yang digendong dengan merangkul dan menutupi anaknya menggunakan jilbab yang dikenakannya. Sementara anaknya yang satu TFI tersambar petir dan mengalami luka bakar,” tuturnya.

Melihat istri dan anaknya tak sadarkan diri usai disambar petir, MS langsung menghubungi warga sekitar. Sebab, rumahnya jauh dari pemukiman padat penduduk. Satu jam kemudian warga sekitar datang melihatnya.

Sementara itu, Kapolsek Tiworo Tengah, IPDA Rahmat Basuki membenarkan telah terjadi bencana alam yang menewaskan dua korban yang berada di wilayahnya itu. Saat mendapatkan laporan, pihaknya bersama anggotanya langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan mengambil keterangan saksi.

“Kita mau visum, namun pihak keluarga menolak dan meminta agar kedua korban langsung dimakamkan,” ungkapnya. (m1/b/aji)

Komentar Pembaca
Baca Juga !
.